Kasus Dylan Sada dan Cara Keluar dari Hubungan Penuh "Racun"

Oleh: Patresia Kirnandita - 8 Maret 2018
Dibaca Normal 3 menit
Penyintas kekerasan dalam pacaran menjumpai masalah berlapis: sulit keluar dari relasi beracun dan memulihkan diri sampai siap memulai relasi baru yang lebih sehat.
tirto.id - Tidak ada yang berharap orang terkasih menjadi penyebab luka fisik dan tekanan batin yang besar dalam hidupnya. Begitu pun model asal Indonesia yang kini berdomisili di New York, Dylan Sada. Pada Senin (5/3/2018) kemarin, perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Limkokwing University of Creative Technology, Malaysia ini memublikasikan video wajahnya yang babak belur di Instagram.

Dylan bercerita, luka dan memar di bagian wajahnya, serta sejumput rambut yang ia genggam, adalah bukti kekerasan yang ia peroleh dari pasangan. “…domestic abuse happens in real life, if you are going though even only verbally abused, please leave her or him. i was a fool who was in love who thought he can change …” demikian petikan kisah Dylan yang ia tuangkan di kolom caption.

Meninggalkan pasangan setelah pertama kali mendapat kekerasan fisik bukanlah hal mudah. Dylan sempat mengatakan ia ingin putus, tapi pacarnya malah kembali melakukan kekerasan verbal. Dylan ketakutan, ia urung merealisasikan niatnya kala itu.

Kekerasan itu membawa efek domino dalam kehidupan Dylan. Ketika mendapat tawaran kerja modelling, ia mesti berbohong bahwa luka-luka yang ada pada tubuhnya merupakan hasil kecelakaan.

Dua Sisi Mata Uang Berkisah di Media Sosial

Pesan Dylan di Instagram menyiratkan satu hal: ajakan mengakhiri hubungan penuh kekerasan. Ada sejumlah alasan kenapa beberapa orang korban kekerasan dalam pacaran (KDP) memilih media sosial sebagai medium bercerita. Selain upaya meningkatkan kesadaran untuk menyudahi hubungan tak sehat, karakter media sosial dianggap mampu menyebarkan informasi secara cepat. Media sosial juga memungkinkan adanya tanggapan dari pengguna lain.

Menurut psikolog dari Yayasan Pulih, Danika Nurkalista, tanggapan dari pengguna lain bisa menjadi dukungan moral bagi penyintas. Itu berperan signifikan dalam pemulihan psikis mereka.


Walaupun media sosial bisa menjadi sumber dukungan moral dan tempat mengampanyekan anti-KDP, ada efek samping yang mesti siap diterima para pengunggah cerita KDP: cibiran atau komentar tak sensitif terhadap situasi yang mereka pernah atau sedang hadapi.

Dalam keadaan trauma, komentar-komentar buruk dari warganet lain bisa memperburuk kondisi psikis para penyintas yang hanya ingin mengungkapkan pengalaman pahit mereka. Salah satu komentar pedas pernah ditujukan seorang warganet kepada seorang pemilik akun di Twitter bernama Ayu, setelah perempuan tersebut menceritakan pengalaman KDP-nya.

For u both, carilah psikiater yg bgs di jkt. Bisa kok pake KJS. Seriously dude, I think it’s some kind a bullshit story,” balas seorang pengguna lain.

Selain itu, selang beberapa hari setelah Ayu mengisahkan perlakuan kasar mantannya, laki-laki yang dituding melakukan hal tersebut mengungkapkan cerita dalam versi berbeda, juga di Twitter. Ketika warganet disuguhkan dua fakta berlainan tentang satu kasus, keberpihakan menjadi hal yang tidak terelakkan. Mereka yang awalnya percaya pada tuturan si penyintas, bisa saja berbalik meragukan kebenaran yang diutarakan sebelumnya. Persepsi warganet terhadap si penyintas pun berpotensi berubah.

Deretan Masalah sejak Kekerasan Pertama

Saat seorang terjerumus dalam relasi tak sehat dan penuh kekerasan, ada masalah lain yang mengikuti. Pertama, melepaskan diri dari pengaruh pasangan adalah hal yang amat sulit. Akan selalu muncul perasaan bahwa pasangan bisa berubah di kemudian hari, atau kenangan perlakuan baik di awal hubungan, sikap manis dari pelaku usai kekerasan, juga rasa iba. Kombinasi perasaan itu bisa memberatkan korban KDP untuk beranjak dari sebuah hubungan beracun.

Lantas setelah berhasil membebaskan diri dari relasi beracun, para penyintas mesti menghadapi masalah-masalah internal yang berimbas pada aktivitas sehari-harinya. Trauma berkepanjangan adalah hal yang lumrah terjadi pada mereka. Dari hal ini, muncul gangguan pola tidur, pola makan, konsentrasi, serta penurunan produktivitas kerja.


Masalah-masalah ini bisa makin sulit diselesaikan karena berbagai bentuk kekerasan terjadi dalam waktu yang bersamaan. Berdasarkan pengalaman Danika menangani kasus KDP, hal itu amat umum terjadi. Mereka yang mengalami cedera fisik dan menerima kekerasan psikis akan berkemungkinan menempuh proses lebih lama untuk pemulihan dirinya.

Infografik Kekerasan dalam Relasi


Problem psikologis penyintas bisa menjadi berlarut-larut karena mereka tidak tahu harus mencari bantuan ke mana atau dengan cara apa. Belum lagi ditambah rasa malu dan bersalah atas peristiwa menyakitkan yang mereka alami. Sebagian penyintas berpikir, perlakuan buruk yang mereka terima adalah sebagaimana mestinya. Apa yang dituduhkan pasangan yang melakukan kekerasan kerap diamini sebagai definisi diri, padahal tidak demikian nyatanya.

Helga, salah satu penyintas, bercerita kepada Tirto pada November 2017, bahwa dirinya pernah menjalin relasi romantis dengan orang yang posesif. Alih-alih merasa ada yang salah dengan hubungannya, ibu dua anak ini malah berpikir sikap posesif pasangan yang dihadapinya dulu adalah bentuk kasih sayang.

“Kejadian dipaksa berhubungan sama mantan pacar enggak saya ceritakan ke siapa-siapa karena saya takut disalahkan,” kata Helga, yang saat itu masih buta soal isu kekerasan terhadap perempuan dalam pacaran.


Relasi penuh kekerasan yang sempat dialami penyintas bisa menimbulkan dampak negatif ketika ia menjalani hubungan baru dalam keadaan belum pulih benar secara psikis. Danika menyarankan penyintas untuk mengambil jeda sejenak dan fokus memulihkan diri sebelum menjalin hubungan baru.

“Saat penyintas hendak memulai relasi baru, ia perlu memperhatikan benar pola komunikasi yang sehat dengan pasangan, cara menyelesaikan masalah yang efektif baginya, dan mengecek apakah harapannya saat menjalin relasi baru selaras dengan pasangannya,” imbuh Danika.

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini juga menyampaikan, penyintas perlu memahami pola-pola hubungan yang mengarah ke kekerasan. Proses pemulihan diri ini bisa dilakukan dengan bermacam-macam cara. Mendatangi konselor psikologi atau teman-teman terdekat untuk mendapatkan dukungan adalah salah satunya. Hal lain yang bisa dilakukan penyintas adalah menyalurkan emosinya lewat kegiatan seni, olahraga, atau menulis.

Melanie Hamlett, salah satu penyintas KDP, berkisah di The Washington Post bahwa kelas kickboxing yang diikutinya setelah mengalami KDP membantunya merasa kuat. Namun, melampiaskan rasa marah terhadap mantan pasangan yang kasar saja tak cukup.

Hamlett menyadari bahwa ia juga marah terhadap dirinya sendiri. Ini menimbulkan PR berikutnya bagi dia: belajar memaafkan diri sendiri. Kekecewaan terhadap diri sendiri lambat laun akan mempengaruhi relasi berikutnya yang dipunyai seseorang. Maka, dalam proses pemulihan, hal tersebut cukup krusial untuk diperhatikan.

Jalan yang ditempuh untuk menyembuhkan luka batin orang-orang yang mengalami KDP memang berliku. Namun, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai langkah keluar dari relasi beracun dan menjelma menjadi pribadi yang dikisahkan Gloria Gaynor dalam “I Will Survive”:

At first I was afraid, I was petrified
Kept thinking I could never live without you by my side
But then I spent so many nights thinking how you did me wrong
And I grew strong
And I learned how to get along



========================

Jika Anda mengalami kekerasan dalam pacaran, Anda bisa menghubungi Yayasan Pulih untuk berkonsultasi dengan psikolog. Informasi lebih lanjut tentang Yayasan Pulih dapat diakses di yayasanpulih.org

Baca juga artikel terkait KEKERASAN PACARAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nuran Wibisono