tirto.id - Oleh: Cut Azizah, Nurrohman Wijaya, Budi Faisal, dan Mohammad Zaini Dahlan
Desa Pengidam di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, berada di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang dan berbatasan dengan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Lanskap ini menjadikan lokasi desa tersebut berdekatan dengan kawasan hutan yang penting sebagai kawasan penjaga ekosistem, tetapi juga menempatkannya dalam ruang yang rentan terhadap banjir bandang bila daerah hulu tidak terjaga dengan baik.
Dalam kegiatan pengabdian kolaboratif Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Almuslim, kami menyampaikan satu fakta penting berdasarkan bukti ilmiah kepada warga masyarakat lokal, di mana Desa Pengidam termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan banjir bandang tinggi. Bagi masyarakat, informasi itu tidak terasa asing. Mereka telah hidup dengan pengalaman bencana yang berulang. Oleh karena itu, persoalan utama di Pengidam bukan lagi apakah ancaman itu nyata, melainkan bagaimana masyarakat harus hidup di dalamnya dan beradaptasi bersama ancaman bencana yang akan terjadi.
Jawaban warga cenderung tegas. Mereka memilih untuk bertahan. Pilihan itu bukan tanda bahwa risiko bencana diabaikan. Warga sangat memahami ancaman yang mereka hadapi. Mereka mengetahui air datang dari hulu dengan cepat. Mereka sadar dan mengetahui, selain air, kayu, batu dan lumpur bisa ikut menyerbu. Mereka juga mengetahui bahwa kerusakan dapat terjadi dalam waktu singkat. Namun, meninggalkan kampung halaman mereka bukan keputusan yang sederhana. Di sana ada rumah, kebun, pekerjaan, sejarah keluarga, kekerabatan, keterikatan emosional (emotional attachment) dan hubungan sosial yang tidak mudah dipindahkan begitu saja. Ketika pilihan yang diambil adalah bertahan, maka konsekuensinya jelas: adaptasi dan mitigasi banjir bandang harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Pengidam.
Desa Pengidam sendiri terdiri atas tiga dusun, yaitu Suka Maju, Suka Jaya, dan Bandar Baru. Pada kejadian banjir bandang tanggal 25 November 2025, Dusun Suka Maju dilaporkan hilang total. Peristiwa ini menjadi titik paling kuat dalam ingatan warga, tetapi bukan satu satunya pengalaman bencana yang mereka kenal. Bagi masyarakat Pengidam, banjir bandang telah lama menjadi bagian dari sejarah desa.
Kondisi itu sejalan dengan hasil riset sebelumnya. Dalam analisis distribusi bahaya banjir pada DAS Tamiang tahun 2020, Desa Pengidam telah dikategorikan sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Artinya, ancaman tersebut sebenarnya sudah sejak awal teridentifikasi. Masalahnya, pengetahuan tentang risiko tidak selalu cukup kuat masuk ke dalam keputusan sehari-hari terkait hunian rumah, ruang tepi sungai, dan cara desa berkembang. Akibatnya, risiko bencana yang telah diketahui tetap berulang dan tinggal di tempat yang sama.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan pada tanggal 6 sampai 7 April 2026 terbagi ke dalam empat sesi utama, yaitu Forum Group Discussion (FGD) dengan masyarakat desa, edukasi di Sekolah Dasar Negri dan Sekolah Menengah Pertama Negri Pengidam, serta penanaman pohon sukun. Rangkaian ini penting karena menunjukkan bahwa penanganan Risiko bencana tidak cukup dilakukan dengan penyuluhan satu arah. Yang dibutuhkan adalah ruang untuk mendengar pengalaman warga, memperkuat pengetahuan lokal, menanamkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan sejak dini, serta memperkenalkan langkah adaptasi yang dapat dilakukan di tingkat desa.

Sesi FGD menjadi ruang yang paling terbuka untuk memahami cara warga membaca bencana. Dalam forum ini, peserta dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu ekonomi, hunian tempat tinggal, fisik lingkungan, serta infrastruktur jalan, listrik, internet, dan air. Dari kelompok ekonomi, warga menjelaskan bahwa banjir bandang telah mengganggu aktivitas ekonomi mereka.
Ketika akses terputus, aktivitas penghidupan ikut lumpuh. Dari kelompok hunian, warga menyampaikan kerusakan rumah dan rentannya tempat tinggal mereka saat berhadapan dengan banjir bandang.
Dari kelompok fisik lingkungan, muncul kesadaran bahwa sempadan sungai harus disisakan untuk pohon dan fungsi lindung. Dari kelompok infrastruktur, warga menegaskan perlunya membangun struktur rumah yang lebih kuat atau mencari lokasi yang lebih tinggi agar kerusakan dapat dikurangi ketika banjir datang kembali.
Temuan ini memperlihatkan bahwa warga bukan hanya sebagai obyek yang terdampak, namun juga dapat menjadi subjek yang mampu membaca persoalan ruang hidupnya sendiri serta dapat melakukan adaptasi dan mitigasi sejauh yang mereka dapat lakukan. Mereka memahami bahwa bertahan tidak bisa dijalani dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Ada hal-hal yang secara substansial perlu diubah, mulai dari menentukan lokasi aman untuk hunian dan fasilitas publik desa, cara memanfaatkan lahan di tepi sungai sampai cara membangun rumah yang aman dari banjir bandang.
Menariknya, masyarakat Pengidam sebenarnya telah memiliki sistem peringatan dini sederhana berbasis kekerabatan yang tumbuh dari pengalaman. Warga bercerita bahwa ketika hujan lebat terjadi di hulu, mereka kerap menerima telepon dari saudara atau kerabat dari wilayah yang secara topografi lebih tinggi di Pinding, Kabupaten Gayo Lues. Pesannya singkat, tetapi penting: di sini hujan deras, waspadai banjir di Pengidam. Jejaring informasi berbasis kekerabatan seperti ini menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat telah dibangun melalui hubungan sosial dan pengalaman masa lalu.
Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, pengetahuan lokal tersebut tidak diabaikan, tetapi justru diperkuat. Kami membantu menghitung waktu tempuh air dari hulu menuju Desa Pengidam sebagai dasar pengembangan sistem peringatan dini berbasis masyarakat. Hasilnya menunjukkan bahwa aliran dari Lokop, Kabupaten Aceh Timur dapat mencapai desa dalam waktu sekitar 9 jam, sedangkan dari Pinding, Kabupaten Gayo Lues sekitar 7,5 jam. Perhitungan ini membuat peringatan berbasis komunikasi telepon seluler antar kerabat menjadi lebih operasional karena warga memiliki gambaran waktu yang lebih jelas untuk segera bergegas menyiapkan diri untuk melakukan evakuasi ke lokasi yang lebih aman.
Cerita tentang bertahan juga muncul dari pengalaman warga saat desa terisolasi. Ketika bantuan tidak bisa segera masuk karena terputusnya akses komunikasi, akses fisik serta berbagai keterbatasan lainnya, mereka bertahan dengan memanfaatkan tumbuhan pisang yang tersedia di sekitar permukiman. Dalam situasi krisis, sumber daya lokal menjadi penyangga pertama kehidupan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat tidak semata dibangun dari bantuan luar, tetapi juga dari kearifan pengetahuan lokal tentang apa yang bisa dimanfaatkan saat keadaan darurat.
Karena itu, sesi penanaman pohon sukun memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar penghijauan. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, penanaman pohon sukun ditempatkan sebagai bagian dari penerapan jejaring infrastruktur hijau untuk mendukung ketahanan pangan dan adaptasi iklim di Desa Pengidam. Pohon sukun dipilih karena merupakan pohon besar yang relatif tahan terhadap kondisi iklim dan dapat menjadi sumber pangan jangka panjang. Jika pada masa krisis warga pernah bertahan dengan pisang, maka sukun dapat menjadi pendukung tambahan yang berfungsi sebagai langkah adaptasi yang lebih terencana untuk masa depan.
Sementara itu, kegiatan di SDN Pengidam dan SMPN Pengidam menunjukkan bahwa risiko banjir bandang juga perlu dipahami sebagai persoalan antar generasi. Anak anak diajak memahami ancaman banjir, mengenali tanda bahaya, dan mengikuti simulasi evakuasi menuju titik yang lebih tinggi. Kesiapsiagaan seperti ini penting karena tidak dapat dibangun hanya setelah bencana terjadi. Ia harus ditanamkan sejak dini secara reguler sebagai bagian dari budaya hidup di wilayah rawan bencana.
Dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, hikmah dan pelajaran utamanya cukup jelas. Ketika masyarakat memilih tetap tinggal di desa yang rawan banjir bandang, maka adaptasi dan mitigasi tidak boleh dipandang sebagai sekedar kebutuhan tambahan, melainkan keduanya harus menjadi kebutuhan pokok dalam perencanaan kawasan pedesaan. Konsekuesinya, berarti desain dan struktur rumah perlu dibangun lebih aman, sempadan sungai harus dijaga, pepohonan harus kembali ditanam, sistem peringatan dini harus diperkuat, jalur evakuasi perlu direncanakan dengan baik dan harus mudah dipahami, serta generasi muda harus dibekali pengetahuan yang memadai yang di integrasikan dalam kurikulum sekolah mereka .
Pada akhirnya, persoalan di Desa Pengidam bukan sekadar memilih bertahan atau pergi. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat yang memilih bertahan tidak dibiarkan menghadapi risiko itu sendirian. Jika berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah, perguruan tinggi, civil society dan masyarakat Desa Pengidam dapat bertemu dalam gerakan langkah yang sama, maka bertahan tidak lagi berarti pasrah pada bencana. Bertahan dapat menjadi pilihan yang disertai pengetahuan, kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan upaya nyata untuk hidup lebih aman dan bertanggung jawab.
Cut Azizah adalah dosen dan peneliti dari Fakultas Teknik, Universitas Almuslim Bireun. Tulisan ini dibantu oleh Nurrohman Wijaya, Budi Faisal, dan Mohammad Zaini Dahlan yang merupakan dosen dan peneliti dari SAPPK, Institut Teknologi Bandung.
Editor: Tirto Creative Lab
Masuk tirto.id


































