tirto.id - Penggemar Formula One (F1) modern, khususnya yang tergabung dalam bandwagon Drive to Survive, bakal memandang Ferrari sebagai tim yang tidak kompetitif, penuh drama, dan hanya mengandalkan nama besar. Faktanya memang demikian. Sudah hampir 20 tahun lamanya pabrikan asal Maranello, Italia, itu tidak mampu memenangi apa pun di kompetisi F1.
Terakhir kali Ferrari merengkuh gelar ajang F1 pada 2008. Kala itu, Felipe Massa dan Kimi Raikkonen mengakhiri musim di klasemen kedua dan ketiga, di bawah Lewis Hamilton, untuk mengantarkan Kuda Jingkrak jadi juara dunia konstruktor. Selebihnya, Ferrari senantiasa kalah bersaing, baik dengan Mercedes maupun Red Bull.
Sampai musim 2025 lalu, Ferrari belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, kendati mereka telah merekrut Hamilton, yang kini sudah menjadi Sir Lewis Hamilton, untuk menjadi pebalap utama.
Yang dialami Ferrari pada masa sekarang amat kontras dibanding situasi pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Kala itu Ferrari sedang hebat-hebatnya. Di lintasan, mereka punya Schumacher. Namun, yang tak kalah penting adalah komposisi tim balik layar. Ada Jean Todt, yang menjabat sebagai Team Principal; Rory Byrne, yang mengepalai bagian desain; dan Ross Brawn, yang memimpin segala urusan teknis tim.
Todt, Byrne, dan Brawn, membentuk sebuah triumvirat yang membuat Ferrari begitu stabil di balik layar. Mereka mampu menghasilkan mobil terbaik untuk pebalap terbaik dan, tentu saja, prestasi terbaik. Tak cuma di lintasan balap, mereka bahkan berjasa mengubah cara penanganan pasien di rumah sakit.
Cara Kerja Pit Stop F1 Mengilhami Prosedur Operasi di RS
Semua berawal dari keresahan seorang dokter bedah jantung bernama Martin Elliott di Great Ormond Street Hospital (GOSH), rumah sakit khusus anak-anak di London. Suatu hari, setelah melakukan operasi bedah pada seorang bayi selama dua belas jam, Elliott bersantai di ruang staf bersama koleganya, Allan Goldman, yang merupakan seorang konsultan di bagian perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU).
Saat bersantai itulah mereka menyaksikan balap F1. Elliott dan Goldman dibuat terkagum-kagum oleh kemampuan kru pit stop yang berhasil melakukan segalanya, mulai dari mengganti ban sampai mengisi ulang bahan bakar, hanya dalam waktu tujuh detik. Ide "gila" pun muncul dalam pikiran mereka.
"Aku baru saja selesai melakukan transplantasi, lalu bedah arterial di pagi harinya, dan kami berdua sama-sama tepar. Saat itu, di televisi sedang ada balapan F1. Kami pun tersadar, bahwa di pit stop, di mana mereka mengganti ban dan mengisi bahan bakar, sebenarnya mirip dengan apa yang kami lakukan pada proses transfer pasien," ujar Elliott kepada Forbes.
Elliott memang berhasil menyelesaikan operasi dengan baik. Kondisi si bayi pun stabil. Akan tetapi, ada satu kelemahan dalam proses transfer pasien dari ruang operasi ke bagian ICU yang benar-benar mengganggu Elliott. Ketika itu, yang terjadi hanyalah kaos. Problem tersebut sudah menjadi masalah selama bertahun-tahun. Bahkan, tak sekali dua kali ada pasien yang meninggal karena berbagai eror dalam proses ini.
Komunikasi jadi problem utama. Semua orang saling berteriak sehingga informasi penting malah kerap kali gagal tersampaikan. Kesalahan dalam penggunaan peralatan medis pun sering terjadi setelah transfer dilakukan. Inilah alasan proses transfer dianggap titik lemah dari segala rangkaian prosedur pascaoperasi. Melihat aksi kru pit stop yang serba teratur dan mampu bergerak dalam waktu cepat, Elliott dan Goldman pun terinspirasi.
Beruntungnya, seorang anggota staf ICU memiliki kontak salah satu kru di tim McLaren F1, yang ketika itu merupakan salah satu rival terberat Ferrari. Singkat cerita, Dave Ryan, Direktur Teknik McLaren masa itu, diundang ke GOSH untuk berdiskusi. Tak cuma Ryan, Brawn dari Ferrari pun kemudian juga terlibat dalam diskusi tersebut.

Meski inspirasinya datang ketika melihat ketangkasan kerja kru pit stop, sebenarnya bukan itu yang jadi tujuan diskusi mereka. Yang mereka ingin tahu adalah cara kru pit stop diorganisasi dan berkomunikasi satu sama lain.
Diskusi pun kemudian beranjak ke lebih serius. Elliott dan Goldman benar-benar mantap ingin mempelajari cara kerja kru pit stop, lalu menerapkannya ke bidang mereka. Kedua dokter itu pun mencari pendanaan dari Institute of Child Health, kemudian menyewa jasa ahli ergonomika bernama Ken Catchpole. Tak lama berselang, jadilah sebuah tim peneliti yang beranggotakan delapan orang, dipimpin oleh Catchpole.
Salah satu langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian tersebut adalah studi banding. Tim Catchpole mengunjungi markas Ferrari di Maranello untuk mempelajari pergerakan, penempatan posisi, dan penyesuaian waktu yang dilakukan tiap anggota kru pit stop. Cara komunikasi juga diamati dengan seksama. Pada kesempatan berikutnya, giliran tim dari Ferrari dan Williams yang bertandang ke GOSH untuk mengamati proses transfer pasien.
Hasil akhirnya tertuang dalam sebuah paper bertajuk “Patient handover from surgery to intensive care: using Formula 1 pit-stop and aviation models to improve safety and quality” yang dimuat dalam jurnal Pediatric Anesthesia pada 2007.
Merombak Prosedur, Meniru Cara Kerja Pit Stop F1
Dalam studi yang melibatkan pengamatan langsung terhadap 50 kasus perpindahan pasien pascaoperasi tersebut, Catchpole dan rekan-rekannya merancang protokol baru. Pedoman itu secara radikal mengubah cara kerja tim medis dengan meniru cara kerja yang mereka saksikan di Maranello.
Langkah pertama adalah membedah kekacauan yang biasanya terjadi di ICU dengan menetapkan seorang pemimpin, konsep diadaptasi dari sosok "Lollipop Man" di pit stop Formula 1. Di lintasan balap, Lollipop Man adalah satu-satunya orang yang mengoordinasi seluruh kru dan memberi sinyal ketika mobil sudah aman untuk melaju kembali. Di rumah sakit, peran krusial ini kemudian dibebankan kepada dokter anestesi.
Dokter anestesi berwenang mengorganisasi tim, memastikan semua orang berada di posisinya, dan baru menyerahkan tanggung jawab kepada tim ICU setelah semua parameter keselamatan terpenuhi. Ini persis seperti mobil yang tidak boleh keluar pit sebelum semua ban terpasang sempurna.
Selain kepemimpinan, tim peneliti merombak total tata cara komunikasi yang selama ini menjadi sumber masalah utama. Jika sebelumnya ruang ICU riuh rendah oleh teriakan berbagai pihak yang berbicara bersamaan, protokol baru ini memberlakukan aturan hening yang ketat layaknya suasana garasi F1 yang minim suara, tetapi semua orang bekerja optimal.
Mereka membagi proses serah terima menjadi tahapan-tahapan terstruktur, dimulai dari pemindahan peralatan medis, diikuti oleh penyampaian informasi, dan diakhiri diskusi rencana perawatan. Pada tahap penyampaian informasi, aturan mainnya sangat sederhana, tetapi jelas. Dokter anestesi berbicara terlebih dahulu, dilanjutkan dokter bedah. Selama mereka menyampaikan laporan kondisi pasien, tidak ada satu pun orang lain yang boleh memotong pembicaraan atau menimbulkan kegaduhan.
Untuk memastikan tidak ada detail sekecil apa pun yang terlewat, mereka memperkenalkan penggunaan daftar periksa atau checklist, sebuah prosedur standar dalam penerbangan dan balapan, yang memaksa tim memverifikasi setiap item secara manual daripada hanya mengandalkan ingatan manusia.
Penerapan metode ala Ferrari ini kemudian diuji coba terhadap 27 pasien, kemudian dibandingkan dengan penanganan 23 pasien menggunakan metode lama.
Secara statistik, jumlah kesalahan teknis—kabel monitor kusut, peralatan belum siap, atau masalah daya listrik—menurun drastis, dari rata-rata sekitar lima kesalahan per pasien menjadi hanya sekitar tiga kesalahan. Penurunan serupa juga terjadi pada aspek informasi. Rata-rata informasi penting yang terlewatkan atau lupa disampaikan oleh tim dokter berkurang hingga separuhnya, dari sekitar dua poin menjadi hanya satu.
Selain itu, ketakutan bahwa protokol terstruktur tersebut akan memakan waktu ternyata tidak terbukti sama sekali. Sebaliknya, proses serah terima pasien justru menjadi lebih efisien dan cepat. Durasi rata-rata yang dibutuhkan untuk memindahkan pasien dan seluruh peralatan penunjang hidup menyusut dari hampir sebelas menit menjadi kurang dari sepuluh menit, menghemat waktu berharga yang sangat krusial dalam situasi darurat.
Indikator keberhasilan paling nyata terlihat pada penurunan drastis jumlah kasus serah terima yang berantakan. Sebelum protokol baru diterapkan, hampir 40 persen pasien mengalami proses perpindahan yang diwarnai banyak kesalahan teknis maupun informasi. Setelah sentuhan F1 diterapkan, angka kejadian berisiko tinggi tersebut anjlok menjadi hanya sekitar 11 persen.
Hasil studi tersebut pun langsung diimplementasikan ke GOSH, yang kemudian diterapkan di berbagai rumah sakit, tak hanya di Britania, tetapi juga di seluruh dunia.
Secara kebetulan, makalah Catchpole dkk. rampung pada 2007, tahun terakhir seorang pebalap Ferrari, yaitu Raikkonen, sukses menjadi juara dunia F1. Sementara itu, adopsi metode pit stop di berbagai rumah sakit dimulai pada 2008, tahun terakhir Ferrari menjadi juara dunia konstruktor.
Ferrari boleh jadi tak bertaji di lintasan balap sejak itu, tetapi bayangkanlah berapa jumlah orang, mulai dari bayi sampai orang dewasa, yang terselamatkan nyawanya berkat revolusi medis yang lahir dari Maranello.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































