tirto.id - Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,7 mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB atau 11.27 WITA.
Berdasarkan parameter data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa berpusat di darat pada koordinat 1,03 Lintang Selatan (LS) dan 120,24 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 10 kilometer.
Episenter berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala.
Ini bukan pertama kali Palu dilanda gempa. Sebelumnya pada 2018, gempa besar berkekuatan M7,5 memporak-porandakan wilayah tersebut.
Kenapa Palu sering dilanda gempa bumi? Simak fakta-faktanya di bawah ini.
Alasan Kenapa Palu Sering Dilanda Gempa Bumi
Gempa M6,7 yang mengguncang Palu pada 16 Juni dirasakan kuat selama sekitar 4 hingga 6 detik. Warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Selama kurun waktu 85 tahun terakhir setidaknya sudah terjadi sepuluh kali gempa di provinsi ini, yakni pada 1927, 1930, 1938, 1994, 1996 (terjadi dua kali), 1998, 2005, 2008, dan 2012. Beberapa di antara gempa tersebut disertai tsunami.
Sulawesi menjadi pulai yang rawan gempa karena menjadi pertemuan tiga lempeng utama yang menimbulkan dampak geologi yang sangat kompleks dan beragam.
Ahli Geologi UGM, Prof. Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo, DEA, mengatakan Kota Palu dan Donggala merupakan titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia.
“Palu dan Donggala berada di zona benturan tiga lempeng besar dunia sehingga menjadi daerah yang rawan terjadi gempa,” jelasnya saat ditemui di Departemen Geologi Fakultas Teknik UGM, pada Oktober 2018, dikutip laman ugm.ac.id.
Pergerakan lempeng-lempeng itu, kata dia, mendorong pergerakan sesar geser Palu Koro yang mengakibatkan gempa M75 yang terjadi pada 2018. Sesar ini tergolong aktif karena pergerakannya mencapai 45 milimeter per tahun.
“Gempa di Sulawesi ini mekanismenya sesar geser yang tidak menimbulkan perubahan volume air laut atau dengan kata lain tidak memicu tsunami,” kata Subagyo.
Pada 2018 tersebut, Palu juga dilanda tsunami yang kemungkinan terjadi karena adanya longsoran sedimen di bawah laut yang cukup besar dan muncul akibat pergeseran lempeng.
Gempa bumi yang mengguncang Palu dan Donggala tidak hanya mengakibatkan bencana susulan berupa tsunami, tetapi juga memunculkan fenomena tanah bergerak atau likuifaksi. Likuifaksi diketahui terjadi di daerah Sigi Sulawesi Tengah.
Likuifaksi, disebutkan Subagyo, banyak terjadi pada tanah berpasir. Saat terjadi gempa tanah yang berpasir tercampur dengan air tanah di bawahnya. Melarut dengan air tanah dan menerobos rekahan tanah di permukaan.
Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM, Dr. Djati Mardiatno, dikutip laman yang sama, menyampaikan, daerah Palu dan Donggala telah diidentifikasi sebagai daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Bahkan, telah dimasukkan dalam zona merah rawan gempa.
Pada gempa tahun 2026 ini, Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama dalam konferensi pers daring, Selasa (16/6) menyebutkan gempa Palu ini adalah jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Sausu.
Sesar Sausu adalah salah satu sesar aktif di Sulawesi Tengah, yang terletak di kawasan daratan dekat Palu. Sesar ini merupakan jenis sesar dangkal dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault) yang menjadi salah satu sumber aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Dampak Gempa Palu 16 Juni
Mengutip Antara News, Selasa (16/6), laporan sementara mencatat adanya kerusakan pada sejumlah bangunan di beberapa titik di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong.
Namun, rincian jumlah serta tingkat kerusakan masih dalam proses pendataan oleh tim BPBD setempat.
BMKG melaporkan, hingga pukul 12.17 WITA telah terjadi 13 kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo yang bervariasi di sekitar lokasi gempa utama. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh masyarakat di wilayah terdampak.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi, serta mengikuti arahan dari pemerintah daerah, BPBD, dan BMKG.
Warga diminta tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali masuk ke dalam rumah, serta segera menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan hingga dinyatakan aman oleh petugas berwenang.
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id


































