Menuju konten utama

Lebaran Tanpa Mudik: Tradisi Merayakan di Tengah Tekanan Ekonomi

Pakar UI, Rissalwan mengatakan mudik bukan sekadar perjalanan emosional, tetapi juga “peristiwa ekonomi”.

Lebaran Tanpa Mudik: Tradisi Merayakan di Tengah Tekanan Ekonomi
Foto udara kendaraan pemudik antre untuk melintas saat penerapan sistem satu arah di Gerbang Tol (GT) Kalikangkung, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (18/3/2026). Korlantas Polri mulai memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa skema satu arah (one way) nasional arus mudik dari KM 70 GT Cikampek Utama Jakarta-Cikampek hingga KM 414 GT Kalikangkung Semarang-Batang pada Rabu (18/3) pukul 10.00 WIB hingga Jumat (20/3) pukul 00.00 WIB yang akan berlaku selama 24 jam sebagai upaya memperlancar arus balik mudik Lebaran 1447 H. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - 2026 bukan menjadi tahun pertama Nugi menjalani lebaran sendiri. Selama enam tahun bekerja di Jakarta, perantau asal Batam ini hanya pernah sekali pulang saat lebaran di 2024. Di tahun-tahun awal bekerja, keputusan Nugi lebih banyak dipengaruhi faktor ekonomi, kebijakan pekerja baru di kantornya yang mengharuskan dirinya mengambil piket saat hari Raya.

Kesempatan pulang dua tahun lalu membuat perspektif tentang mudik berubah di mata Nugi. Dia tak siap dengan perjalanan waktu yang begitu cepat dan kondisi keluarga yang tak lagi sama. Ketidakhadirannya selama beberapa tahun membuat adik yang dulu kecil kini sudah dewasa. Lingkungan berubah, teman-teman lama sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing.

“Saat pulang ke rumah, saya marasa dinamikanya sudah berubah,” kata pria 30 tahun ini saat dihubungi Tirto, Minggu (15/3/2026).

Tak berbeda jauh dengan Nugi, pemudik asal Sukabumi, Jawa Barat, juga memutuskan tak mengambil jatah liburnya di hari Lebaran. Bagi Dianti, insentif yang diberikan perusahaan saat Lebaran menyetor pundi-pundi besar ke tabungannya bahkan dibandingkan gajinya biasanya.

Awalnya tuntutan, pilihan tak mudik kini membuatnya memaknai ulang arti Lebaran. Dia memilih tak melihat idul fitri sebagai tanggal yang kaku. Berkumpul bersama keluarga adalah sebuah momen yang fleksibel, bisa dilakukan kapan pun, tak terpaku pada waktu tertentu.

Lalu lintas yang padat di periode lebaran juga menjadi alasan kuat dirinya tak mudik. Toh, teknologi canggih sudah ditemukan di zaman ini. Silaturahmi melalui panggilan video menjadikan jarak sudah bisa diatasi.

“Lebaran itu kan berkumpul bersama keluarga. Kalau saya pulangnya tiga hari setelah lebaran, ya itu lebaran saya,” ujar Dianti, Minggu.

Secara sosiologis, tradisi mudik tumbuh seiring dengan fenomena urbanisasi yang dalam sejarahnya dipicu oleh perubahan besar seperti revolusi pertanian dan arah pembangunan yang cenderung berpusat di kota. Peluang kerja yang semakin terbatas di desa mendorong banyak orang merantau, meninggalkan kampung halaman sebagai titik awal kehidupan mereka.

Lebaran kerap menjadi momentum yang pas karena didukung libur atau tak masuk kerja. Ada keterikatan emosional yang kuat dengan daerah asal, sehingga saat kosong, kampung halaman diingat sebagai bagian dari identitas sosial dan kultural.

“Sebagai masyarakat yang kolektivitasnya masih kental, mudik merupakan ajang pulang ke rumah yang sesungguhnya,” tutur Sosiolog Universitas Indonesia (FISIP UI), Ida Ruwaida kepada Tirto.

Di banyak negara, perjalanan pulang saat hari besar bukan hal yang asing karena kerap dijadikan momen liburan keluarga. Tahun Baru di Cina, misalnya, atau tradisi pulang kampung di beberapa negara Asia lainnya, juga menghadirkan fenomena serupa.

Namun di Indonesia, mudik memiliki karakter yang khas karena tidak dimiliki oleh kelompok agama tertentu, tidak juga oleh etnis tertentu. Yang membuatnya kuat justru karena ia hidup di level pengalaman masa kecil yang ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui ingatan.

Tentang bagaimana masa kecil diisi dengan perjalanan pulang, bertemu keluarga besar, dan merasakan hangatnya kebersamaan.

“Boleh dibilang ini bukan tradisi kelompok agama tertentu juga gitu. Katakan lah misalkan ada NU, Muhammadiyah, tidak. Jadi polanya sama,” kata Pengamat Sosial UI Rissalwan Habdy Lubis.

Mudik Juga Peristiwa Ekonomi

Nugi menjadi salah satu di antaranya banyak orang yang pernah tak pulang karena alasan ekonomi. Gaji yang bahkan kurang untuk memenuhi biaya hidup tak bisa dipaksa menutup ongkos dan tuntutan sosial.

Rani misalnya, yang kerap mengalami ketakutan tiap kali menghadapi lebaran. Kondisinya yang belum cukup mapan harus dipaksa memberikan tunjangan hari raya (THR) kepada saudara-saudaranya. Titel ‘bekerja di Jakarta’ seolah menjadi stereotip warga kampungnya di Lampung. Pertanyaan ‘kapan’ juga tak bisa terhindarkan.

Shalat Idul Fitri 1447 H di Surabaya

Umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 H di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (21/3/2026). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/nym.

“Tiap tahun emang pulang, tapi ya gitu agak males. Kalau ngga pulang kasihan orang tua, kalau pulang harus siap segalanya,” kata Rani.

Apabila ditelisik, berdasarkan prediksi Kementerian Perhubungan (Kemenhub), jumlah pemudik pada momen Lebaran 2026 mencapai 143,9 juta orang. Tapi angka tersebut turun 1,75% dibandingkan proyeksi tahun lalu yang mencapai 146,4 juta orang.

Pakar UI, Rissalwan, menilai keputusan sebagian masyarakat tak pergi mudik pasti telah dipertimbangkan dengan alasan yang rasional. Pasalnya, mudik bukan sekadar perjalanan emosional, tetapi juga “peristiwa ekonomi”.

Mudik bukan hanya soal tiket perjalanan. Ada biaya yang ongkos pergi-pulang, kebutuhan keluarga selama perjalanan, hingga “buah tangan” yang secara sosial seolah menjadi kewajiban tak tertulis. Makin besar keluarga, makin besar pula biaya yang harus ditanggung.

Di sisi lain, tekanan ekonomi membuat banyak pekerja harus berpikir ulang. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, risiko kehilangan pekerjaan menjadi pertimbangan serius. Bagi sebagian orang, tetap bekerja saat Lebaran bukan pilihan, melainkan kebutuhan.

Lebaran Tanpa Mudik Bukan Lagi Masalah Besar, Tapi Memiliki Makna

Tak sedikit perantau yang merasa asing saat kembali ke kampung halaman. Sawah tempat bermain masa kecil mungkin telah berubah menjadi perumahan atau pabrik, lingkungan sosial pun mengalami pergeseran.

Rissalwan menilai mudik juga peristiwa spiritual dan budaya. Mudik menjadi ruang untuk merawat nostalgia, merasakan pengalaman yang menghubungkan waktu, emosi, dan identitas diri.

Seiring perkembangan zaman, mudik juga mengalami transformasi digital. Cara orang bersilaturahmi, bersalaman, atau mengekspresikan maaf mungkin berbeda-beda.

Di era digital, tidak mudik bukan berarti kehilangan makna Lebaran. Banyak keluarga kini merayakan kebersamaan melalui teknologi video call, pesan grup, hingga pertemuan virtual.

“Tetapi tetap, saya kira momen lebaran akan menjadi penting bagi keluarga ya,” kata Rissalwan.

Aroma masakan khas, suasana rumah lama, hingga rasa makanan yang berbeda di tanah asal menjadi bagian penting dari pengalaman mudik. Keberlangsungan mudik sangat ditentukan oleh siapa yang menjaga tradisi tersebut.

“Secara sosiologis, sekali lagi ini terkait dengan konsepsi diri tentang identitas,” kata Ida.

Selama orang tua masih menanamkan pentingnya pulang kampung, atau komunitas asal daerah masih aktif mengorganisir kegiatan seperti mudik bersama, tradisi ini akan terus hidup.

Arus mudik Lebaran 2026

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Tol Jakarta Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Rabu (18/3/2026). PT Jasamarga memprediksi pada Rabu (18/3) merupakan puncak arus mudik dengan proyeksi secara keseluruhan sekitar 3,5 juta kendaraan akan keluar dari Jakarta melalui jalan tol dengan mayoritas mengarah ke timur atau Transjawa. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/foc.

Bagi sebagian orang, tidak mudik bisa terasa seperti kehilangan sesuatu yang penting. Namun bagi yang lain, terutama yang tidak memiliki keterikatan kuat, makna Lebaran tetap bisa dirasakan tanpa harus pulang.

Di tengah perubahan zaman, makna “pulang” tidak selalu harus diwujudkan secara fisik. Namun selama masih ada keterikatan baik pada keluarga, kenangan, maupun identitas mudik akan tetap menemukan bentuknya meski cara yang terus berubah.

Baca juga artikel terkait MUDIK atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama