13 Mei 1950

Kelahiran Formula 1, Ajang Adu Nyali Para Pembalap Terbaik

Infografik Mozaik Kejuaraan Dunia Formula 1
Ilustrasi Mozaik Formula 1. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Renalto Setiawan - 13 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kejuaraan Dunia Formula Satu dimulai di Sirkuit Silverstone pada 1950 lalu. Sejak saat itu, adu "jet darat" terus mengalami peningkatan popularitas.
tirto.id - Sirkuit Silverstone, Inggris, bukanlah sirkuit balap terbaik di dunia. Terletak di dataran tinggi Northamptonshire, pemandangan di sana juga biasa saja. Jika dibandingkan dengan sirkuit-sirkuit balap internasional di Bahrain, China, bahkan Malaysia, Silverstone bahkan tampak seperti barang kuno yang hanya bisa ditemukan di etalase toko pedagang barang antik. Namun, sebagai salah satu sirkuit tertua di dunia, Silverstone jelas punya sejarah penting.

Alasannya: pada 13 Mei 1950, kejuaraan dunia Formula Satu (F1) digelar untuk pertama kalinya di sirkuit yang dibangun di atas bekas lapangan udara miliki Kerajaan Inggris tersebut.

Hari itu, tepat 69 tahun lalu, sekitar seratus ribu orang berbondong-bondong datang ke Silverstone. Mereka bercakap-cakap, makan burger dan minum bir, bersorak, dan sesekali bertepuk tangan. Raja George VI dan Ratu Elizabeth ada di tengah-tengah mereka, tak mau melewatkan momen bersejarah.

Di atas lintasan, ada 21 orang pembalap dari 9 negara ikut berlomba. Ada Giuseppe Farina, Juan Manuel Fangio, hingga pembalap andalan tuan rumah, Stirling Moss.

Memulai balapan dari barisan paling depan, Farina, Fagioli, dan Fangio langsung membuat para penonton geleng-geleng kepala. Tiga pembalap andalan Alfa Romeo itu ngebut meninggalkan para pesaingnya, dan saling salip untuk memperebutkan posisi pertama.

Namun, persaingan ketat itu ternyata tak bertahan hingga balapan bubar. Mendekati akhir lomba, Fangio mengalami kerusakan mesin dan Fagioli mulai kesulitan untuk mengimbangi kecepatan Farina. Pada akhirnya Farina pun berhasil memenangkan lomba, dinobatkan sebagai juara Grand Prix pertama, unggul 2,5 detik dari Fagioli yang finis di urutan kedua.

Dan, sejak kemenangan Farina di Silverstone itulah adu balap F1 terus menaiki tangga popularitas.

“Grand Prix perdana sudah berlangsung 65 tahun lalu, tetapi balapan di Silverstone itu selalu mempunyai tempat khusus dalam sejarah Formula Satu juga di dalam hati para penggemarnya," tulis Brad Spurgeon saat mengenang balapan bersejarah itu untuk The New York Times.

"Ia membikin F1 menjadi global. Siapa yang mengira jika pada abad ke-20 jumlah penonton F1 di televisi hanya kalah jumlah dari para penonton Olimpiade serta Piala Dunia?”


Ajangnya Orang-Orang Bernyali Tinggi


Ada banyak alasan mengapa kejuaraan dunia F1 menjadi salah satu tontonan yang diminati banyak orang. Kecepatan mobil F1 yang bisa menyerupai kecepatan jet udara adalah satunya, dan menurut Vlad Savov, yang pernah mampir ke garasi Renault pada tahun 2018, orang-orang yang bisa membuat mobil berlari secepat itu ialah alasan lainnya.

“Orang-orang itu bisa mendorong batas pengetahuan, mesin, serta desain dengan cara yang lebih gesit dan responsif daripada yang dilakukan di dalam hal lainnya,” tulis Savov.

Selain itu, ada satu lagi alasan yang seringkali dianggap paling penting di antara banyaknya alasan yang pernah ada: para pembalap.

Para pembalap F1 adalah orang-orang yang tak kenal rasa takut. Mereka hampir selalu menginjak pedal gas dalam-dalam selama kurang lebih dua jam, dengan risiko mengalami kematian. Meski tingkat keamanan mobil F1 lebih tinggi daripada kendaraan lainnya, mereka dituntut tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Karenanya, Jean Todt, Presiden Federasi Otomotif Internasional [FIA], pernah menyebut bahwa “para pembalap F1 seperti gladiator pada era modern”.

Dari sana, bahkan saat kejuaraan dunia F1 baru memasuki fase awal, para pembalap F1 sudah bisa dengan mudah meraih lampu sorot.

Pada era 50-an, tak ada pembalap F1 yang lebih hebat dari Juan Manuel Fangio. Ia berhasil menenangi 5 kali kejuaran dunia. Yang menarik, ia meraih lima kali gelar juara dunia itu dengan mengendarai mobil yang berbeda; pada tahun 1951 ia menang dengan Alfa Romeo, 1954 dan 1955 dengan Mercedes, 1956 dengan Ferrari, dan 1957 dengan mengendarai Maserati.

Karena kehebatannya di lintasan, popularitas Fangio kemudian menanjak pesat. Soal itu, Jack Stewart, mantan pembalap asal Inggris, sampai-sampai pernah mengatakan, “Saat Anda sedang berada di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan selebritis, lalu Fangio masuk ke ruangan itu, para selebritis itu akan segera dilupakan.”

Namun, meski mempunyai reputasi seperti itu, Fangio ternyata tak meremehkan para pembalap lain. Dan di antara para pesaingnya, Giuseppe Farina adalah salah satu pembalap yang paling ia hormati. Alasannya sederhana: Farina, yang merupakan juara dunia F1 pertama, ialah pembalap yang tak kenal rasa takut.

“Farina adalah pembalap hebat. Ia sangat cepat, dan aku tidak suka berada dekat-dekat dengan mobilnya. Dan di atas lintasan, ia adalah orang gila!” tutur Famingo

Rasa hormat Fangio terhadap Farina sendiri pernah ia ceritakan dalam buku resmi Formula Satu [2015]. Suatu kali, ia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Farina yang baru saja mengalami kecelakaan. Namun, Farina ternyata bersikap ketus terhadapnya.

Saat itu, Farina bertanya kepada Fangio, “Mengapa kamu datang menjengukku?”

Fangio menjawab secara enteng, bahwa ia datang ke rumah sakit untuk bersimpati sekaligus berharap agar Farina cepat sembuh. Namun, sekali lagi, Farina memberikan pernyataan mengagetkan.

“Kamu seharusnya merasa bahagia,” kata Farina. “Minggu depan [dalam kejuaraan], setidaknya sudah ada satu orang yang tak perlu kamu kalahkan.”




Setelah era Farina dan Fangio, pembalap-pembalap hebat dan bernyali lainnya terus bermunculan beriringan dengan terus berkembangnya formula 1. Dengan caranya masing-masing Graham Hill menjadi raja pada awal tahun 60-an, Jackie Stewart merajai akhir tahun 60-an, Niki Lauda tak terkejar pada tahun 70-an, hingga Lewis Hamilton yang menjadi primadona pada era sekarang.

Lantas, di antara sekian banyak yang berhasil menjadi raja Formula 1 pada eranya tersebut, siapa yang paling hebat?

Pada 2018, dalam “Who’s The Best Formula Driver of All The Time?”, Five Thirty Eight melakukan hitung-hitungan untuk menentukan siapa pembalap terbaik F1 sepanjang masa. Hitung-hitungan itu berdasarkan lama karier para pembalap, penampilan terbaik para pembalap, dan menggunakan lima musim terbaik para pembalap sebagai patokannya. Hasilnya ternyata tak mengejutkan: Ayrton Senna, pembalap asal Brasil, berada di posisi paling atas.

Senna, yang meninggal dunia setelah mengalami kecelakan pada 1 Mei 1994, memang hanya tiga kali meraih gelar juara dunia. Namun, barangkali tidak ada yang menyangkal bahwa ia adalah pembalap paling komplet yang memiliki nyali menembus langit. Dan untuk mewakili betapa hebatnya pembalap asal Brasil itu, Jessamy Calkin pernah menulis alegori terang benderang di Telegraph.

“Pengaruhnya luas,” tulis Calkin. “Bahkan mereka yang tidak menyukai dunia balap membicarakan Senna dengan perasaan memiliki.”

Baca juga artikel terkait FORMULA 1 atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight