tirto.id - Ibadah haji adalah panggilan Allah, bukan bagi mereka yang kaya raya. Hal ini juga berlaku bagi Jumaria P Sire Saaid, jemaah haji kloter 14 dari Embarkasi UPG. Siapa sangka, berkat menyisihkan hasil bertani ia bisa menunaikan rukun Islam kelima tahun ini.
Jemaah haji lansia berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros ini menabung selama 20 tahun dari hasil bertani. Ia tidak menyimpan di bank, melainkan ditaruh di dalam ember.
"Kalau sudah panen padi, saya jual, baru kusimpan," kata Jumaria saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) 2026, di Madinah, Rabu (6/5/2026).
Di usia lanjut ini, perempuan sederhana itu, akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Suci berkat kegigihan, keikhlasan, pengorbanan, serta keteguhannya untuk memenuhi panggilan Allah ke baitullah dan sowan Rasulullah SAW.
Rela Makan Ubi demi Menabung
Kisah hajinya bukan cerita soal kemewahan, tapi kesederhanaan dan kerja keras untuk mewujudkan keinginan menunaikan rukun Islam kelima. Bahkan, ia rela makan ubi agar duit yang ia tabung untuk niat haji tidak terpakai.

Jumaria memang menjadi sorotan pada musim haji tahun ini. Sebab, ia adalah seorang nenek yang wajahnya viral di media sosial, setelah Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.
Jumaria dipilih sebagai Ikon Haji 2026 ini karena kisahnya yang luar biasa. Ditambah lagi, kondisi fisiknya yang masih bugar dan kuat, meskipun usianya sudah hampir 70 tahun.
Jumaria hidup seorang diri di rumahnya di tengah sawah, cukup berjarak dari penduduk lain di kampungnya.
Selama ini, si nenek menghabiskan waktunya dengan sibuk bertani. Ia mengaku, hasil panen yang diperoleh tidak langsung dihabiskan untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian disisihkan dan disimpan sedikit demi sedikit sebagai tabungan haji.
Tak hanya dari sawah, ia juga menerima upah kecil dari bekerja di kebun milik orang lain. Meski nominalnya tidak besar, seluruh uang itu tetap ia simpan dengan disiplin.
Bagi Jumaria, menyimpan uang menjadi perjuangan tersendiri. Ia tidak memiliki tempat khusus untuk menabung. Uang hasil kerjanya disembunyikan di berbagai tempat sederhana agar aman dan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

"Kalau pertama dikasih, saya simpan begini. Bawa ini, bawah kasur. Jadi pergi, saya simpan mi di ember-ember," kata dia.
Ia bahkan menyimpan uang itu di dekat tempat tidurnya lalu menutupinya dengan kain-kain bekas agar tidak diketahui orang lain.
"Di bawah tempat tidur. Bawa tempat tidurnya ya. Iya, baru saya tutup kain-kain jelek toh, supaya tidak ada tahu. Gitu cucuku bilang 'ada uang di sini'," ujarnya sambil tersenyum kecil.
Tabungan itu terkumpul perlahan selama hampir dua dekade. Ada kalanya ia hanya bisa menyimpan uang recehan, namun tekadnya untuk berhaji tidak pernah surut.
"Kadang 50, kadang 20, kadang 100, kadang 200 gitu, hampir mi kapan 20 tahun," kata dia.
Selama bertahun-tahun, ia berusaha keras agar uang yang sudah disimpan tidak terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan saat hidup serba kekurangan, ia memilih bertahan dengan makanan seadanya.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































