Kloning Monyet Berhasil, Kloning Manusia Semakin Dekat?

Oleh: Taufiq Nur Shiddiq - 29 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Keberhasilan kloning dua ekor monyet di Cina membuat banyak orang berpikir: kita sudah selangkah lagi menuju kloning manusia.
tirto.id - Perkenalkan: Zhong Zhong dan Hua Hua. Kedua monyet ekor panjang ini lahir berselang dua minggu, namun kembar identik. Keduanya adalah monyet kloning – primata pertama yang berhasil dikloning. Dengan lahirnya Zhong Zhong dan Hua Hua, ilmu pengetahuan disebut-sebut selangkah lebih dekat ke kloning manusia.

Zhong Zhong dan Hua Hua diciptakan oleh para peneliti Cina di Institut Ilmu Saraf Akademi Sains Cina, Shanghai. Dengan lahirnya Zhong Zhong dan Hua Hua, batasan teknis kloning primata terlewati sudah. Selain monyet dan kera, anggota ordo primata lain adalah manusia.

“Jadi untuk kloning spesies primata, termasuk manusia, batasan teknisnya sudah pecah,” ujar Muming Poo, pengawas proses dan penulis jurnal kloning ini, kepada Reuters.

Sementara itu, dikutip dari New York Times, Dr. Leonard Zon, pimpinan program sel induk dari Rumah Sakit Anak Boston, berujar: “Ini primata pertama yang dikloning. Kita semakin dekat ke kloning manusia dari sebelumnya. Ini memicu pertanyaan mau di bawa ke mana kita.”

Tapi tidak semua ahli berpendapat bahwa lahirnya dua monyet ini akan menjadi tahap baru menuju kloning manusia. Menurut Robin Lovell-Badge, ahli kloning dari Francis Crick Institute, London, hasil kloning dua monyet ini bukanlah batu loncatan untuk bisa mencapai tahapan kloning manusia.

"Prosedur ini tetap tidak efisien dan penuh risiko. Usaha mengkloning manusia jelas masih nekat," ujar Lovell-Badge.

Dolly dan Perlukah Mengkloning Primata

Perbincangan tentang Zhong Zhong dan Hua Hua mau tak mau membawa publik kembali mengenang Dolly, mamalia pertama yang diciptakan dengan metode kloning somatic cell nuclear transfer (SCNT).

Dolly lahir di Skotlandia pada 5 Juli 1996. Pengkloningnya adalah Keith Campell, Ian Wilmut, dan beberapa orang kolega mereka dari Roslin Institute yang merupakan bagian dari Universitas Edinburgh. Para ilmuwan ini bekerjasama dengan perusahaan bioteknologi, PPL Therapeutics.

"Keberhasilan ini bisa membuat kita mempelajari penyakit genetik yang sebelumnya tak ada obatnya, serta bisa melacak mekanisme yang terlibat di dalam prosesnya," ujar Wilmut.

Saat Dolly lahir, tidak hanya euforia ilmu pengetahuan yang menguar. Tapi juga dilema moralitas. Apakah manusia pantas untuk bertindak sebagai Tuhan dengan menciptakan mahluk hidup?

Dilema moral itu juga terseret makin jauh saat ada ide untuk mengkloning manusia. Dalam wawancara dengan BBC, 1997 silam, Wilmut mengatakan bahwa kloning manusia itu "menjijikkan" dan ilegal.

Dolly yang tinggal di Roslin Institute kemudian kawin dengan seekor kambing gunung dan berhasil melahirkan enam anakan. Namun pada usia empat tahun, Dolly terserang artritis dan mulai pincang. Pada 14 Februari 2003, Dolly akhirnya dieutanasia setelah artritis yang semakin parah ditambah dengan penyakit paru. Dengan usia 6,5 tahun saat dieutanasia, usianya lebih pendek ketimbang angka harapan hidup kambing jenis Finn-Dorset yang berkisar 11 hingga 12 tahun.


Meski Dolly sudah tiada, jejak ilmu pengetahuannya menetap. Lahirnya Dolly mendobrak batasan penciptaan. Sebelum Dolly menjadi bukti, para ahli sempat percaya bahwa mengkloning mamalia dengan cara itu mustahil dilakukan. Namun sejak kelahiran Dolly, perbicangan soal kloning memasuki tahap baru.

Cina adalah salah satu negara yang bergerak cepat di bidang kloning. Salah satu contohnya adalah perusahaan ternak merangkap teknologi bernama BGI yang menjadi pusat pengkloningan babi. Mereka berhasil mengkloning 500 ekor babi setiap tahunnya, dengan tingkat kesuksesan 70 hingga 80 persen.


Setelah Dolly, para peneliti di seluruh dunia telah berhasil mengkloning 23 spesies mamalia – termasuk anjing, babi, katak, keledai, kelinci, rusa, dan sapi. Percobaan kloning primata, walau demikian, selalu gagal. Para peneliti menduga, ada sesuatu dalam gen monyet yang membuat kloning tak pernah berhasil – namun mereka sendiri belum benar-benar tahu apa.

Metode SCNT yang digunakan dalam kloning Zhong Zhong dan Hua Hua sedikit dimodifikasi dari metode yang digunakan dalam kloning Dolly, karena itulah kloning monyet kali ini berhasil sementara yang lain gagal.

Salah satu percobaan kloning gagal adalah yang dilakukan oleh Shourat Mitalipov dan timnya, dari Oregon Health and Science University. Pada 2007, tim Mitalipov mengambil sel kulit dari monyet berusia sembilan tahun dan menanamkannya di sel telur. Mitalipov dan timnya berhasil menciptakan embrio dengan cara ini, namun usaha mereka hanya sampai di sana.

infografik bagai monyet dibelah dua


Tim peneliti kloning Zhong Zhong dan Hua Hua sendiri menghabiskan tiga tahun untuk menyempurnakan prosedur SCNT ini. Menurut mereka, kecepatan dalam pengerjaan berpengaruh pada keberhasilan. Mereka juga menyimpulkan bahwa kloning yang diciptakan dari jaringan janin lebih baik dari sel dewasa – Dolly diciptakan dari sel dewasa.

“Dengan mengoptimalkan metodenya, kami menghasilkan 79 embrio yang berkembang dengan baik dan menanamkannya dalam 21 monyet pengganti (surrogate) betina,” ujar Muming Poo, sebagaimana dikutip dari CNN. Enam dari 21 monyet tersebut hamil; dari enam, dua keguguran dan dua lahinnya telah melahirkan Zhong Zhong dan Hua Hua.

Melalui New York Times, investigator menyatakan bahwa para peneliti yang terlibat dalam kloning Zhong Zhong dan Hua Hua mematuhi panduan internasional penelitian fauna, yang ditetapkan oleh National Institutes of Health.

“Alasan kami mendobrak batasan ini adalah untuk menghasilkan model fauna yang bisa digunakan untuk (penelitian) obat, untuk kesehatan manusia,” ujar Muming Poo kepada Reuters. “Tidak ada niat untuk menerapkan metode ini kepada manusia.”


Fauna yang identik secara genetik akan sangat membantu dalam penelitian karena faktor-faktor yang tercampur baur dalam fauna non-kloning membuat eksperimen menjadi rumit.

“Penelitian primata non-manusia tetap vital dalam kelanjutan penelitian medis dan kemajuan kesehatan manusia,” ujar James Bourne, associate professor dari Australian Regenerative Medicine Institute di Monash University, sebagaimana dikutip dari CNN. “Deskripsi saat ini dari protokol kloning monyet lewat SCNT bisa menjadi alat penting penelitian medis dalam memahami penyakit pada spesies yang secara genetik mirip manusia.”

Cina terkenal sering mendobrak batasan-batasan etik bioscience. Tiga tahun lalu, peneliti di Universitas Sun Yat-Sen (Guangzhou) memicu kehebohan karena menjalankan eksperimen pertama mengedit DNA embrio manusia. Terlepas dari perdebatan apakah kloning manusia sudah dekat atau masih mimpi ala film sci-fi, keberhasilan Cina mengkloning primata merupakan tonggak baru dalam bidang kloning.

Baca juga artikel terkait KLONING atau tulisan menarik lainnya Taufiq Nur Shiddiq
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Taufiq Nur Shiddiq
Penulis: Taufiq Nur Shiddiq
Editor: Nuran Wibisono