Kisah Westerling yang Dicintai dan Dihormati Anak Buahnya

Oleh: Petrik Matanasi - 13 April 2021
Dibaca Normal 2 menit
Westerling tidak hanya disiplin dan perhatian, dia juga tak segan ikut tawuran bersama bawahannya.
tirto.id - Suatu hari, sekelompok anggota pasukan baret hijau yang bernama Depot Speciale Troepen, mengendarai truk menuju ke perkampungan kumuh. Mereka lalu mengangkut sejumlah pekerja seks dan membawanya ke sekitar gereja di Makassar. Para anggota KNIL ini kemudian mencantolkan kondom-kondom mereka di pepohonan dekat gereja, hingga tampak seperti hiasan natal. Seorang pastor keluar dari gereja dan melihat pelecehan tersebut.

Sang pastor kemudian melapor ke Militare Politie (MP). Ketika muncul nama Westerling, polisi militer yang menanyai pastor itu menutup buku catatannya dan berkata, "Bapak Pastor, kami lebih lanjut urus ini secara intern saja.”

Begitulah cerita yang tercatat oleh Maarten Hidskes—anak dari salah satu anak buah Westerling, Peter Hidskes—dalam buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya (2018:154-155). Kasus kondom di muka pastor pun tak berlarut-larut. Bawahannya percaya Westerling tidak akan membuat mereka dijatuhi hukuman, demi jiwa korsa.

Bagi pegawai Belanda, Westerling dan pasukannya dianggap telah memulihkan keamanan dan ketertiban di Makassar dan sekitarnya. Depot Speciale Troepen pimpinan Westerling punya reputasi sebagai pasukan yang ditakuti, seperti marsose di zaman kolonial. Westerling yang menghabisi nyawa Datu Suppa adalah penerus Hans Christoffel yang memburu Raja Gowa.


Pasukan baret hijau pimpinan Westerling sekitar satu kompi (80-225 personel). Ia dibantu oleh Onderluitenant (Pembantu Letnan) Jan Baptist Vermeulen--ahli intelijen gerakan bawah tanah di Belanda saat melawan tentara Jerman. Pasukan ini dibentuk dari bekas anggota No 2 Dutch Troop (yang dibentuk di Inggris dengan Westerling sebagai salah satu anggotanya), sukarelawan bule dari tentara Belanda, dan orang-orang Timor, Manado, serta Ambon di KNIL.

Bagi prajurit komando rendahan seperti Peter Hidskes, Westerling adalah komandan yang dicintai anak buahnya. Dia bukan tipe perwira yang otoriter, perhatian terhadap anak buah, dan sangat dihormati. Jika jipnya melintasi sebuah perkelahian antara pasukan baret hijau dengan marinir Belanda, maka Westerling akan melepas tanda pangkatnya dan terjun langsung dalam tawuran tersebut.

Menurut Hidskes, terdapat sejumlah pemuda anggota Depot Speciale Troepen KNIL yang memutuskan berhenti ketika operasi militer penuh darah yang dipimpin Westerling berlangsung. Salah satunya bernama Pinky. Baginya, operasi itu terlalu berat. Meski demikian, Westerling tidak memandang rendah pemuda kurus itu. Saat Pinky akhirnya kembali ke kesatuan Westerling, komandannya itu menerimanya seperti sedia kala.

Selain pasukan komando baret hijau, KNIL juga punya pasukan penerjun berbaret merah. Dua pasukan itu pernah disatukan dalam Korps Speciale Troepen yang jumlahnya lebih dari seribu orang, dan Westerling sebagai komandannya. Maka itu, Westerling juga dihormati oleh korps baret merah yang biasanya dilatih di School voor Opleiding van Parachutisten di Bandung. Westerling dalam Chellenge to Terror (1953:139) mengaku bahwa pasukan itu telah dilatihnya dengan metode yang diterapkannya di Sulawesi Selatan.


Waktu memimpin Korps Speciale Troepen, pangkat Westerling masih kapten. Ia kemudian mundur dan digantikan oleh Letnan Kolonel van Beek sejak 11 November 1948. Setelah tak dipimpin Westerling, pasukan itu digunakan oleh Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor untuk menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948.

Infografik Westerling
Infografik Westerling. tirto.id/Fuad


Salah satu bukti kesetiaan pasukan baret hijau kepada Westerling adalah ketika terjadi peristiwa APRA di Bandung pada 23 Januari 1950. Saat itu, pasukan baret hijau KNIL yang berada di sekitar Bandung keluar dari tangsi dan membuat onar hingga menewaskan puluhan anggota TNI Divisi Siliwangi.

Kelompok Korps Speciale Troepen "didikan" Westerling yang terkenal adalah pimpinan Sersan Thomas Nussy, Daud Lestaluhu, dan Corputy, yang pulang ke Ambon. Menurut Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid 2 (2017:676), Ambon adalah benteng pertahanan terakhir Belanda di Indonesia, dan Nussy serta pasukannya yang diharapkan untuk mempertahankannya. Namun, pasukan Nussy kemudian bentrok dengan banyak pihak dan tidak mau lagi tunduk kepada komando Belanda. Korps Speciale Troepen yang terkenal loyal itu merasa dikhianati hingga berbalik menjadi anti-Belanda.

Nussy sempat menjadi panglima tentara RMS sebelum akhirnya menyerah dan masuk TNI. Ketika RMS berkecamuk, bekas pasukan baret hijau KNIL memang sangat merepotkan TNI. Beberapa tokoh militer di Indonesia Timur bahkan membanggakan diri sebagai mantan pasukan tersebut, salah satunya Jan Timbuleng.

Ketika memimpin penumpasan RMS, Panglima Ekspedisi Indonesia Timur Kolonel Alex Evert Kawilarang juga membentuk pasukan baret hijau dadakan di Sulawesi Utara lewat Vintje Sumual. Selain itu, Kawilarang juga membuat pasukan baret merah dengan kemampuan tempur tinggi di Jawa Barat. Pasukan itu belakangan menjadi Kopassus.

Baca juga artikel terkait WESTERLING atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight