tirto.id - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, mengatakan kayu-kayu gelondongan yang ditemukan saat terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra akan digunakan sebagai material pembangunan kembali rumah-rumah masyarakat yang mengalami kerusakan.
Tito menjelaskan, kayu-kayu itu akan digunakan untuk membangun hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Untuk pemanfaatan kayu itu lebih banyak mungkin diprioritaskan untuk pembangunan, untuk pembangunan rumah-rumah hunian tetap nantinya itu,” kata Tito dalam konferensi pers yang digelar di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

Menurutnya, pemerintah belum menggunakan kayu-kayu gelondongan itu sebagai material pembangunan huntap. Tapi saat ini, kata Tito, masyarakat sudah memanfaatkan kayu-kayu itu untuk membangun kembali rumah yang rusak.
Tito pun mengaku sudah melihat langsung pemanfaatan kayu-kayu gelondongan itu untuk memperbaiki rumah oleh masyarakat, saat ia berkunjung ke Langkahan, Aceh Utara.
Selain memperbaiki rumah, kayu-kayu itu disebutnya juga dipakai oleh masyarakat di Langkahan untuk memperbaiki berbagai fasilitas publik yang rusak.
“Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu, sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong. Ada yang juga yang untuk bangun pagarnya, kemudian juga untuk perbaikan masjid, untuk perbaikan sekolah dan sarana-sarana publik lainnya,” jelasnya.

Meski begitu, Tito menegaskan bahwa pemanfaatan kayu-kayu gelondongan itu harus dilakukan sesuai prosedur dan tidak boleh diperjualbelikan untuk kepentingan komersial.
“Cuma prosedurnya jangan sampai melanggar. Jangan sampai nanti dipotong-potong, terus dijual untuk komersial,” tegasnya.
Sementara itu, untuk material lumpur yang mengendap di lokasi-lokasi terdampak bencana, Tito menyampaikan, setelah berdiskusi dengan Menteri Pertahanan (Menhan), Sjafrie Sjamsoeddin, lumpur-lumpur itu akan digunakan sebagai tanggul di pinggir sungai.
Pembangunan tanggul itu ditujukan agar air sungai tidak meluap ke area permukiman warga apabila terjadi cuaca ekstrem.
“Kalau yang untuk lumpur, diskusi kami dengan Pak Menhan, beliau ingin agar ini digunakan sebagai tanggul,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Tito menyatakan saat ini mayoritas wilayah-wilayah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sudah kembali pulih normal.
Ia merincikan, untuk Provinsi Aceh, dari 18 kabupaten/kota yang terdampak bencana, 11 di antaranya kini sudah kembali normal. Sementara di Provinsi Sumatra Utara, dari dari 18 kabupaten/kota terdampak, 13 di antaranya kini sudah kembali normal.

Sedangkan di Provinsi Sumatra Barat, dari 16 kabupaten/kota terdampak, 13 di antaranya kini juga sudah kembali normal.
“Sehingga tinggal tiga [wilayah di Sumatra Barat yang masih belum normal], yaitu Agam, Padang Pariaman, dan Tanah Datar, yang kita akan berikan perhatian yang khusus, tanpa menafikan yang lain,” tuturnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































