Kisah Jack Ma dari Guru Bahasa Inggris ke Pengusaha Sukses

Oleh: Ahmad Zaenudin - 8 Januari 2021
Dibaca Normal 5 menit
Setelah mengkritik pemerintah Cina, Jack Ma dikabarkan menghilang.
tirto.id - "Alibaba merupakan nama yang tidak biasa bagi sebuah perusahaan Cina, pun dengan pendirinya, mantan guru bahasa Inggris bernama Jack Ma, sosok yang tidak terlahir memimpin raksasa teknologi," tulis Duncan Clark mengawali buku berjudul Alibaba: The House That Jack Ma Built (2016). Dalam kunjungannya ke Stanford University pada tahun 2013Jack Ma mengaku bahwa "hingga hari ini, saya tidak mengerti apapun soal koding dan saya pun tidak pernah paham bagaimana internet bekerja". Inilah salah satu hal yang membedakan Ma dari Bill Gates sebagai pendiri Microsoft atau Elon Musk yang menggawangi Tesla dan SpaceX,

Jack Ma memiliki nama asli Yun Ma, yang berarti "awan" dan "kuda". Ia lahir 57 tahun silam di kota Hangzahou, sekitar 150 kilometer arah Barat Daya Shanghai. Sebagaimana ia ungkapkan di hadapan mahasiswa Stanford, Ma "bukanlah anak dari seorang kaya raya". Ayahnya, Ma laifa, merupakan juru foto pada Hangzhou Photography Agency. Ibunya, Cui Wencai, bekerja sebagai buruh pabrik.

Meskipun berasal dari keluarga jelata, Jack lahir di saat yang tepat. Kala itu, tulis Clark, "Jack Ma lahir saat dunia kewirausahaan Cina tengah berada di posisi mandek dan tenggelam, dengan lebih dari 90 persen industri dikuasai negara. Tak hanya itu, Cina tertutup bagi dunia internasional".


Jack Ma kecil tumbuh pada masa ketika Mao Zedong meluncurkan Revolusi Kebudayaan, menghancurkan "Empat Kuno", yakni adat istiadat, budaya, kebiasaan, dan gagasan lama, yang dianggap membendung kesuksesan Cina. Tatkala Mao meninggal dan kekuasaan beralih ke tangan Deng Xiaoping, Cina membuka diri kepada dunia. Akhirnya, banyak turis asing berdatangan ke Cina sejak 1978, termasuk ke Hangzahou. Jack, yang telah jatuh cinta pada bahasa Inggris gara-gara membaca novel berjudul The Adventures of Tom Sawyer, melihat gelombang kedatangan turis ke kampung halamannya sebagai peluang untuk mendalami bahasa Inggris.

"Setiap pagi dari pukul lima saya akan membaca bahasa Inggris di depan Hotel Hangzhou (tempat favorit turis asing menginap). Banyak pengunjung asing datang dari AS dan Eropa. Saya memberi mereka tur gratis ke West Lake dan sebagai imbalannya, mereka mengajari saya bahasa Inggris. Selama sembilan tahun!" tutur Jack.

Beberapa turis asing menyarankan ia mengganti nama Yun Ma menjadi Jack Ma. Tak hanya itu, kedatangan turis Australia bernama Ken Morley bersama keluarganya ke kampung halaman Jack membuat hidupnya berubah. "Pada suatu malam ketika saya berada di Cina, saya didekati oleh seorang pemuda yang ingin mencoba keterampilan bahasa Inggris. Dia memperkenalkan diri dan kami berbincang ringan. Dia adalah Jack Ma," kenang David suatu ketika.

Ketika David pulang ke Australia, ia menceritakan pengalamannya bertemu dengan Jack, yang disebutnya sebagai "anak gerobak dorong yang sangat ramah dan ingin belajar bahasa Inggris" kepada ayahnya. Terkesan, sang ayah, Ken, akhirnya meminta David menghubungi Jack dan mengajaknya ke Australia. Pada 1985, untuk pertama kalinya, Jack menginjak tanah asing. Ia berkunjung ke kediaman Morley di New Lambton, Australia.

Sembilan bulan tinggal ia tinggal di Australia. Sayangnya, sepulangnya Jack ke Cina, ia tak dapat berbuat banyak. "Tatkala saya tinggal di Cina, saya yakin bahwa Cina merupakan negara terkaya di dunia. Namun, ketika saya tiba di Australia, saya menyadari bahwa faktanya sangat berbeda"

Jack ingin memperoleh pendidikan yang layak, tapi tersandung matematika--mata pelajaran yang menjadi tolak ukur pemerintah Cina guna menentukan ke mana seseorang bisa melanjutkan pendidikan. Di bidang itu Jack memperoleh nilai 1/120, alias yang paling rendah. Usai belajar lebih giat, ia hanya memperoleh nilai 89/120, yang hanya mampu membawanya kuliah di Hangzhou Teachers College, sebuah kampus gurem di Cina. Usahanya memperoleh penghasilan untuk hidup mandiri selama kuliah pun kandas. Dari 24 orang yang melamar ke KFC, Jack merupakan satu-satunya sosok yang ditolak Kolonel Sanders. Tak hanya itu, 10 lamaran lain dari Jack ditolak mentah-mentah.


Beruntung, Jack tak gampang menyerah. Pada 1992 Deng Xiaoping menegaskan bahwa "menjadi kaya itu mulia" dan meminta rakyatnya untuk berwirausaha. Usai lulus kuliah dan mengajar bahasa Inggris di Hangzhou Institute of Electronic Engineering, Jack merintis bisnis agensi penerjemah yang dinamainya "HOPE" atau Hangzhou Haibo Translation Agency. Bisnis itu, tulis Clark, "difokuskan untuk membantu perusahaan lokal menemukan pelanggan di luar negeri."

Di tengah-tengah usahanya mengembangkan agensi penerjemah, Jack pergi ke California, Amerika Serikat, pada 1995. Di sana ia berkenalan dengan makhluk asing bernama internet. Ia kemudian berpikir untuk memperluas bisnisnya: tak hanya membantu perusahaan lokal menemukan pelanggan di luar negeri, tetapi juga membantu pengusaha luar negeri menemukan rekan bisnis di Cina. Maka, sekembalinya ke Cina, Jack mendirikan Hangzhou Haibo Network Consulting, yang berfungsi seperti Yellow Pages, mengindeks bisnis-bisnis di Cina untuk ditemukan pengusaha asing. Jack yang berstatus sebagai guru bahasa Inggris meminta mantan-mantan muridnya menyebarkan bisnis baru ini.

Perlahan, bisnis-bisnis yang digeluti mantan murid Jack ketiban untung oleh startup yang didirikan Jack Ma. Singkat cerita, pada awal 1999, Hangzhou Haibo Translation Agency dan Hangzhou Haibo Network Consulting bertransformasi menjadi Alibaba, perusaahaan yang menurut Duncan Clark "memainkan peran penting dalam restrukturisasi ekonomi China".

Perusahaan yang didirikan Jack ini perlahan tapi pasti mengubah titel Cina sebagai manufaktur dunia, mengalihkan slogan "Made in China" menjadi "Dibeli dari Cina." Alibaba pun meroket karena memerankan posisi penting dalam ekonomi Cina. Ia bahkan mengalahkan Amazon, perusahaan yang kerap dipandang sebagai biang segala e-commerce. Ketika Amazon melakukan penawaran saham perdana (IPO), perusahaan yang didirikan Jeff Bezos tersebut "hanya" bertambah kaya USD 54 juta. Ketika aksi korporasi yang sama dilakukan Jack Ma pada 2014 silam, pundi-pundi Alibaba membengkak hingga USD 25 miliar.

Jack mengungkapkan bahwa kunci sukses Alibaba terletak pada "Iron Triangle", alias tiga unit bisnis Alibaba, yakni e-commerce, logistik, dan finansial. Di sisi e-commerce, melalui Alibaba, Jack menguasai bisnis korporasi atau business-to-business. Untuk mengambil ceruk konsumen atau business-to-consumer, Alibaba mendirikan anak perusahaan baru: Taobao, Tmall, dan Aliexpress. Tak ketinggalan, guna mengiming-imingi masyarakat dengan diskon agar mau berbelanja di segala lini e-commerce milik Alibaba, Jack mendirikan Juhunsuan, portal tempat berkumpulnya kupon-kupon diskon ala Groupon. Melalui jejaring e-commerce ini, lebih dari 100 juta merchant dan milyaran individu berbelanja.

Di sisi logistik, usai ajakan bekerjasama ditolak mentah-mentah oleh PT. Pos-nya Cina di tahun 2005, Alibaba mendirikan kongsi perusahaan logistik bernama China Smart Logistics atau "Cainiao." Melalui kongsi ini, perusahaan logistik seperti Shentong (STO Express), Yuantong (YTO Express), Zhongtong (ZTO Express), dan Yunda--yang semuanya bermarkas besar tak jauh dari kandang Alibaba--meroket.

Terakhir, untuk memudahkan masyarakat Cina yang mayoritas tidak tersentuk produk perbankan berbelanja, Alibaba mendirikan Alipay.

Melalui "Segitiga Besi" tersebut, Alibaba tak tergoyahkan, bukan hanya di Cina, tapi di dunia--selama kekuasaan Xi Jinping tak diusik. Sialnya, usai menjadi superstar setara Bill Gates, Jack Ma mengusik Xi Jinping.


Mencoba Netral di Tengah-Tengah Kekuasaan Komunis Cina

Bertahun-tahun memimpin Alibaba sejak pendiriannya hingga pensiun di tahun 2019 lalu, Jack Ma selalu bersikeras bahwa perusahaannya mengambil posisi netral terhadap pemerintah Cina. "Alibaba telah mandiri selama bertahun-tahun. Apapun yang terjadi, kami menempuh jalan sendiri. Ya, (kami) jatuh cinta pada pemerintah, (tetapi) jangan menikahi mereka. Hormati saja," katanya.

Zheping Huang, dalam laporannya untuk Quartz, menyebut bahwa sikap Jack pada pemerintah Cina sesungguhnya tidak tepat disebut netral, alih-alih main aman. Untuk bermain aman, Jack memilih langkah "politik halus" guna melindungi Alibaba. Langkah ini ia praktikkan dengan baik ketika menjadi pembicara dalam World Economic Forum pada 2017 silam. Kala itu, ketika ditanya tentang perang dagang antara AS-Cina, Jack hanya menyebut bahwa perkara tersebut "berbahaya". Bagi Jack, "jika perdagangan antara Cina-AS berhenti, perang dimulai." Tatkala pendapatnya dielaborasi lebih jauh, Jack memilih menghindar.

Ketika ditanya soal Taiwan, Jack menjawab, "Jika Anda membuat masalah dengan Taiwan, Anda seperti melawan 1,4 miliar orang," kalimat, yang menurut Zheping, senada dengan "melukai perasaan rakyat Cina". Lalu, ketika para wartawan mengelaborasi jawabannya soal Taiwan lebih jauh, Jack berkilah. "Saya hanya berbicara soal perdagangan, tidak tentang Taiwan," terang Jack.

infografik jack ma
infografik jack ma


Wartawan juga pernah meminta pendapatnya soal skema Sesame Credit Score--suatu skor yang diberikan pemerintah Cina pada warganya melalui indikator kepatuhan (warga yang memperoleh skor yang baik akan diberi hadiah berupa potongan harga berbelanja). Skor ini sering dianggap sebagai bentuk sensor pemerintah--yang dipraktikkan Alibaba, Jack menjawab: "Itulah mengapa saya harus pensiun dini." Lebih jauh, ia menyebut "saya tidak ingin mati di kantor saya. Saya ingin mati di pantai."

Tentu, sikap "politik halus" yang ditunjukkan Jack terasa aneh. Orang kaya dengan status "superstar" dan kekuatan jaringan seperti Jack umumnya bisa bertindak sesukanya, sulit dikekang negara atau moralitas. Lihatlah Elon Musk yang menyandangkan tiga mobil listriknya, Tesla Model S, Model 3, dan Model X, membentuk "SEX". Demikian pula Bill Gates. Tidak ada masalah baginya untuk mengkritik penanganan Corona yang ambyar di bawah kendali Presiden Donald Trump.

Sayangnya, Jack tinggal di Cina. Alibaba, sumber kekayaannya, juga diduga kuat dikendalikan oleh Beijing. Heather Timmons, dalam laporannya untuk Quartz, menyebut bahwa daftar nama-nama pemegang saham Alibaba memiliki banyak kejanggalan. Tulisnya, "dokumen Alibaba yang dikirim ke Komisi Sekuritas dan Bursa tidak menyebutkan nama 28 mitra utama Alibaba, begitu pula situs web perusahaan." Mitra-mitra Alibaba, sebut Timmons, telah lama menyandang status "rahasia negara", yang diduga terkait Politbiro partai Komunis Cina.

Dengan mitra-mitra utama Alibaba berstatus sebagai "rahasia negara", mudah bagi Beijing menghancurkan Alibaba dari dalam. Dan status superstar yang dimiliki Jack, hanya sementara. Tinggal menunggu Jack tersandung masalah dengan Beijing.

Kesialan Jack akhirnya tiba juga. Kisahnya bermula dari penawaran saham perdana (IPO) Alipay, perusahaan finansial yang awalnya dimiliki Alibaba tetapi kemudian diambil alih langsung di bawah Jack. November silam, proses ini dihentikan otoritas Cina. Beijing memanggap ada yang salah dengan IPO yang diperkirakan dapat menggelembungkan valuasi Alipay antara USD 350 miliar hingga USD 450 miliar. Regulator di Hong Kong dan Shanghai, hanya menyebut Alipay memiliki "masalah utama" tanpa mengelaborasi lebih jauh apa yang dimaksudnya.

Jack pun marah. Dalam sebuah pertemuan para pebisnis di Shanghai, ia mengkritik Cina. Jack menyatakan bahwa seharusnya Cina sesegera mengkin menghapus sistem "pegadaian" atau "agunan" untuk meminjam uang dari bank. Menurutnya, dengan menggunakan sistem agunan, kegagalan sistemik karena gagal bayar pun tidak akan usai. Bagi Jack, Cina seharusnya beranjak dari sistem keuangan yang kuno menuju sistem yang modern. Masalah finansial yang kini dihadapi Cina disembuhkan oleh orang-orang tua di pemerintahan, ucap Jack, "dengan obat Alzheimer" padahal "Cina memiliki penyakit Polio".

Setelahnya adalah misteri. Jack tak nampak di hadapan publik. Editorial People's Daily menyatakan, "Tidak ada yang disebut era Ma Yun (atau Yun Ma alias Jack Ma), tetapi hanya era yang memiliki Ma Yun di dalamnya. Tidak peduli apakah itu Ma Yun, Ma Huateng, Elon Musk, atau kita orang biasa, mereka yang sukses mencapai potensi terbesar adalah mereka yang merebut peluang yang sudah ada di era tersebut."

Singkat kata, People's Daily ingin menyebut bahwa ini era-nya Xi Jinping, bukan Jack Ma.

Baca juga artikel terkait JACK MA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight