Ledakan Bisnis Bike-Sharing Cina, Bagaimana Kansnya di Indonesia?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 24 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Bike-sharing, konsep menyewa sepeda via aplikasi tengah populer di Cina.
tirto.id - Anna Wong melompat-lompat di depan sebuah restoran di sekitar Zijingang Road, Kota Hangzhou, Cina. Ia bermaksud melakukan pemanasan sebelum memacu sepeda jelang hari yang mulai gelap dan suhu dingin yang mulai menusuk kulit pada medio April lalu. Ia hendak menuju ke rumahnya yang bisa ditempuh 15 menit bila berjalan kaki, setelah lelah pulang dari rutinitas kerja.

Anna menghampiri barisan sepeda yang warna-warni di pinggiran taman, dan mendekatkan ponselnya pada QR Code yang menempel di bagian gembok sepeda berwarna kuning.

"Ini model lama, jadi untuk membuka kuncinya harus ditekan tombol," kata warga Kota Hangzhou ini antusias menunjukkan cara menggunakan bike-sharing atau sewa sepeda dengan pembayaran uang digital.


Setelah beberapa tombol angka ditekan, otomatis gembok sepeda membuka, kendaraan roda dua ramah lingkungan ini pun siap digunakan. Sistem penyewaan sepeda berbasis digital memang sedang booming di Cina, termasuk di Hangzhou, beberapa pemain layanan ini cukup banyak, yang menawarkan layanan dengan tarif 0,5 sampai 1 yuan untuk per 30 menit. Pengguna cukup memakai layanan digital payment seperti Alipay hingga WeChat Pay. Setelah sampai tujuan, sepeda bisa ditinggal begitu saja tanpa ada kewajiban mengembalikannya ke lokasi awal.

Semua ini berawal dari kejadian di satu hari di tahun 2014, di Peking University di Beijing, Cina. Serombongan sepeda dengan label “ofo bicycle” yang terparkir rapih di setiap sudut kampus. Para mahasiswa bisa meminjam, untuk keperluan transportasi dalam kampus dengan memanfaatkan aplikasi smartphone.

Sistem peminjaman sepeda yang lalu jadi fenomena dan mendapat julukan “yellow tide” itu, tercipta oleh mahasiswa bernama Dai Wei, yang dibantu rekannya bernama Zhang Siding dan Xue Dong. Wei dan teman-temannya itu bukan tanpa alasan menggagas Ofo. Mereka merupakan mahasiswa anggota unit kegiatan mahasiswa (UKM) bernama PKU Cycling Association, yang mencintai bersepeda dan lantas digabungkan dengan naluri bisnis Wei, hingga tercipta startup bike-sharing bernama Ofo.

“Jauh lebih menyenangkan untuk mendedikasikan apa yang benar-benar Anda nikmati dan menciptakan pekerjaan darinya daripada berburu untuk pekerjaan biasa,” kata Wei sebagaimana termuat dalam laman resmi Peking University.

Bike-Sharing


Bike-sharing atau bicycle-sharing merupakan suatu sistem penyewaan sepeda berbasis aplikasi. Aplikasi digunakan untuk mencari keberadaan dan membuka kunci sepeda yang hendak dipinjam. Tarif umumnya berdasarkan durasi waktu peminjaman, yang akan otomatis tertagih atau terbayar pada aplikasi.

Di Indonesia, bike-sharing salah satunya hadir di pertengahan Maret 2018 lalu di Universitas Indonesia. Bekerjasama dengan Telkomsel, UI menghadirkan sistem bike-sharing, yang dalam laman resmi UI, menggunakan teknologi generasi keempat plus (4+), yang memanfaatkan NB-IoT (Narrowband Internet of Things) guna mengkoordinasikan seluruh Spekun generasi terbaru itu dengan server dan teknologi RFID sebagai sistem dock parkir bagi Spekun.

Menggunakan aplikasi smartphone berbasis Android, para mahasiswa UI bisa meminjam dengan terlebih dahulu memindai QR Code yang tertera di keranjang depan sepeda untuk membuka SmartLock yang terpasang. Dalam tahap awal, UI dan Telkomsel akan menyediakan 20 sepeda, yang menurut rencana akan ditingkatkan jika ujicoba selama satu semester sukses.

“Bila lancar, maka kami harap awal tahun 2019, sistem bike sharing berbasis teknologi ini sudah dapat diterapkan ke seluruh area UI,” kata Rektor UI, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis.

Selain oleh UI, bike-sharing di Indonesia dihadirkan oleh startup bernama oBike. Sebagaimana diwartakan Tech in Asia, startup itu hadir tepat pada akhir Januari 2018 lalu. Sepeda-sepeda yang disediakan oBike secara resmi dapat disewa publik Indonesia seperti di Bali, antara lain Kuta, Legian, dan Seminyak.

Para penyewa harus menggunakan aplikasi mereka berbasis iOS ataupun Android, yang terlebih dahulu wajib diisi (top-up) uang dengan nominal tertentu. Ketika aplikasi dicoba, publik Indonesia bisa melakukan top-up uang antara Rp30 ribu hingga Rp200 ribu. Nantinya, ketika pengguna menyewa sepeda oBike, argo akan berjalan tepat ketika pengguna melakukan pemindaian QR Code pada sepeda yang berfungsi untuk membuka kunci. Argo akan berhenti manakala peminjam mengembalikan dan mengunci sepeda di titik tujuan.

Menggunakan teknologi terbaru, sepeda-sepeda yang disediakan oBike bisa dikembalikan di lokasi bebas, tidak terbatas stasiun sepeda khusus. Namun, jika mereka mengembalikannya di area asing ataupun lupa mengunci sepeda, pengguna memperoleh penalti berupa pengurangan 20 poin dari akun mereka.

Sebelum resmi hadir di Indonesia, oBike secara terbatas hadir terlebih dahulu di Bandung pada akhir 2017 lalu. Kala itu, bekerjasama dengan Indonesia Hotel General Manager Association Chapter Parahyangan (IHGMA Chapter Parahyangan), oBike menyediakan 650 sepeda bertarif Rp4 ribu per 30 menit di beberapa hotel di Bandung untuk digunakan para wisatawan.

oBike merupakan startup bike-sharing asal Singapura. Didirikan oleh Edward Chen pada 2016. oBike mengaspal di jalanan Singapura pertama kalinya pada 13 April 2017. Kala itu, oBike bekerjasama dengan Tampinnes Town Council, menyediakan penyewaan sepeda di lingkungan apartemen. Seiring waktu, oBike jadi besar. Startup yang telah menerima dana investasi sebesar $45 juta dari dua kali founding rounds itu telah beroperasi di 24 negara, termasuk Indonesia.

Infografik bike sharing


Cina Jadi yang Terdepan


Bike-sharing merupakan fenomena di Negeri Tirai Bambu. Dalam publikasi Tech Wire Asia, pasar bike-sharing melesat dari 0 menuju $1,6 miliar hanya dalam waktu delapan tahun di 2017, dengan 200 juta pengguna.

Publikasi Statista memperkuat ledakan dunia bike-sharing. Di tahun 2016, ada 2,3 juta sepeda yang tersedia untuk disewa publik di seluruh dunia memanfaatkan platform bike-sharing. Jumlah tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan 2013. Saat itu hanya ada 700 ribu sepeda yang bisa disewa.

Yang menarik, dari 2,3 juta sepeda yang tersedia di tahun 2016 tersebut, 1,9 juta di antaranya berada di Cina. Cina adalah terdepan di segmen ini. Dengan harga pembuatan satu unit sepeda ditaksir senilai $440, bike-sharing Cina telah menggelontorkan uang sebesar $836 juta untuk menghadirkan sepeda-sepeda untuk disewakan.

Meskipun besar, angka investasi tersebut terbilang kecil, terutama karena ada 430 startup bike-sharing yang lahir di Cina. Ke-430 startup tersebut, memperebutkan ceruk senilai $1,5 miliar di 2017 lalu dan proyeksi senilai $3,5 miliar di 2019 nanti.

Meskipun banyak, ada dua startup yang akhirnya jadi yang terdepan di Cina untuk urusan bike-sharing. Itu ialah Ofo dan Mobike, yang masing-masing telah bernilai lebih dari $1 miliar, alias berstatus unicorn. Ini nampaknya tak terlalu mengejutkan. Masuknya Ofo dan Mobike jadi yang terbesar tak terlepas dari pengaruh Alibaba dan Tencent yang mendukung pendanaan masing-masing startup ini.

Merujuk pemberitaan Forbes, secara tersirat ada dua alasan mengapa ride-sharing berkembang di Cina. Pertama, ialah soal betapa macetnya lalu lintas di kota-kota besar di Cina, terutama bagi orang-orang yang hendak bepergian dalam jarak yang pendek.

“Saya menyewa sepeda untuk pergi ke supermarket karena jarak yang terlalu jauh jika jalan kaki dan terlalu lama jika menunggu bus,” kata Jacky He, warga Cina pada Forbes. “Saya dapat menemukan sepeda di manapun saya inginkan dan saya tidak perlu memikirkan parkir,” lanjutnya.

Dalam laporan yang dipaparkan Ofo, mereka mengklaim bahwa sepeda-sepeda yang mereka sewakan mampu menurunkan tingkat kemacetan Kota Beijing hingga 4,1 persen di kuartal II-2017. Salah satu alasan mengapa tingkat kemacetan bisa terjadi adalah efisiensi.

“Sepeda yang kami sewakan di kota bisa digunakan lebih dari 10 kali. Dengan hanya 400 unit saja, sulit membayangkan dampaknya,” kata Grace Lin, salah satu petinggi Ofo.

Kedua, mengapa bike-sharing meledak di Cina adalah persoalan data. Perusahaan-perusahaan teknologi Cina, rela menggelontorkan uang yang besar karena iming-iming memperoleh data tingkah laku penggunanya. Tencent, menggelontorkan uang senilai $100 juta pada Mobike pada 30 September 2016 lalu. Sementara Alibaba, membenamkan uang senilai $700 juta dan $866 juta dalam dua kali pendanaan pada Ofo.

“Layanan bike-sharing merupakan strategi penting bagi Alibaba dan Tencent, inilah cara mereka memperoleh data tentang pelanggan mereka,” kata Zhou Wei, pendiri China Creation Ventures.

Namun, selain dua alasan tersebut, kuatnya Cina di segmen bike-sharing dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Cina atas sistem pembayaran digital. Dari mulai memberi tip pada musisi jalanan hingga makan di warung pinggir jalan, mereka telah terbiasa melakukannya menggunakan sistem pembayaran berbasis aplikasi smartphone seperti WeChat Pay dan Alipay.

Pada 2016 lalu, uang senilai $5 triliun berputar dalam transaksi digital di Cina, dengan dua pemain utama yang berkuasa, yakni WeChat Pay dan AliPay. WeChat Pay punya 963 juta pengguna aktif bulanan, disusul oleh AliPay yang punya 520 juta pengguna aktif bulanan.


Kebiasaan menggunakan digital payment memudahkan warga Cina beradaptasi dengan keberadaan bike-sharing, yang mewajibkan para penyewanya membayar via aplikasi. Layanan digital payment di Cina telah mendukung penuh bike-sharing. WeChat misalnya, menurut Tech in Asia, aplikasi WeChat Pay memiliki tombol khusus “bicycle”, yang memudahkan pengguna menyewa sepeda dari startup bike-sharing.

Apa yang terjadi di Cina saat ini bisa jadi inspirasi, bagaimana konsep ride-sharing tak hanya soal sepeda bermotor yang memang lebih populer di Indonesia dengan pemain utama Go-Jek dan Grab. Mulai masuknya pemain startup di bisnis bike-sharing dan uji coba di kampus UI, bisa jadi sebagai awal booming dari layanan bike-sharing yang lebih dulu meledak di Cina. Tentu, untuk sampai di situ, kuncinya ada pada sistem pembayaran digital atau digital payment.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin & Suhendra
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
a