Menuju konten utama

Lawan Stigma Masyarakat, Linda Mantap Pilih Sekolah Rakyat

Bagi keluarga Linda, pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan ekonomi.

Lawan Stigma Masyarakat, Linda Mantap Pilih Sekolah Rakyat
Linda Martini, orang tua siswa dari Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok, Sumatera Barat. (FOTO/dok.Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Keberadaan Sekolah Rakyat masih kerap disertai stigma, terutama dari masyarakat yang belum memahami konsep dan tujuan program tersebut. Hal itu pula yang dialami Linda Martini, warga Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang, Solok, ketika memutuskan menyekolahkan putrinya, Tita Martalita, ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok, Sumatera Barat.

“Masa anak berprestasi dimasukkan ke Sekolah Rakyat? Itu sekolah percobaan,” ujar Linda, menirukan komentar tetangga dan kerabatnya yang meragukan pilihannya.

Namun cibiran itu tak mengubah pendirian Linda. Ia yakin jalan yang ditempuhnya akan memberi masa depan lebih baik bagi Tita. “Biar kita dihina orang, asalkan anak maju,” katanya berulang kali.

Bagi keluarga Linda, pendidikan menjadi satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan ekonomi. Suaminya, Mardaus, bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan Rp50–75 ribu per hari. Ketika tak ada pekerjaan, mereka berdua turun ke sungai untuk mengumpulkan batu, lalu mendorong gerobak hingga ke jalan besar untuk dijual. Satu tumpukan batu bahkan bisa menunggu berbulan-bulan hingga laku.

Dengan pendapatan yang pas-pasan, Linda dan suami memutuskan untuk memprioritaskan pendidikan anak-anak mereka. Anak pertama tak bisa melanjutkan kuliah karena biaya. Anak kedua bersekolah di pondok pesantren, dan Linda menghemat pengeluaran dengan mengantar makanan setiap hari.

Tita, anak ketiga, dikenal tekun mengaji dan menghafal Alquran sejak usia empat tahun. Ketika diterima di Sekolah Rakyat, Linda melihat kesempatan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Anak saya jangan berakhir seperti saya. Saya cuma tamat SMP, bapaknya SD. Kalau kami tak mampu, biarlah anak kami yang membawa kami maju,” ujarnya.

Lima bulan bersekolah di SRMP 5 Solok, Linda menyaksikan perubahan besar pada putrinya. Di rumah, Tita hanya bisa makan daging ayam atau sapi sebulan sekali. Di sekolah, ia mendapatkan makanan bergizi setiap hari, tidur cukup, jadwal belajar teratur, dan tetap menjalankan ibadah dengan baik.

“Mana bisa kami kasih makan ayam tiap hari? Di sini Tita makan cukup. Istirahat cukup. Belajar cukup. Kami merasa sangat terbantu,” ucap Linda.

Stigma yang dulu menghantam keluarganya perlahan mereda. Linda kini tak lagi memikirkan ucapan orang. Ia hanya melihat perkembangan Tita dari dekat dan memeluk keyakinannya sendiri. “Biar sekarang orang menghina. Mudah-mudahan besok orang menengok kami,” katanya lirih.

Tita bermimpi menjadi dokter, sebuah impian yang bahkan tak pernah berani dibayangkan Linda ketika putrinya masih kecil, karena bagi mereka kuliah adalah kemewahan.

“Terima kasih kepada Pak Prabowo. Orang miskin seperti kami bisa sekolah, bisa makan, bisa bermimpi. Terima kasih sudah membantu rakyat kecil,” ucap Linda.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis