Menuju konten utama
8 April 1999

Kisah Lukman Harun Melawan Amien Rais

Tepat 18 tahun lalu, 8 April 1999, Lukman Harun wafat. Ia adalah sosok yang oleh Din Syamsuddin dijuluki sebagai Menteri Luar Negeri-nya Muhammadiyah, dan pernah berpolemik dengan Amien Rais.

Kisah Lukman Harun Melawan Amien Rais
Lukman Harun, Tokoh Muhammadiyah. Foto/istimewa

tirto.id - “Saya tidak menghantam Amien Rais. Saya cuma ditanya oleh orang bagaimana cara Muhammadiyah, ya saya ceritain, bukan menghantam,” elak Lukman Harun dalam wawancara dengan media nasional pada awal Maret 1997.

Kala itu Lukman Harun memang sedang terlibat pertikaian dengan Amien Rais. Meskipun beberapa kali berkelit setiap kali ditanya tentang hal itu, namun Lukman Harun pada nyatanya justru sering melontarkan pernyataan tajam yang tampaknya memang menyasar juniornya di Muhammadiyah itu.

Lantas, apa masalahnya? Apa yang dimaksud oleh Lukman Harun dengan ungkapan “cara Muhammadiyah” dan kaitannya dengan Amien Rais?

Aktivis Ganyang PKI

Lukman Harun adalah salah satu tokoh Muhammadiyah paling berpengaruh, kakak angkatan Amien Rais, Din Syamsuddin, juga Syafii Maarif. Ia pengibar panji-panji organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan itu di dunia internasional. Din Syamsuddin bahkan menjulukinya sebagai Menteri Luar Negeri-nya Muhammadiyah.

Lahir di Limbanang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 6 Mei 1934, Lukman Harun punya sederet jejak-rekam yang gemerlap, dari semasa mahasiswa saat aktif di berbagai lini pergerakan, juga kiprah politiknya serta perannya di jangkauan yang lebih luas.

Selepas lulus SMP Muhammadiyah di Payakumbuh pada 1947, Lukman Harun merantau ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di ibukota. Kemudian lanjut kuliah di Universitas Nasional dan menjadi Ketua Dewan Mahasiswa di perguruan tinggi tersebut.

Di periode yang sama, Lukman Harun memulai “kariernya” di Muhammadiyah dengan menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah. Ia juga aktif di Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) serta beberapa organisasi pergerakan mahasiswa lainnya, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Usai Gerakan 30 September 1965, Lukman Harun vokal menyerukan ganyang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dituding sebagai biang keladi peristiwa berdarah itu. Ia bahkan menjadi Ketua Pengerah Massa Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu/PKI dan turut andil dalam menumbangkan rezim Sukarno alias Orde Lama.

Menteri Luar Negeri Muhammadiyah

Pengalamannya yang mentereng di ranah pergerakan mahasiswa membuat karier politik Lukman Harun berjalan mulus sejak Soeharto menguasai tahta kepresidenan. Sempat menjadi pegawai pemerintah pada masa-masa akhir Orde Lama, ia kemudian lebih aktif di kancah politik nasional.

Karier politik Lukman Harun bermula dari Persatuan Muslim Indonesia (Parmusi), kelanjutan Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), meskipun ia telah bergabung dengan Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar yang dibentuk sejak 1964. Ia juga sempat menjadi anggota DPR-GR sebelum berhenti pada 1971.

Ketika partai-partai Islam dilebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1973, Lukman Harun justru memilih Golkar yang juga ikut Pemilu, bahkan ia lantas masuk parlemen lewat Fraksi Karya Pembangunan. Boleh jadi, inilah yang menjadi pemicu awal terperciknya perseteruan antara Lukman Harun dengan Amien Rais di kemudian hari.

Di tahun yang sama, Lukman Harun kian mendapatkan tempat di PP Muhammadiyah. Tapi, perannya lebih ke luar. Ia membawa nama Muhammadiyah dalam berbagai aksi internasional. Lebih dari 50 negara telah ia kunjungi, terutama negara-negara Islam rawan konflik macam Bosnia, Palestina, Afghanistan, Lebanon, hingga Kenya.

Lukman Harun tercatat pernah memegang posisi penting di sejumlah organisasi Islam berlingkup global, termasuk Komite Solidaritas Islam, Komite Setia Kawan Rakyat Indonesia-Afghanistan, Komite Pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsha, hingga menjabat Sekretaris Jenderal Asian Conference on Religion and Peace (ACRP).

Infografik Lukman Harun

Lukman Harun vs Amien Rais

Amien Rais semula adalah loyalis Lukman Harun, terutama saat Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta akhir 1990. Di forum tertinggi itu, Lukman Harun merupakan wakil “golongan reformis” yang bertarung dengan kelompok "konservatif" untuk memperebutkan posisi Ketua PP Muhammadiyah, menggantikan A.R. Fakhruddin yang enggan dicalonkan lagi.

Faktanya, Lukman Harun kalah, yang terpilih adalah Ahmad Azhar Basyir dari kubu seberang. Amien Rais yang termasuk tokoh muda Muhammadiyah pro reformasi sangat kecewa. Ia bahkan mengendus ada rekayasa intensif dengan misi menjungkalkan Lukman Harun.

"Ini perlu diratapi. Cukuplah sekali ini saja terjadi. Ini dzolim. Saya tak rela, orang yang begitu banyak jasanya kok dibegitukan," sesal Amien Rais (Tempo, 22 Desember 1990).

Namun, lain dulu lain kemudian. Usai Muktamar selanjutnya, yakni edisi ke-43 pada 1995, Lukman Harun dan Amien Rais nantinya justru saling berseteru. Yang terpilih sebagai Ketua PP Muhammadiyah dalam Muktamar yang dihelat di Banda Aceh itu ternyata Amien Rais.

Lukman Harun rupanya terusik dengan pergerakan Amien Rais yang kala itu mulai masif berupaya untuk mengakhiri rezim Soeharto. Dilihat dari riwayat politiknya, Lukman Harun memang cenderung mesra dengan Orde Baru, sedangkan Amien Rais sebagai orang yang lebih berdarah muda berada di posisi yang sebaliknya.

Bagi Lukman Harun, pergerakan Amien Rais yang menyerukan wacana suksesi kepemimpinan negara sejak 1993 dinilai “membahayakan” Muhammadiyah. Lukman Harun menganggap Amien Rais ingin membawa Muhammadiyah ke ranah politik (Republika, 13 November 2014).

“Kritis boleh kritis, tetapi dalam Muhammadiyah itu ada tata kramanya. Dia (Amien Rais) kadang-kadang kurang memperhatikan tata krama... Muhammadiyah bukan partai politik, Muhammadiyah bukan gerakan politik!” tukasnya (Tempo Interaktif, 5 Maret 1997).

Apa yang dicemaskan Lukman Harun ternyata benar. Amien Rais pada akhirnya membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang mau tidak mau harus diakui bahwa basis mayoritas massa-nya berasal dari Muhammadiyah.

Dan, entah apa yang dirasakan Lukman Harun karena apa yang diinginkan Amien Rais menjadi nyata pada Mei 1998. Soeharto lengser, Orde Baru tumbang, dan Amien Rais dielu-elukan sebagai salah satu tokoh yang berperan paling penting dalam terwujudnya reformasi itu.

Tapi, ia tidak sempat tuntas melihat Amien Rais kemudian memainkan pengaruh besar. Bagaimana juniornya itu menjadi Ketua MPR, memunculkan poros tengah untuk menaikkan Gus Dur ke kursi Presiden RI –demi menjegal Megawati Sukarnoputri– sekaligus lalu melengserkannya, hingga maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004 kendati gagal.

Enam bulan sebelum Amien Rais duduk sebagai Ketua MPR, Lukman Harun menutup mata. Penyeru sekaligus penjaga kemurnian Muhammadiyah itu wafat pada 9 April 1999 dalam usia 65 tahun.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti