Menuju konten utama

Laba TOWR Naik 12,4% Jadi Rp1,86 Triliun di Semester I 2026

TOWR semester I 2026 mencatat pendapatan Rp7,2 triliun dan laba Rp1,86 triliun.

Laba TOWR Naik 12,4% Jadi Rp1,86 Triliun di Semester I 2026
Direktur dan Group Investor Relations PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) Hartono Tanuwidjaja saat Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp7,206 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sementara laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp1,857 triliun atau naik 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan paparan Public Expose Live 2026 TOWR, pendapatan perseroan pada semester I 2025 tercatat Rp6,394 triliun. Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk pada periode tersebut sebesar Rp1,652 triliun.

Selain itu, TOWR membukukan EBITDA sebesar Rp5,579 triliun pada semester I 2026, tumbuh 4,8 persen yoy dari Rp5,324 triliun. Namun, margin EBITDA turun dari 83,3 persen pada semester I 2025 menjadi 77,4 persen pada semester I 2026.

Director and Group Investor Relations PT Sarana Menara Nusantara, Hartono Tanuwijaya, mengatakan pertumbuhan pendapatan perseroan pada semester I 2026 mencapai dua digit.

“Year on year revenue kita tumbuh sangat sehat di double digit 12,7 persen, EBITDA grow 4,8 persen di sini dengan kami memberikan catatan growth dari EBITDA ini memang dibawa dengan revenue growth yang 12,7 persen,” kata Hartono dalam Public Expose Live 2026, Selasa, (8/09/2026).

Hartono menjelaskan, pertumbuhan EBITDA yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan tidak menunjukkan pelemahan pertumbuhan bisnis. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh konsolidasi kinerja PT Bach Multi Global (BAH) yang mulai dilakukan TOWR pada tahun ini.

“Karena kami mulai tahun ini sudah mengkonsolidasi performance dari BAH ya, dimana bisnis modelnya dari BAH itu sedikit berbeda dengan kami punya tower dan fiber dimana mereka generate cost structurenya generate lower EBITDA margin,” ujarnya.

“Jadi memang bukan karena kita turun growthnya tapi karena memang efek dari konsolidasi BAH yang mempunyai cost structure yang berbeda jadi tetap secara absolut kita lihat bertumbuh dengan sehat,” lanjut Hartono.

Dari sisi segmen usaha, bisnis non-tower semakin menjadi pendorong pertumbuhan TOWR. Pendapatan bisnis tower tercatat turun 3,3 persen yoy, sedangkan fiber-to-the-tower (FTTT) tumbuh 3 persen dan fiber-to-the-home (FTTH) tumbuh 2 persen.

Sementara itu, bisnis connectivity mencatat pertumbuhan paling tinggi di antara segmen tersebut, yakni 33,8 persen yoy. Adapun bisnis adjacent tumbuh lebih dari 100 persen. Perseroan menyebut pertumbuhan connectivity didukung peningkatan kebutuhan bandwidth dari pelanggan enterprise, sedangkan pertumbuhan bisnis adjacent berkaitan dengan perubahan status pengendalian PT Bach Multi Global pada awal 2026.

Dari sisi operasional, jumlah menara TOWR mencapai 36.892 unit pada semester I 2026, naik 3 persen dari 35.825 unit pada semester I 2025. Jumlah tenant meningkat 5 persen menjadi 61.038 tenant dari sebelumnya 58.158 tenant. Rasio tenancy juga naik dari 1,62 kali menjadi 1,65 kali.

Sementara total jaringan fiber mencapai 182.559 kilometer atau tumbuh 6,8 persen yoy. FTTT yang menghasilkan pendapatan mencapai 234.665 kilometer, naik 6,7 persen. Untuk FTTH, jumlah homepass mencapai 1.857.328 atau tumbuh 4,1 persen, sedangkan jumlah home paid mencapai 376.641 atau melonjak 77,9 persen. Bisnis connectivity mencatat 28.153 aktivasi, naik 48,9 persen yoy.

Selain mencatat pertumbuhan kinerja, TOWR juga memiliki visibilitas pendapatan jangka panjang melalui kontrak yang telah dikantongi perseroan.

Hartono mengatakan remaining contracted revenue TOWR telah mencapai lebih dari Rp100 triliun. Pendapatan kontraktual tersebut berasal dari kontrak jangka panjang yang tidak dapat dibatalkan.

“Kita punya business modal dan long term business contract non-cancellable contract dimana kami saat ini remaining contracted revenue break high di lebih dari 100 triliun saat ini jadi memberikan lebih banyak kepastian atas revenue di tahun-tahun mendatang dan juga cash flow-nya lebih terpredict,” kata Hartono.

Ia menambahkan nilai kontrak tersebut setara dengan sekitar sembilan tahun pendapatan perseroan.

“Kita lihat bahwa 100 triliun ini equivalent ke 9 tahun daripada revenue kami,” ujarnya.

Dalam paparannya, TOWR mencatat contracted revenue meningkat hampir dua kali lipat dari Rp52 triliun pada 2020 menjadi sekitar Rp100 triliun pada semester I 2026. Pendapatan yang telah dikontrakkan tersebut merupakan pendapatan masa depan yang telah diamankan melalui kontrak yang berlaku hingga 2045.

Sekitar 74 persen contracted revenue berasal dari segmen tower. Sementara contracted revenue dari segmen non-tower mencapai Rp26 triliun.

Perseroan juga menyebut contracted revenue saat ini setara dengan sekitar sembilan tahun pendapatan pada tahun buku 2025 serta sekitar 2,2 kali saldo pinjaman semester I 2026.

Di tengah ekspansi bisnis dan pertumbuhan pendapatan, TOWR juga mencatat penurunan rasio net debt terhadap EBITDA. Pada semester I 2026, rasio net debt terhadap last quarter annualised (LQA) EBITDA berada di level 3,94 kali, turun dari 4,65 kali pada semester I 2025.

Hartono mengatakan posisi tersebut masih berada di bawah batas covenant yang dimiliki perseroan dengan kreditur.

“Dari maksimal 5 kali kami saat ini sangat comfort dibawah 4 kali, tepatnya 3,94 kali jadi masih banyak room untuk grow daripada sisi leverage,” kata Hartono.

Dalam paparan investor, TOWR mencatat net debt perseroan sebesar Rp44,1 triliun, sedangkan contracted revenue mencapai sekitar Rp100,1 triliun. Perseroan juga mencatat interest coverage ratio sebesar 4,58 kali dan blended financing cost sebesar 5,55 persen.

Hartono mengatakan TOWR tidak memiliki urgensi untuk mempercepat pelunasan utang karena posisi net debt saat ini masih berada di bawah batas covenant.

“Kami punya covenant dengan creditors kan net debt di 5 kali, sedangkan saat ini kami sangat nyaman dan sudah cukup nyaman dengan net debt di bawah 4 kali. Jadi kami tidak ada urgency untuk pelunasan hutang lebih cepat,” kata Hartono.

Menurutnya, perseroan tetap mengatur penggunaan arus kas untuk menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan bisnis, pembayaran utang, serta pengembalian kepada pemegang saham.

TOWR mencatat operating cash surplus sekitar Rp4,9 triliun pada semester I 2026. Dana tersebut dialokasikan untuk tiga kebutuhan utama, yakni reinvestasi untuk mempertahankan pertumbuhan, pembayaran kewajiban utang dan bunga, serta shareholder return.

Reinvestasi mencapai Rp2,691 triliun yang terdiri dari belanja modal Rp2,019 triliun, general ledger Rp625 miliar, dan akuisisi Rp47 miliar. Sementara alokasi untuk debt and interest mencapai Rp1,549 triliun, termasuk net interest Rp1,294 triliun.

Baca juga artikel terkait EMITEN atau tulisan lainnya dari Nanda Surya

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Surya
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana