tirto.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mendorong percepatan penyelesaian pembangunan jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Pidekso di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Proyek strategis nasional ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan Bendungan Pidekso untuk mengairi lahan pertanian seluas 1.493 hektare dan meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah setempat.
Menteri PU, Dody Hanggodo, mengatakan bahwa percepatan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar setiap bendungan tersambung ke sawah.
“Untuk Pidekso, kami targetkan pembangunan jaringan primer kanan dan kiri sepanjang total 12 kilometer dapat selesai pada Desember 2025. Dengan begitu, air bendungan bisa mengaliri sekitar 237 hektare sawah secara optimal,” kata Dody seperti dikutip dari keterangan resminya, Sabtu (27/9/2025).
Dody menjelaskan, anggaran pembangunan jaringan irigasi merupakan prioritas yang tidak terkena efisiensi dan justru mendapatkan penambahan anggaran. Hal ini dilakukan untuk mendorong percepatan swasembada pangan.
Sementara itu, Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) BBWS Bengawan Solo, Kalmah, menyatakan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap. Jaringan irigasi ini tidak hanya menyuplai air untuk sawah di sekitar bendungan, tetapi juga dirancang untuk mengalirkan air hingga ke daerah irigasi existing di Kecamatan Giriwoyo dan Baturetno yang berjarak sekitar 30 km.
Menurutnya, sebelum ada Bendungan Pidekso, petani hanya mengandalkan air hujan atau pompa dari sungai. Kondisi ini membuat petani rata-rata hanya bisa menanam padi sekali setahun. Setelah bendungan terbangun, petani diharapkan bisa panen hingga dua kali setahun.
“Dengan jaringan irigasi teknis yang sedang kita bangun, produktivitas pertanian akan semakin meningkat karena distribusi air bisa menjangkau sawah tadah hujan secara lebih merata,” ucap Kalmah.
Bendungan Pidekso dengan kapasitas tampung 25 juta m³ dan luas genangan 232 hektare akan mengairi 1.493 hektare lahan pertanian yang terdiri dari lahan fungsional seluas 1.295 hektare di Giriwoyo dan Baturetno, serta lahan potensial bekas sawah tadah hujan seluas 198 hektare.
Selain untuk irigasi, bendungan multifungsi ini menyediakan air baku bagi masyarakat Wonogiri dengan kapasitas 300 liter/detik, berpotensi sebagai destinasi wisata baru, serta mampu mereduksi debit banjir sekitar 11 persen di wilayah hilir melalui integrasi pengelolaan sungai yang terhubung dengan Waduk Gajah Mungkur.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id




































