tirto.id - Koalisi Cek Fakta meminta masyarakat tidak tergiring narasi demo unjuk rasa sejak 25 Agustus hingga saat ini di Indonesia dibiayai pihak asing. Narasi aksi unjuk rasa dibiayai pihak asing dirilis oleh George Soros dan National Endowment for Democracy (NED).
Menurut Koalisi Cek Fakta, narasi tersebut berpotensi memperkeruh ekosistem informasi di Indonesia. Media massa diminta berhati-hati memuat informasi dari sumber yang tidak bisa diverifikasi dan dikonfirmasi, terlebih di saat misinformasi atau disinformasi marak di masyarakat.
"Sampai 3 September 2025, Koalisi Cek Fakta menemukan setidaknya 20 ragam misinformasi dan disinformasi sejak rentetan aksi protes pada 25 Agustus 2025 lalu," demikian keterangan resmi Koalisi Cek Fakta, dikutip Rabu (3/9/2025).
"Informasi palsu itu sebagian besar dikaitkan dengan aksi protes dan berkembang menjadi penyebaran ketakutan, seperti jangan keluar malam, pembatasan aktivitas di jalanan, penempatan penembak jitu, pembakaran bangunan, pembatasan penarikan uang di bank, penyerangan kantor polisi, penjarahan, dan lain sebagainya," sambung Koalisi Cek Fakta.
Berdasar keterangan Koalisi Cek Fakta, mereka memantau berkembangnya narasi propaganda yang berupaya mendelegitimasi aksi unjuk rasa tersebut.
Merespons kondisi saat ini, Koalisi Cek Fakta mengajak dan mengimbau seluruh elemen untuk berhati-hati dan skeptis saat menerima informasi. Mereka meminta, setiap informasi yang tidak jelas sumber awalnya, berbasis klaim tanpa bukti, dan mengedepankan ketakutan agar tidak disebarkan.
Selain itu, para jurnalis diminta mengedepankan verifikasi, menghindari mengamplifikasi propaganda dan disinformasi, serta berpegang dan mematuhi kode etik jurnalistik.
Untuk diketahui, temuan Koalisi Cek Fakta, konten atau pemberitaan yang beredar soal narasi aksi unjuk rasa dibiayai pihak asing itu mengutip laporan progandis Rusia, Angelo Guiliano, yang diterbitkan media Rusia Sputnik bertajuk “Soros, NED Could Be Behind Indonesian Protests” pada 31 Agustus 2025.
Dalam keterangannya, Giuliano menyebut adanya indikasi pengaruh eksternal dan kondisi Indonesia hari ini. Salah satu indikasinya adalah penggunaan bendera One Piece jelang peringatan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Guiliano, simbol tersebut mengindikasikan adanya “pengaruh dari luar” yang disebutnya mirip dengan pola-pola yang terlihat di negara lain.
Terdapat kemungkinan Soros terlibat melalui Open Society Foundations, organisasi yang sejak tahun 1990-an menyalurkan dana lebih dari delapan miliar dolar Amerika secara global, serta NED yang mendanai media-media di Indonesia pada saat berbarengan.
Tuduhan oposisi atau aksi protes massa digerakkan oleh barat sudah dikaji oleh peneliti dan lembaga kredibel kerap dimainkan oleh pemerintah Rusia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































