Menuju konten utama

Keunikan Rumah Adat Suku Baduy Sulah Nyanda dari Provinsi Banten

Rumah sulah nyanda merupakan rumah adat suku Baduy di Provinsi Banten yang memiliki keunikan tersendiri.

Keunikan Rumah Adat Suku Baduy Sulah Nyanda dari Provinsi Banten
Warga Baduy bergotong royong untuk membangun kembali rumah tradisional Sulah Nyanda di Kampung Kadugede, Desa Kanekes, Lebak, Banten, Rabu (9/10/2019). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.

tirto.id - Sulah nyanda merupakan salah satu jenis rumah adat yang ada di Provinsi Banten. Rumah adat sulah nyanda lahir dari kebudayaan suku Baduy yang mendiami kawasan adat Kanekes di lereng Pegunungan Kendeng bagian selatan Banten.

Sebagai rumah asli penduduk setempat, rumah adat sulah nyanda umumnya memiliki keunikan yang dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat Baduy.

Menurut Kiki Ratnaning Arimbi dalam Berselancar Ke-34 Rumah Adat, Yuk! (2017) rumah adat merupakan salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku atau masyarakat. Oleh karena itu, rumah adat sulah nyanda dibangun dengan ketentuan-ketentuan adat serta kepercayaan masyarakat Baduy.

Suku Baduy sendiri merupakan kelompok orang Sunda asli yang menganut adat Sunda Wiwitan. Sebutan "Baduy" dipercaya berkaitan dengan nama sungai Cibaduy atau Gunung Baduy.

Struktur Rumah Adat Sulah Nyanda Banten

Rumah adat sulah nyanda diambil dari nama daun yang menutupi rumah, yaitu sulah nyanda. Menurut Arimbi kata nyanda memiliki makna "sikap bersandar."

Hal ini sesuai dengan bentuk atap rumah sulah nyanda yang sandarannya tidak lurus, tetapi agak rebah ke belakang. Atap sulah nyanda dibuat memanjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah dibanding bagian rangka atap.

Rumah sulah nyanda didirikan dengan menghadap ke selatan atau utara. Struktur utama rumah didirikan menggunakan kayu dan bambu. Bangunannya sendiri berbentuk panggung dimana badan rumah tidak menempel tanah, melainkan ditopang oleh tiang-tiang kayu.

Menurut Intania Poerwaningtias dan Nindya K.Suwarto dalam Rumah Adat Nusantara (2017) rumah panggung merupakan bentuk rumah adat yang paling banyak terdapat di Indonesia. Rumah bentuk panggung dianggap dapat melindungi penghuninya dari banjir maupun binatang buas.

Rumah sulah nyanda didirikan dalam tiga bagian. Menurut Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Banten ketiga bagian tersebut terdiri dari:

  • sosro atau bagian depan yang berfungsi sebagai ruang penerima tamu;
  • tepas atau bagian tengah yang berfungsi sebagai ruangan untuk tidur dan berkumpul dengan keluarga;
  • ipah atau bagian belakang yang berfungsi untuk menyimpan hasil ladang dan beras.
Infografik SC Rumah Suku Baduy
Infografik SC Rumah Suku Baduy. tirto.id/Fuad

Keunikan Rumah Adat Sulah Nyanda Banten

Uniknya, rumah adat sulah nyanda tidak memiliki ventilasi udara di dinding-dinding rumah. Tidak seperti rumah adat lainnya, ventilasi rumah sulah nyanda justru terletak di lubang lantai. Lubang ventilasi yang dibuat dari susunan bambu itu dikenal dengan sebutan palupuh.

Dispar Provinsi Banten menyebutkan bahwa tidak dibuatnya jendela dalam rumah sulah nyanda agar penghuni rumah yang ingin melihat situasi di luar harus keluar rumah terlebih dahulu.

Selain itu, rumah adat sulah nyanda dibangun dengan mengikuti kontur tanah. Hal ini berkaitan dengan pikukuh yang dijunjung oleh masyarakat setempat, yaitu "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak—Gunung jangan diratakan, lingkungan jangan dirusak.”

Sehingga, untuk mengatasi kontur tanah yang tidak rata dibuatlah tiang-tiang penopang rumah yang sering kali tidak sama rata.

Baca juga artikel terkait RUMAH ADAT atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Sosial budaya
Penulis: Yonada Nancy