Keluarga Akbar Tanjung, Om Liem Sioe Liong dan Indomilk

Oleh: Petrik Matanasi - 17 Maret 2018
Dibaca Normal 2 menit
Indomilk dikenal dengan produk susunya. Perusahaan ini awalnya patungan antara perusahaan Australia dengan keluarga Akbar Tandjung.
tirto.id - Indomilk merupakan salah satu penguasa pasar persusuan di Indonesia. Merek Indomilk diproduksi oleh PT Indolakto, yang merupakan anak usaha tidak langsung dari konglomerasi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) milik Salim Grup.

Jauh sebelum dikuasai oleh Salim Grup, Indomilk merupakan perusahaan yang dirintis oleh Nahar Zahiruddin Tanjung. Ia merupakan kakak kandung dari mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung.

Nama Nahar pernah muncul dalam Arsip Rahasia Kedutaan Amerika di Jakarta 1964-1967 alias Jakarta Embassy Files (RG 84, Entry P 339, Jakarta Embassy Files, Box 31, Folder 10 TP 15 trade and investment opportunities 1967) menurut catatan Elliot Haynes, dalam Indonesian Diary. Dalam catatan halaman 12 dokumen tersebut, Haynes menyebut beberapa pengusaha hendak dikumpulkan dalam satu meja, salah satunya Nahar Zahiruddin Tanjung.

Haynes bertemu Nahar pada 24 November 1967 antara pukul 09.00-09.05. Mereka bertemu di lobi hotel. Pertemuan sangat singkat itu terjadi sebelum Haynes bertemu Duta Besar Australia untuk Indonesia, Max Loveday. Tak banyak keterangan tentang Nahar selain dia punya keterkaitan dalam Pacific Indonesia Businessmens Association (PIBA).

“Dia mengerti undangan untuk sesi bisnis dan perbankan, dia mengatakan bahwa dia adalah orang kunci dalam pertemuan PIBA. Dia bisa memanggil aku, jika tidak, saya harus menulis dia (harus menulis dalam hal apapun). Dia belum diterima secara formal,” tulis Elliot Haynes.



Nahar Zahiruddin Tanjung, menurut Tempo (24/08/1985), merupakan tokoh kelahiran Sorkam,Tapanuli Tengah, pada 3 April 1929. Ia merupakan mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA). Nahar adalah pimpinan dari N.V. Marison yang juga aktif sebagai pengurus Kamar Dagang Industri (KADIN). Di dunia usaha era Orde Baru, Nahar Zahirudin pernah dijuluki sebagai Raja Susu hingga meninggalnya pada tahun 1985.

“Tokoh inilah di lingkungan keluarga besar Zahirudin yang konon disebut-sebut menjadi idola sang adik, Akbar Tandjung,” tulis M. Deden Ridwan dan ‎Muhamad Muhajirin dalam Membangun Konsensus: Pemikiran dan Praktik Politik Akbar Tandjung (2003:53).

Hanya Nahar yang berkutat di bidang bisnis. Selain Akbar, dua saudarnya yakni Yani Yanis dan Usman juga menggeluti dunia politik. Kakak Akbar, M. Yanis Zahiruddin berpolitik di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebelumnya di Nahdatul Ulama (NU) dan pernah jadi anggota DPR. Begitu juga Usman Zahiruddin Tandjung, yang pernah jadi politisi di Partai Demokrasi Indonesia, sebelumnya di Partai Nasional Indonesia, dan pernah di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).


Infografik susu keluarga tandjung

Sepak Terjang NV Morison

NV Marison ada karena Dato Usman Zahirudin, ayah dari Nahar Zahiruddin Tanjung. Dato Usman semula bisnis di Sorkam itu lalu pindah ke Medan. “Di samping berdagang, Zahiruddin aktif menjadi salah seorang pengurus Muhammadiyah di Desa Sorkam,” tulis M. Deden Ridwan dan ‎Muhamad Muhajirin (2003:52). Usaha dagang keluarga yang dirintis dari zaman perang ini lalu pindah mengepakkan sayap ke Jakarta. Perusahaan ini, menurut Richard Robison dalam Indonesia: The Rise of Capital (2009:336), “berkembang di tahun 1950an dengan fasilitas Program Benteng."



Nahar Zahiruddin lewat NV Marison (yang belakangan dikenal juga sebagai PT Marison Nusantara) belakangan menjadi mitra Australian Dairy Corporation (ADC), yang bermarkas di Melbourne, dalam urusan memproduksi susu dan es krim. “Kebutuhan bahan bakunya dari Australia. Waktu itu Indomilk memang didirikan untuk memproduksi susu yang sedang surplus di Australia. Karena penjualan bahan baku saja kurang menguntungkan dan kurang menjamin,” tulis Menurut Prisma, Volume 11,Masalah 1-6 (1982:69).

Menurut Parliamentary Papers (1996:26), kesepakatan keduanya terjadi pada Desember 1967. P.T. Australia Indonesian Milk Industries pun terbentuk. Nahar pernah menjadi direktur dari usaha patungan itu.

Tahun 1967 merupakan tahun mulai masuknya investasi asing secara besar-besaran. Tahun 1968 kesepakatan itu mulai berjalan. "Bahkan kami terikat perjanjian kerjasama untuk masa 30 tahun," kata Nahar Zahiruddin seperti ditulis Prisma. Tahun 1970an, susu dari pabrik ini mulai beredar. Persaingan tidak ringan, karena produk susu cap Bendera Frisian Flag sudah lebih dulu beredar di Indonesia.

“Dalam industri susu siap minum untuk anak-anak ini, jelas Indomilk merupakan late-comer (pendatang yang terlambat). Waktu itu susu cap Bendera sudah berhasil merebut merebut pasar potensial anak-anak seusia sekolah dasar yang tinggal di urban-areas (perkotaan),” tulis Hermawan Kartajaya dalam Marketing klasik Indonesia (2006:83).

Menurut Prisma, Volume 11, Masalah 1-6 (1982:61), saham milik ADC belakangan hendak dijual kepada PT Kebun Bunga milik Rajkumar Singh, seharga 10 juta dolar. Usaha penjualan itu lalu gagal. Kemudian Liem Sioe Lion dan modalnya masuk. Perusahaan yang dipimpin Nahar itu, menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016:262), juga menjadi mitra Liem Sioe Liong. Pabrik es krim dan susu itu belakangan dikenal sebagai Indomilk.


Cerita masuknya Liem tentu terkait dengan modal. Menurut majalah Warta Ekonomi, Volume 5,Masalah 35-40 (1994:46), sebelum Liem masuk, keluarga Tanjung keteteran dalam berkongsi dengan perusahaan besar. Mereka berutang di bank dan tidak bisa membayar. Jadi menambah kapital saja sulit. Jika perusahaan Australia itu membayar, tentunya akan menambah persentase saham. Itu akan memengaruhi komposisi kepemilikan saham perusahaan. Kebetulan saja Anthony Salim, kenal baik dengan Akbar Tandjung yang menjadi pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Pertemuan yang disusul kesepakatan lalu terjadi. Bendera Indomilk pun terus berkibar hingga kini.



Baca juga artikel terkait SEJARAH PERUSAHAAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Marketing)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti