tirto.id - Sepuluh kecamatan di Kota Surabaya, Jawa Timur terendam banjir pada Selasa (23/6/2026). Banjir ini terjadi di belasan titik di 10 kecamatan. Bagaimana hal ini terjadi, bukankah kini telah masuk musim kemarau?
Banjir di belasan titik di Surabaya itu terjadi usai hujan deras yang turun sejak Selasa dini hari. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Gatot Subroto menyebut, hal itu kemudian menyebabkan banjir dengan ketinggian antara 8 sentimeter hingga 50 sentimeter.
Menurut Gatot, banjir ini telah merendam berbagai ruas jalan, kawasan permukiman, hingga fasilitas kesehatan. Namun, BPBD memastikan tak ada warga yang harus mengungsi akibat banjir ini.
Gatot menyebut bahwa apa yang terjadi di Surabaya ini merupakan bentuk anomali cuaca di tengah musim kemarau. Menurutnya, hal ini sesuai dengan prakiraan cuaca yang disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk Surabaya dan Sidoarjo.
“BMKG sudah menyampaikan beberapa hari ini memang ada anomali cuaca yang perlu diantisipasi,” kata Gatot pada Selasa.
Berbagai Faktor Penyebab Banjir Surabaya Saat Ini
Seturut Antara, BPBD Kota Surabaya dan BMKG sebelumnya sempat menganalisis banjir Surabaya di tengah musim kemarau ini. Analisis tersebut menunjukkan bahwa banjir terjadi karena berbagai faktor, yakni hujan lebat, hambatan pada aliran ke laut, serta kiriman dari hulu.
Menurut Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto menyebut analisis bersama BMKG menemukan bahwa Kota Pahlawan itu memang sedang mengalami anomali cuaca. Anomali ini dipicu oleh pola angin konvergensi.
Pola angin ini memperlambat pergerakan angin dan mengangkat massa udara lembab ke atmosfer. Oleh karenanya, hal ini memicu pembentukan awan hujan.
“Sehingga menghasilkan hujan sedang hingga lebat di wilayah Surabaya,” tutur Irvan.
Anomali cuaca itu kemudian menjadi banjir karena terjadi bersamaan dengan situasi-situasi lainnya. Hal itu seperti adanya backwater effect atau hambatan pembuangan air ke laut saat periode pasang.
Situasi itu membuat aliran air menuju laut melambat dan memperbesar potensi genangan di banyak titik di Kota Surabaya. Situasi pasang air laut di Pelabuhan Tanjung Perak diperkirakan terjadi hingga akhir Juni.
“Periode 28-30 Juni menjadi waktu yang paling perlu diwaspadai karena pasang laut diperkirakan mencapai nilai maksimum,” ujar Irvan.
Pada saat yang sama, banjir yang terjadi di Surabaya ini juga berpotensi terjadi karena faktor adanya debit kiriman dari hulu sungai maupun saluran. Belakangan, Walikota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan kini banyak proyek sistem drainase yang sedang dikerjakan di Surabaya, membuat efektivitasnya sedikit berkurang.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































