tirto.id - Korban dalam insiden tabrakan kereta yang melibatkan KRL CommuterLine dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur semuanya adalah perempuan. Hal ini dikarenakan gerbong yang paling terdampak adalah gerbong paling belakang KRL yang merupakan gerbong khusus wanita.
Data terbaru per Selasa (28/4/2026) memperlihatkan jumlah korban meninggal dunia dalam kecelakaan tragis ini adalah 14 orang. Selain itu, terdapat 84 orang yang berstatus sebagai korban luka-luka dan mendapatkan perawatan di beberapa rumah sakit di Bekasi.
Kepala Basarnas Mohamad Syafii menjelaskan jika proses evakuasi korban telah rampung dilaksanakan dan ia memastikan semua korban berjenis kelamin wanita dewasa.
Sejarah Gerbong Khusus Wanita
Gerbong khusus wanita atau disebut juga Kereta Khusus Wanita (KKW) diperkenalkan Kementerian Perhubungan sejak 2010. Ini merupakan kebijakan transportasi publik yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, serta rasa aman bagi penumpang perempuan.
Selain diberi tanda berwarna merah muda dan juga stiker bertuliskan khusus wanita, gerbong ini juga sengaja ditempatkan di bagian paling ujung yakni di depan dan belakang rangkaian kereta.
Kebijakan ini lahir sebagai respons atas tingginya risiko pelecehan seksual dan ketidaknyamanan yang sering terjadi di transportasi umum yang padat, terutama pada jam sibuk.
Kondisi seperti desakan penumpang dan minimnya ruang pribadi di kereta komuter menjadi salah satu faktor utama yang membuat perempuan lebih rentan mengalami pelecehan di ruang publik.
Laporan survei global yang dilakukan Thomson Reuters Foundation bersama lembaga polling YouGov pada 2014 lalu menyebutkan bahwa transportasi yang tidak aman berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi perempuan.
Dalam laporan tersebut juga menyoroti bahwa di banyak kota besar di dunia, perempuan lebih bergantung pada transportasi umum dibanding laki-laki, sehingga dampak ketidakamanan menjadi lebih besar bagi mereka.
Karena itu, pemisahan gerbong ini diharapkan dapat memberikan ruang perjalanan yang lebih aman, termasuk bagi perempuan yang bepergian sendiri maupun ibu yang membawa anak kecil, sehingga mereka memiliki alternatif perjalanan yang lebih nyaman dan terlindungi.
Alasan Gerbong Khusus Perempuan Ada di Depan dan Belakang
Berikut beberapa alasan penempatan gerbong khusus perempuan di rangkaian KRL:
1. Akses lebih mudah dan cepat dikontrol
Gerbong di ujung kereta, baik di depan maupun belakang, lebih mudah diawasi oleh petugas dan lebih cepat dijangkau jika terjadi insiden atau gangguan.2. Mengurangi potensi bercampur dengan gerbong umum
Dengan menempatkan di ujung, risiko penumpang salah masuk atau bercampur dengan gerbong biasa menjadi lebih kecil.Penumpang wanita akan lebih cepat mengenali gerbong khusus tersebut jika ditempatkan di posisi ujung, tanpa harus mencari-cari terlebih dahulu.
3. Adaptasi dari pola serupa di banyak negara
Di beberapa sistem metro seperti Jepang dan China, gerbong prioritas wanita juga sering ditempatkan di ujung rangkaian untuk alasan operasional dan pengaturan penumpang.Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































