tirto.id - PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) membukukan laba bersih Rp193 miliar pada semester I 2026, menyusut 14,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan laba terjadi di tengah pertumbuhan pendapatan dan ekspansi kapasitas rumah sakit.
Pendapatan HEAL pada semester I 2026 mencapai Rp3,61 triliun, tumbuh 6,5 persen secara tahunan (year on year/yoy). Jika hanya menghitung bisnis rumah sakit, pertumbuhan pendapatan mencapai 8 persen dibandingkan semester I 2025.
Direktur Keuangan HEAL Yustinus Emmanuel Herawan mengatakan pertumbuhan pendapatan terutama didorong peningkatan volume pasien dan intensitas rawat inap.
“Pendapatan tumbuh terutama didorong oleh peningkatan volume secara umum dan intensitas rawat inap,” kata Yustinus dalam Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Pertumbuhan tersebut turut ditopang penambahan kapasitas tempat tidur. Pada kuartal I 2026, Hermina menambah 353 tempat tidur sehingga total penambahan dibandingkan semester I 2025 mencapai 732 tempat tidur.
Hingga semester I 2026, jumlah tempat tidur yang beroperasi mencapai 9.019 dengan tingkat keterisian atau bed occupancy ratio (BOR) sebesar 68 persen. Jumlah pasien rawat inap tumbuh 6 persen secara tahunan, sedangkan hari rawat inap meningkat 8 persen. Pasien rawat jalan juga tumbuh 9 persen secara tahunan.
Pertumbuhan aktivitas rawat inap menjadi salah satu penopang pendapatan. Pendapatan dari layanan tersebut meningkat sekitar 12 persen secara tahunan, didukung kenaikan pendapatan per hari rawat inap untuk pasien BPJS dan non-BPJS masing-masing 6,5 persen dan 7,1 persen.
Meski pendapatan tumbuh, tekanan biaya akibat ekspansi membuat laba bersih HEAL tertekan. Yustinus mengatakan penurunan laba terutama dipicu kenaikan beban penyusutan dari penambahan tempat tidur, baik di rumah sakit baru maupun yang sudah beroperasi, serta pengadaan peralatan medis.
“PATMI tercatat sebesar Rp193 miliar, atau turun 13,8 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Yustinus.
Selain penyusutan, penambahan kapasitas rumah sakit juga meningkatkan biaya operasional, termasuk tenaga kerja, pemeliharaan, utilitas, dan biaya operasional lainnya. Kondisi tersebut membuat EBITDA HEAL relatif stagnan di sekitar Rp940 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hermina Badung Bali yang mulai beroperasi pada kuartal II 2026 turut menambah beban operasional. Seiring dimulainya operasional rumah sakit tersebut, biaya tenaga kerja, utilitas, dan biaya lainnya mulai dibebankan pada periode berjalan.
Meski demikian, perseroan masih mencatat sejumlah perbaikan efisiensi. Biaya tenaga kerja per tempat tidur turun 1,6 persen, sementara jumlah karyawan per tempat tidur berkurang 2,6 persen.
Dari sisi margin, laba kotor HEAL meningkat menjadi Rp1,24 triliun dengan margin sekitar 34,2 persen. Perseroan juga meningkatkan margin farmasi dari 27 persen menjadi 31 persen.
Tekanan terhadap laba bersih juga berkaitan dengan metode penyusutan aset tetap yang digunakan HEAL. Perseroan menerapkan metode double declining balance untuk sebagian besar aset tetap, sehingga penambahan belanja modal memberikan beban penyusutan yang lebih besar pada tahap awal.
“Setiap penambahan belanja modal akan memberikan tekanan yang lebih besar terhadap PATMI pada saat akuisisi awal dilakukan,” ujar Yustinus.
Kendati laba bersih tertekan, manajemen menilai kinerja semester I 2026 tetap berjalan baik. Perseroan juga mempertahankan optimisme terhadap pertumbuhan bisnis hingga akhir tahun dengan tetap mengedepankan kehati-hatian selama fase ekspansi.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































