QR Code, Berawal dari Kasir Menuju Digital Payment

Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
QR Code atau Quick Response Code merupakan salah satu jenis kode batang yang berguna untuk berbagai keperluan.
tirto.id - Suatu hari di tahun 2014, Evan Spiegel, pemuda yang menciptakan SnapChat, pergi ke Cina, negeri yang melahirkan WeChat. Selama di Cina, Spiegel banyak menemukan para pengguna WeChat yang memanfaatkan fitur QR Code. Suatu fitur pemindai yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan banyak hal: bertukar kontak, berinteraksi dengan brand atau selebritis, hingga membeli barang atau makanan.

Spiegel, mengutip artikel yang ditulis David Pierce di Wired, terkesan dengan fitur tersebut. Sekembalinya dari Cina, ia lalu mendatangi Scan, startup asal Utah yang memiliki produk QR Reader bagi pengguna iPhone. Tanpa berpikir panjang, Spiegel membeli startup tersebut senilai $54 juta dan menggiring semua stafnya untuk satu tugas: mempersenjatai Snapchat dengan fitur QR Code. Pada 2015, SnapChat memperkenalkan Snapcode, yang kemudian secara cepat meraih popularitasnya.

“Gedung Putih membuat Snapcode, meletakkannya di whitehouse.gov dan dijadikan profil pictures di akun resmi Twitter mereka,” kata Kirk Ouimet, pendiri Scan.

Pada tahun 2017, setidaknya tercipta 8 juta pemindaian menggunakan Snapcode tiap harinya. Ia digunakan mulai dari membuka filter pada aplikasi SnapChat, membuka situsweb, hingga menambahkan teman.

QR Code atau Quick Response Code merupakan salah satu jenis kode matriks atau kode batang. Umumnya, kode batang ditempelkan pada suatu barang atau benda. Dengan memanfaatkan alat pemindai, informasi tentang barang atau benda kemudian bisa didapatkan.

QR Code mudah ditemukan di aplikasi-aplikasi smartphone dengan gunanya yang berbeda-beda. WeChat dan SnapChat, sebagaimana disinggung di atas, menggunakan QR Code untuk menambahkan kontak hingga berbelanja. WhatsApp memiliki fitur ini sebagai bagian autentifikasi jika penggunanya ingin mengaktifkan fitur WhatsApp Web atau Desktop. Sementara aplikasi-aplikasi lainnya, umumnya memanfaatkan QR Code sebagai shortcut atau jalan pintas terhubung ke suatu link atau situsweb.

Mengutip berita yang diunggah Gizmodo, 20 persen warga Amerika, 16 persen warga Kanada, serta 12 persen warga Spanyol dan Inggris yang memiliki smartphone menggunakan QR Code.

Meskipun QR Code kini identik dengan smartphone, awal mula penciptaannya justru berhubungan erat dengan dunia ritel. Saat itu, pada dekade 1960an Jepang mengalami pertumbuhan industri ritel. Supermarket dijejali barang dan pembeli datang berbondong-bondong, menyebabkan antrean panjang di kasir. Aplikasi POS (point of sale) dan Barcode yang telah ada dan digunakan, tak mampu mengantisipasi perkembangan tersebut. Salah satu alasannya, kasir perlu memasukkan kode Barcode secara manual sebagai proses menghitung barang belanjaan yang dibeli konsumen. Antrean mengular tak bisa dihindarkan.

Secara sederhana, mengutip laman resmi pengembangan QR Code, perlu teknologi baru untuk menangani masalah tersebut, sehingga bisa memangkas waktu menghitung barang belanjaan.

Adalah Masahiro Hara yang bekerja untuk Denso Wave, anak usaha Toyota yang berhasil membawa penyelesaian masalah tersebut pada tahun 1994. Hara, sukses menciptakan kode matriks atau kode batang dua dimensi, yang merupakan pengembangan dari kode batang satu dimensi, seperti Barcode.

Pada kode batang satu dimensi seperti Barcode, informasi hanya bisa dikodekan melalui satu arah. Sementara bagi kode batang dua dimensi, informasi bisa dikodekan dua arah: menyilang dan atas/bawah. Barcode sendiri hanya mampu menampung 20 karakter alfanumerik. Sementara QR Code, melipatkan kemampuan itu hingga 100 kali lipat.

QR Code punya satu bagian paling fundamental untuk bekerja. Bagian itu bernama data modules atau modul data. Secara sederhana, ia merupakan blok-blok hitam dan putih yang menyusun QR Code dari pojok kanan bawah, meliuk hingga ke pojok kiri bawah. Membentuk baris dan kolom. Di modul data itulah informasi disimpan. Versi paling awal dari QR Code berukuran 21 x 21 piksel, yang mampu memuat empat jenis alfanumerik: numerik, alpanumerik, binari, dan kanji.

Jika QR Code dipecah, terdapat enam bagian utama pembentuk teknologi pemindai itu, yakni: Position Markers (untuk mengidentifikasi di mana ujung kode batang tersebut), Timing Patters (untuk mengidentifikasi posisi baris dan kolom), Version Number (untuk mengidentifikasi penomeran dari kode), Format (untuk mengidentifikasi tipe konten, seperti link atau teks), Alignment Marker (untuk mengidentifikasi titik seimbang), dan Data in Modules (untuk membantu pemindai mengekstraksi data yang disimpan QR Code).

Infografik Quick response code


Pembayaran Digital

Karena menampung lebih banyak informasi dibandingkan Barcode, QR Code digunakan lebih luas dari pendahulunya itu. Salah satu yang populer kini ialah penggunaan QR Code sebagai bagian dari digital payment atau pembayaran digital.

Jaesik Lee, dalam papernya berjudul “Secure Quick Response-Payment System Using Mobile Device” mengatakan bahwa pemanfaatan QR Code merupakan pengembangan sistem pembayaran fisik yang memanfaatkan metode elektronik. Dengan hanya menggunakan kamera smartphone, sistem digital payment bisa digunakan untuk pembayaran fisik.

Digital payment punya satu kelemahan, yakni sukar digunakan untuk bertransaksi offline. Sebelum QR Code digunakan, transaksi offline yang menggunakan digital payment memanfaatkan teknologi bernama RFID, suatu teknologi radio yang digunakan untuk berinteraksi antar perangkat. Sayangnya, tidak semua smartphone --yang digunakan digital payment-- memiliki RFID. Dan dari sisi penjual atau merchat, perlu alat khusus. Solusi yang tersedia, memanfaatkan QR Code sebagai penengah antara digital payment dan dunia offline.

Jerry Gao, dalam papernya berjudul “A 2D Barcode-Based Mobile Payment System” mengatakan bahwa ada dua pendekatan pemanfaatan QR Code sebagai bagian dari digital payment. Itu ialah POS (poin of sale) based dan mobile user based. Pada POS based, kode QR Code dikeluarkan si penjual untuk kemudian dipindai pembeli. Mobile user based sebaliknya.


Salah satu negara yang sukses menerapkan QR Code sebagai bagian dari digital payment ialah Cina. Evelyn Cheng, jurnalis CNBC, dalam kunjungannya ke Cina menerangkan bahwa negara itu telah bertransformasi menjadi negara yang sangat mengandalkan digital payment. Cina, menurutnya sedang mengalami “badai perubahan pembayaran mobile.” Alih-alih bertanya “apakah Anda memiliki kartu kredit,” kasir-kasir di Cina malah bertanya “apakah Anda memiliki Alipay atau WeChat Pay?” Hampir segala toko, mendukung konsep pembayaran digital dan menggunakan QR Code sebagai penengah antara digital dan offline.

“Ketika makan di luar atau berbelanja dengan teman lokal, mereka membayar dengan memindai QR Code di meja restoran atau dengan menunjukkan QR Code di smartphone mereka ke kasir. Toko rempah-rempah, toko suvenir, dan penjual kaligrafi tradisional Cina semuanya memiliki tanda yang mengatakan bahwa mereka menerima pembayaran mobile,” tulis Cheng.


Cina memang sedang mengalami “ledakan” soal digital payment. Di tahun 2016 lalu, uang senilai $5 triliun berputar dalam transaksi digital, dengan dua pemain utama yang berkuasa, yakni WeChat Pay dan AliPay. WeChat Pay sendiri punya 963 juta pengguna aktif bulanan, disusul oleh AliPay yang punya 520 juta pengguna aktif bulanan.




Di Indonesia, konsep digital payment yang memanfaatkan QR Code masih dalam proses tarik ulur. Go-Jek melalui Go-Pay, pada 11 Januari 2018 lalu harus rela menghentikan sistem pembayaran berbasis QR Code itu lantaran terkendala izin. Meskipun kemudian Go-Jek mengalah dan lantas mengajukan izin, tak ada perkembangan berarti sampai mana izin tersebut terurus. Hingga kini, sangat jarang atau bahkan tidak terlihat toko yang mendukung pembayaran dengan QR Code. Indonesia tertinggal dari Cina.

Baca juga artikel terkait TRANSAKSI NONTUNAI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti