tirto.id - PT Astra International Tbk (ASII) mencatat penurunan laba dari bisnis yang berjalan secara rutin sebesar 7 persen, menjadi Rp14,9 triliun pada semester I 2026. Sementara itu, apabila seluruh keuntungan dan kerugian termasuk pos yang tidak berulang diperhitungkan, laba bersih Astra tercatat Rp12,5 triliun atau turun 19 persen.
Presiden Direktur Astra International, Rudy Chen, menjelaskan, tekanan kinerja pada paruh pertama tahun ini terutama berasal dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan aktivitas pertambangan, termasuk berkurangnya kuota produksi batu bara serta rendahnya penjualan emas.
"Recurring profit kita turun 7 persen, terutama karena mining solutions dan heavy equipment," kata dia dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).
Perlu diketahui, laba berulang atau recurring profit merupakan keuntungan yang berasal dari kegiatan bisnis normal perusahaan dan tidak memperhitungkan keuntungan atau kerugian yang sifatnya tidak rutin.
Meski kinerja tertekan, Astra tetap mempertahankan rasio pembagian dividen atau payout ratio sebesar 45-50 persen dari laba berulang. Artinya, setiap Rp100 laba berulang Astra, sekitar Rp45-Rp50 ditargetkan dibagikan sebagai dividen.
"Kami tetap mempertahankan payout ratio dividen di 45 sampai 50 persen dari recurring profit," ujarnya.
Menurut Rudy, pembagian dividen menjadi salah satu prioritas dalam penggunaan dana perusahaan. Prioritas lainnya mencakup belanja modal untuk pemeliharaan, investasi pada peluang yang dinilai menarik, pembelian kembali saham atau buyback, serta menjaga kondisi keuangan perusahaan.
"Tentu itu semua kita lakukan tetap menjaga kondisi neraca kita," tuturnya.
Sementara itu, di tengah tekanan kinerja, Astra juga membuka peluang untuk menambah kontribusi laba melalui rencana pembelian saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).
Dalam rencananya, Astra menargetkan membeli tambahan sekitar 4,95 persen saham AUTO melalui penawaran tender sukarela dengan harga Rp3.600 per saham. Untuk transaksi tersebut, Astra berpotensi mengeluarkan dana sekitar Rp858 miliar.
Dengan saat ini Astra menguasai sekitar 80 persen saham AUTO, jika seluruh saham yang ditawarkan berhasil dibeli, kepemilikan Astra di AUTO akan meningkat menjadi 84,95 persen.
Rudy mengatakan tambahan kepemilikan tersebut berpotensi memberikan tambahan laba sekitar Rp110 miliar hingga Rp115 miliar kepada Astra.
"Kalau kita ambil 4,95 persen, dengan profit AUTO sekitar Rp2,2 triliun sampai Rp2,3 triliun, tambahan profit yang masuk ke Astra sekitar Rp110 miliar sampai Rp115 miliar," jelasnya.
Meski meningkatkan kepemilikan, Astra memastikan AUTO tetap menjadi perusahaan terbuka dan sahamnya tetap dapat diperdagangkan oleh masyarakat.
"Tidak ada rencana untuk mengubah status AUTO sebagai perusahaan terbuka," kata Direktur Astra International, Gita Tiffany Boer dalam kesempatan yang sama.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id






































