Menuju konten utama

BMKG Pantau Risiko Likuifaksi Akibat Gempa Palu M6,7

BMKG memantau risiko likuifaksi pascagempa Palu M6,7. Hingga kini belum ada laporan likuifaksi maupun kerusakan struktural berat bangunan.

BMKG Pantau Risiko Likuifaksi Akibat Gempa Palu M6,7
Ilustrasi Gempa. FOTO/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - BMKG terus memantau aktivitas gempa susulan yang masih terjadi pascagempa utama sebesar magnitudo 6,7 di Palu, Sulawesi Tengah.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menuturkan bahwa gempa susulan yang tercatat hingga saat ini didominasi dengan kekuatan kecil dengan magnitudo terbesar 5,1. Per pukul 12.00 WIB telah terjadi 20 kali aktivitas gempa susulan di wilayah tersebut .

"Kita harap semakin ke depan frekuensinya semakin sedikit dan kekuatan juga akan semakin kecil," ujarnya dalam konferensi pers daring, Selasa (16/6/2026).

Menyusul memori kelam bencana 2018 silam, BMKG juga mewaspadai potensi likuifaksi. Diketahui, gempa dahsyat berkekuatan M 7,5 yang pernah melanda Palu pada 2018 lalu memicu fenomena tanah bergerak di sejumlah wilayah.

Wijayanto pun mencermati risiko gempa M 6,7 kali ini terhadap kemungkinan memicu likuifaksi di sejumlah wilayah. Hanya saja dampaknya akan terbatas di wilayah berpasir dan mengandung air.

“Tapi tentunya dengan gempa yang saat ini M 6,7 itu bisa saja kemungkinan terjadi likuifaksi. Tapi kan likuifaksi tidak terjadi di semua wilayah ya,” ucapnya.

Ia pun menyebut potensi likuifaksi akibat gempa kali ini diyakini tidak akan signifikan. Wijayanto menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan terkait hal tersebut e.

"Antara 6,7 dan 7,5 itu sangat beda sekali energinya. Harapannya nanti tidak ada. Sampai saat ini kita belum menerima informasi gempa bumi yang menimbulkan likuifaksi. Sampai saat ini kita juga belum menerima informasi longsor," katanya.

Berdasarkan pantauan terakhir, kerusakan yang dilaporkan masih didominasi kategori ringan, seperti plafon runtuh, dinding dan pagar retak, serta atap bangunan yang roboh. BMKG memastikan belum ada laporan kerusakan struktural berat pada bangunan.

"Kerusakan ringan itu bukan terjadi struktur yang rusak. Hanya plafon yang runtuh, sebagian dinding, sebagian pagar, cafe tadi atapnya mungkin strukturnya tidak kuat," jelasnya.

BMKG turut mengingatkan bahwa sumber gempa kali ini adalah Sesar Sausu, salah satu dari sekian banyak sesar aktif di wilayah Palu, seperti Sesar Ampana dan Sesar Palu Koro. Namun, aktivitas di satu sesar tidak serta-merta memicu gempa lebih besar di sesar tetangga.

"Sebetulnya dengan sesar-sesar aktif ini biasanya tidak memicu aktivitas sesar di sekitarnya. Jadi misalkan nanti memicu sesar di sekitarnya bukan berarti nanti akan memicu gempa yang lebih besar," tuturnya.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dipna Videlia Putsanra