tirto.id - Sidang kasus penembakan warga negara (WN) Australia dengan terdakwa Mevlut Coskun (22), Paea-I-Middlemore Tupou (27), dan Darcy Francesco Jenson (27) dilanjutkan dengan pemaparan keterangan dari ketiga orang saksi kunci. Ketiga orang tersebut adalah Sanar Ghanim, Daniella Gourdeas, dan Jazmyn Gourdeas yang menjadi korban tindakan keji tersebut.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung menyampaikan bahwa ketiga saksi tersebut tidak dapat dihadirkan secara langsung karena adanya ancaman serius terhadap keselamatan mereka di Australia. Sebagai gantinya, terdapat keterangan tertulis dari hasil pemeriksaan saksi yang dibacakan oleh JPU.
"Pada pokoknya, saksi tidak bisa hadir karena ada ancaman serius terkait keselamatan saksi korban dan sudah melaporkan ke pihak kepolisian di Australia. Itu pada pokoknya keterangan dari saksi yang kami panggil," ujar jaksa dalam sidang, Senin (01/12/2025).
Dalam keterangannya, Sanar Ghanim menyampaikan bahwa dia sudah datang ke Bali sejak 23 Desember 2024 dari Melbourne untuk berbisnis di bidang properti. Dia sempat menginap di sebuah vila sebelum pindah ke Vila Casa Santisya pada bulan Februari 2025. Vila tersebut terdiri atas tiga kamar dan Sanar menempati kamar nomor 3.
Saat kejadian pada Sabtu (14/06/2025), Sanar mengaku sedang berbaring sambil menonton televisi bersama dengan Daniella, pasangannya. Dia lantas mendengar keributan di pintu vila, seperti ada yang memukul pintu tersebut berulang kali.
"Saya menyadari ada tembakan di kamar saya, kemudian saya mendorong Daniella ke arah pojok, ke tembok di samping tempat tidur. Saya bersembunyi di kamar mandi. Orang tersebut menembak kaca pembatas kamar mandi saya sehingga menyebabkan kaca pembatas kamar mandi saya pecah," kata Sanar dalam keterangan yang dibacakan oleh jaksa.
Sanar menerangkan, situasi saat itu gelap dengan lampu kamar mandi berada dalam keadaan mati. Satu-satunya pencahayaan berasal dari televisi yang masih dalam kondisi menyala. Saat pelaku merangsek masuk, Sanar bergerak ke kamar mandi untuk menghindari peluru yang ditembakkan kepadanya.
"Saat bersembunyi di dalam kamar mandi, saya terkena tembakan beberapa kali dari pelaku. Namun, saya tidak melihat berapa orang yang melakukan penembakan terhadap saya. Setelah orang tersebut melakukan penembakan terhadap saya berkali-kali, orang itu pergi meninggalkan vila," ungkapnya.
Dipaparkan oleh Sanar, dia mengalami luka tembak di kepala, punggung sebelah kiri, pinggul sebelah kanan, tangan sebelah kiri, paha sebelah kanan, serta pantat dan kaki sebelah kiri. Setelahnya, Sanar langsung pergi keluar untuk mencari Daniella. Namun, dia menemukan Jazmyn yang segera memberi tahunya bahwa Zivan juga terkena tembakan.
"Tetangga vila memberi tahu saya bahwa ia sudah memanggil ambulans dan saya langsung duduk di pintu masuk vila dengan banyak darah karena terluka tembak menunggu kedatangan ambulans," tutur Sanar.
Sementara itu, Daniella Gourdeas menyampaikan bahwa dirinya, Zivan, dan Jazmyn datang ke Bali dengan tujuan berlibur, lalu menginap di vila milik Sanar. Mereka mulai menginap di sana pada Kamis (12/06/2025). Daniella bergabung dengan Sanar di kamar nomor 3, sementara Jazmyn dan Zivan di kamar nomor 1.
Saat kejadian, Daniella mengaku didorong oleh Sanar untuk menghindari tembakan. Dia lantas berjongkok di pojok untuk menyelamatkan dirinya. Daniella juga mengeklaim mendengar lebih dari 10 kali suara tembakan.
"Setelah pelaku selesai menembak Sanar, pelaku mengarahkan senjatanya kepada saya. Maka, kemudian saya berlari keluar kamar untuk menyelamatkan diri. Saat itu saya berpapasan dengan pelaku kedua, tetapi dia tidak menghiraukan saya," terang Daniella.
Daniella melarikan diri ke arah belakang vila yang terdapat sawah. Saat itu, Daniella sempat melihat salah satu pelaku berdiri tidak jauh di belakangnya. Setelah pelaku pergi, Daniella berlari menuju jalan raya untuk mencari bantuan.
"Salah satu pengemudi mengantarkan saya kembali ke jalan menuju vila. Saya berjalan kaki dari sana. Ketika sudah mencapai di sekitar vila, saya sudah melihat mobil polisi," jelasnya.
"Saat kejadian tersebut sedang berlangsung, saya sempat mengintip dari balik selimut dan melihat ada seorang yang tidak diketahui memakai jaket oranye dan helm warna hitam tengah berdiri di kamar mandi," ungkapnya.
Setelah tidak mendengar suara tembakan lagi, Jazmyn pergi ke kamar mandi dan mendapati Zivan sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan badan berlumuran darah. Pada saat itu, Jazmyn memeriksa nadi Zivan dan memastikan suaminya itu masih hidup.
"Saya berlari ke arah kamar Daniella dan mendapati Sanar dalam kondisi berlumuran darah di depan kamar nomor 2. Sanar sempat bertanya mengenai keberadaan istrinya, saya menjawab tidak tahu. Lalu saya mengatakan pada Sanar bahwa Zivan ditembak oleh seorang," bebernya.
Setelahnya, Jazmyn kembali memasuki kamar untuk memeriksa nadi Zivan. Sayangnya, nadi tersebut sudah tidak teraba lagi. Tidak lama kemudian, Jazmyn berjalan ke depan vila untuk bertemu dengan Sanar. Saat itu, mobil ambulans dan polisi sudah berdatangan.
"Kemudian, Daniella datang dengan berjalan kaki. Saya dan Daniella berteriak, berpelukan, menangis," ucapnya.
Korban dan Pelaku Tidak Pernah Bersinggungan
Darcy Francesco Jenson ketika membacakan permintaan maafnya yang ditujukan kepada Jazmyn Gourdeas, Senin (01/12/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

Sanar, Jazmyn, dan Daniella secara kompak mengatakan bahwa mereka tidak mengenal ketiga orang pelaku. Mereka juga mengeklaim tidak memiliki dendam atau masalah dengan siapa pun, baik di Australia maupun di Indonesia.
"Selama ini saya dan Zivan tidak pernah memiliki permasalahan atau dendam dengan orang lain, begitu juga dengan Daniella dan Sanar," imbuh Jazmyn.
Mereka juga mengatakan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi pelaku saat kejadian karena kondisi pencahayaan yang minim. Namun, Daniella dan Jazmyn kompak mengidentifikasi bahwa pelaku merupakan laki-laki dengan postur badan yang besar.
"Apabila dilihat dari postur dan tubuhnya, saya mengenali postur dan badan dari Coskun Mevlut. Jika dilihat dari sisi belakang, saya yakin tubuh Coskun Mevlut menyerupai orang yang saat itu saya lihat dari balik selimut, yang sedang berdiri di kamar mandi, dan sedang melakukan penembakan terhadap suami saya," beber Jazmyn.
Terdakwa Minta Maaf Kepada Korban
Salah satu terdakwa, Darcy Francesco Jenson, meminta maaf kepada Jazmyn Gourdeas, istri dari Zivan Radmanovic, yang menjadi korban penembakan di Vila Casa Santisya, Desa Munggu, Badung. Di akhir pemeriksaan saksi, Darcy meminta waktu kepada majelis hakim untuk membacakan sepucuk surat berisi permintaan maaf tersebut.
"Saya sangat menyadari bahwa mungkin Saudari Jazmyn tidak mau mendengar hal ini dari saya. Namun, saya ingin meminta maaf atas perbuatan saya yang telah menyebabkan meninggalnya suami dari Saudari Jazmyn, yaitu Zivan," tutur Darcy dalam bahasa Inggris.
Darcy menyampaikan bahwa keluarga Jazmyn kehilangan figur seorang suami, ayah, dan anak sekaligus. Dia berharap agar Jazmyn diberi kekuatan untuk menghadapi kehilangan, serta berdoa agar kenangan akan Zivan selalu hidup dalam diri Jazmyn.
Selain itu, Darcy menyadari perilakunya memengaruhi banyak pihak, sehingga dia memutuskan untuk meminta maaf kepada para pihak yang terdampak oleh perbuatannya itu.
"Saya meminta maaf dan mengucapkan penyesalan yang sangat mendalam. Rasa bersalah yang saya alami menghantui saya setiap harinya. Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan saya kekuatan untuk terus melanjutkan kehidupan saya," ucapnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































