tirto.id - Dulu, nenek moyang kita menanamkan ketakutan secara turun temurun tentang hutan. Ada yang bilang hutan merupakan tempat bersemayam makhluk gaib dan dianggap sakral, karenanya tidak boleh dimasuki apalagi diganggu. Ada yang menanamkan kepercayaan bahwa di suatu wilayah hutan terdapat pasar setan. Ada yang mendakwa bahwa jika masuk ke suatu hutan, kita bakal lesap dan dibawa ke alam lain. Bahkan, ada pula yang mengeramatkan pohon tertentu dan meyakininya memiliki "penunggu", seperti kuntilanak, pocong, dan genderuwo.
Pikiran cetek, ditambah kepongahan karena dilanda kemajuan zaman, membuat kita menganggap hal itu mitos tak berguna.
Padahal, mitos tersebut bisa menjadi senjata ampuh untuk melindungi ekosistem hutan dari tangan-tangan manusia yang destruktif lagi egois. Takhayul itu juga yang membuat Indonesia—jauh pada masa lalu—dijuluki sebagai "Paru-paru Dunia", saking lebatnya hutan di penjuru Nusantara, terutama di Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan Sumatra. Bukan kebetulan bahwa pulau-pulau itu menjadi wilayah dengan masyarakat adat terbanyak di Indonesia. Bahkan, data Aliansi Masyarakat Adat Nusantara pada 2023 menyebut, jumlah masyarakat adat di Indonesia keseluruhan mencapai 20 juta jiwa.
Selama berabad-abad, masyarakat adat menjaga hutan-hutan kita dari tangan-tangan manusia puber modernitas. Salah satu caranya, sebagaimana disebut di awal, adalah dengan menanamkan mitos-mitos tentang hutan dan alam, guna merintangi mesin-mesin deforestasi dan bego pengeruk.
Sayangnya, seiring waktu, hutan itu terkikis, sedikit-sedikit, lama-lama menghabiskan berbukit-bukit. Dan kini, Indonesia sudah bukan lagi "Paru-paru Dunia" sebab hutannya telah menguap, dibakar jadi abu, lalu ditanami tanaman homogen atau dikeruk jadi pertambangan. Menurut catatan Global Forest Watch, selama lebih dari dua dekade terakhir (2001-2024), Indonesia telah kehilangan 32 juta hektare tutupan pohon, yang kebanyakan berasal dari hutan.
Mitos nenek moyang tak lagi efektif mengadang deforestasi yang mengakibatkan masalah iklim. Walakin, seperti cara-cara penggorok hutan yang terus berkembang, upaya menjaga hutan pun bersemi menjadi “takhayul” gaya baru: ekohoror (ecohorror).
Ekohoror sebagai Alternatif Kampanye Ekologi
Dalam perfilman, genre horor berupaya mengeksploitasi ketakutan manusia terhadap hal-hal di luar dirinya, seperti kematian dan ihwal supernatural. Itu pula yang melahirkan imajinasi sosok-sosok hantu, dari pocong yang lokal hingga zombie yang kebarat-baratan. Itu berkaitan dengan aspek psikologis, bahwa manusia cenderung mencari penjelasan atas hal-hal yang tak terpahami.
Seperti dikatakan oleh Jason Colavito dalam buku Knowing Fear: Science, Knowledge and the Development of the Horror Genre (2008: 4), "Horor tidak dapat bertahan tanpa kecemasan yang diciptakan oleh perubahan peran pengetahuan manusia dan sains dalam masyarakat kita."

Dengan cara yang sama “menakutkannya”, jalan tikus menuju perbaikan lingkungan pun muncul, yakni melalui genre horor ekologis. Sebab, manusia terlampau egois sehingga enggan memikirkan dampak kerusakan lingkungan secara logis. Di titik itu, ekohoror mencoba menghidupkan kembali mitos ketakutan ciptaan nenek moyang yang nyaris punah, dengan cara lebih menarik, seperti film dan karya sastra.
Berbeda dari horor biasa, yang mengeksploitasi ketakutan manusia terhadap hal-hal supernatural, ekohoror lebih spesifik memantik kecemasan tentang kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia. Karya-karya dari genre itu biasanya menggambarkan pembalasan dendam alam dan makhluk hidup lain terhadap manusia.
Di perfilman, titik mula lahirnya genre ekohoror ada di Jepang era 1950-an, tepatnya ketika film Godzilla (1954) dirilis. Sinema garapan sutradara Ishirō Honda ini mengimajinasikan dampak uji coba bom hidrogen dan radiasi nuklir merupa wujud Godzilla, monster yang mewakili upaya balas dendam alam kepada manusia. Diceritakan bahwa makhluk itu adalah reptil purba yang bangkit akibat radiasi nuklir berskala besar.
Film Godzilla (1954) adalah salah satu metafora yang kuat untuk menggambarkan konsekuensi bencana akibat ulah manusia atas nama pengetahuan dan perkembangan zaman. Makin luas pengetahuan dan sains yang dikembangkan manusia, makin besar kecemasan dan ketakutan yang timbul.
Berdekade-dekade kemudian—setelah diiringi banyak karya ekohoror lain tentu saja—film Crawl (2019) dirilis dengan gambaran ketakutan yang lebih besar. Suatu wilayah dihantam badai terbesar sepanjang sejarah, yang merupakan buah dari perubahan iklim. Akibat bencana ekologis itu, tanggul-tanggul jebol sehingga banjir terjadi di mana-mana. Buaya-buaya gigantik pun terbebas dari ekosistemnya, kemudian menyerang manusia.
Genre ekohoror bahkan telah merambah ke produk budaya populer yang lebih modern, macam manga dan anime. Gachiakuta (2025) salah satunya. Cerita karangan Kei Urana dan Hideyoshi Andou tersebut menceritakan amukan makhluk yang terlahir dari tumpukan sampah.
Dalam animenya diceritakan, masyarakat dari "dunia atas" membuang sampah-sampahnya ke lembah gigantik. Namun, tak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa tumpukan sampah itu bisa bernyawa, bahkan menjelma menjadi monster raksasa yang bakal menyerang dunia atas.

Menciptakan Ketakutan Baru
Sebagaimana horor yang menampakkan kematian dan hantu, fokus ekohoror pada rasa takut acapkali menghasilkan ambivalensi mengganggu. Genre tersebut berisiko memperkuat respons ketakutan terhadap nonmanusia dan menimbulkan perasaan putus asa.
Pada dasarnya, genre ekohoror muncul bukan sebagai kampanye yang terang mengajak penontonnya untuk melakukan aksi nyata. Bahkan, sangat mungkin para penonton dan aktivis beranggapan bahwa ekohoror hanya mengeksploitasi kerusakan lingkungan sebagai hiburan belaka. Dalam jurnalnya, Simon C. Estok menyebut itu sebagai ekofobik.
Namun, Estok mendefinisikan secara spesifik bahwa ekofobik adalah ketakutan karena alam dianggap sebagai lawan yang melukai, menghalangi, mengancam, atau membunuh kita. Sementara itu, tidak semua ketakutan terhadap alam bersifat fobik. Sebagian ketakutan itu beralasan dan perlu.
Ketakutan yang dihadirkan oleh ekohoror hadir secara nyata dan subtil dalam keseharian manusia. Itulah yang juga diharapkan oleh para aktivis lingkungan. Salah satunya Greta Thunberg, yang menegaskan dalam kolom The Guardian, "Orang dewasa selalu bilang, 'Kita berutang pada anak muda untuk memberikan mereka harapan.' Tapi, aku tidak butuh harapan mereka. Aku tidak mau kamu menjadi penuh harapan. Aku ingin kamu menjadi panik. Aku ingin kamu merasa takut setiap hari. Dan kemudian aku ingin kamu melakukan aksi."
Toh, ekohoror tidak hanya ditentukan oleh ketakutan terhadap alam, tetapi juga oleh ketakutan manusia untuk alam. Ia didedikasikan untuk mengeksplorasi dampak mengerikan dari berbagai bencana ekologis yang disebabkan oleh manusia serta sangat kritis terhadap sikap destruktif manusia terhadap alam. Melalui genre ekohoror, produk kesenian mencoba mengekspresikan rasa bersalah, kesedihan, dan kecemasan, yang kemudian diharapkan dapat menyentil tanggung jawab manusia.
Pendekatan ekohoror menunjukkan optimisme yang berhati-hati, menekankan keterhubungan antara manusia, nonmanusia, dan risiko di baliknya. Dengan pendekatan itu, ekohoror berpeluang membantu membentuk relasi kepedulian antara manusia dan nonmanusia.
Setidak-tidaknya, ekohoror dapat membangkitkan kecemasan kita tentang ilmu pengetahuan yang kita ciptakan sendiri. Kita takut ilmu pengetahuan pada umumnya, dan teknologi secara khusus, justru berbalik mengendalikan alam. Kita takut terhadap dampak kerusakan lingkungan yang sangat mungkin melampaui kendali kita.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id



























