Menuju konten utama

Ketua Banggar DPR Usul Penyaluran LPG Subsidi Pakai Biometrik

Dia menyebut kebutuhan subsidi LPG 3 kg sebenarnya bisa ditekan jika distribusi dilakukan secara tepat.

Ketua Banggar DPR Usul Penyaluran LPG Subsidi Pakai Biometrik
Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (1/9/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mengusulkan penggunaan teknologi biometrik seperti sidik jari hingga pemindaian retina dalam penyaluran subsidi LPG 3 kg. Menurut Said, langkah ini diperlukan agar distribusi LPG subsidi tepat sasaran.

Dia menilai akurasi data yang selama ini digunakan pemerintah dalam penyaluran subsidi belum cukup kuat.

“Caranya bukan sekadar semata-mata pemerintah punya DTSEN, tetapi juga lakukanlah—berulang kali saya bolak-balik (bilang)—dengan sidik jari atau retina mata bagi orang yang berhak untuk mendapatkan tabung elpiji 3 kg,” kata Said saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (6/4/2026).

Dia menyebut berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya, kebutuhan LPG 3 kg sebenarnya bisa ditekan jika distribusi dilakukan secara tepat.

“Karena hitungan kami, dari 8,6 juta kalau mau tepat sasaran, targeted, tidak sia-sia menghambur-hamburkan anggaran, elpiji tabung 3 kg itu hanya 5,4 juta cukup,” kata Said.

Sebelumnya, Said juga tak setuju dengan usulan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla soal langkah pengurangan subsidi bahan bakar minyak atau BBM di tengah konflik global. Menurut dia, yang seharusnya diperhatikan adalah subsidi yang tepat sasaran.

“Kalau subsidi BBM dikurangi kami tidak setuju,” ujar Said.

Said menilai kenaikan harga pada sektor energi memang berdampak pada beban keuangan negara. Namun, kata dia, hal itu tidak selalu menjadi alasan untuk mengurangi subsidi bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Mengapa kita selalu mengutak-atik subsidi? Kenapa kita tidak bicara terhadap harga BBM non-subsidi yang sampai sekarang belum naik? Kenapa untuk orang miskin yang diotak-atik? jangan dong,” kata Said.

“Kalau mau diotak-atik, yang sudah dijual di pasar yang gak harga keekonomian. Itu lebih make sense,” sambung Said.

Lebih jauh, Said pun meminta agar setiap kenaikan harga dapat dihitung dengan benar terkait dampak inflasinya. Sebab, hal itu akan memengaruhi banyak sektor.

“Jadi, kita lagi berhitung betul. Kasih kesempatanlah. Jangan kemudian BBM begitu harga minyak naik, kita kayak kebakaran jenggot seakan-akan besok langit akan runtuh,” kata Said.

Baca juga artikel terkait SUBSIDI LPG 3 KG atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi