tirto.id - Black Friday 2025 kembali menjadi sorotan sebagai momentum belanja tahunan yang berlangsung setiap Jumat setelah Thanksgiving di Amerika Serikat. Tradisi ini dikenal sebagai pemicu awal musim belanja akhir tahun yang menarik perhatian konsumen.
Seiring waktu, peringatan Black Friday mengalami perubahan signifikan dari yang awalnya terpusat di gerai fisik menjadi meluas ke ranah digital. Perubahan pola belanja ini dipicu oleh meningkatnya praktik belanja daring yang semakin efektif.
Secara umum, Black Friday dipandang sebagai ajang penawaran harga yang agresif dari berbagai peritel. Diskon besar yang diberikan kerap dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akhir tahun. Dengan karakteristik tersebut, peringatan Black Friday terus berkembang dan diikuti berbagai negara di luar Amerika Serikat.
Kapan Black Friday 2025?
Black Friday 2025 dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 28 November 2025. Tanggal ini mengikuti tradisi perayaan yang selalu jatuh sehari setelah Thanksgiving di Amerika Serikat. Penetapannya konsisten dengan pola tahunan yang menandai dimulainya musim belanja akhir tahun.
Perayaan Black Friday awalnya berkembang di toko-toko fisik di berbagai kota di Amerika Serikat. Konsumen datang langsung untuk mendapatkan penawaran yang hanya tersedia pada hari itu. Seiring waktu, pola tersebut berubah sejalan dengan meningkatnya aktivitas belanja daring.
Peralihan ke belanja online mendapat dorongan kuat saat pandemi COVID-19 melanda. Efektivitas transaksi digital membuat masyarakat beralih pada metode pembelian yang lebih praktis. Situasi ini juga mengurangi kepadatan yang dulu sering terjadi di pusat perbelanjaan pada hari Black Friday.
Black Friday 2025 melanjutkan tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun sebagai hari belanja terbesar di Amerika Serikat. Berbagai toko memanfaatkan kesempatan ini dengan memberikan potongan harga dalam kurun waktu terbatas. Fenomena tersebut kemudian menyebar ke banyak negara lain yang mengadopsi praktik serupa.
Sejarah Black Friday
Sejarah istilah Black Friday memiliki beberapa versi yang berkembang dari waktu ke waktu. Salah satunya terkait keramaian pasca-Thanksgiving di Philadelphia pada pertengahan abad ke-20. Lalu lintas padat dan aktivitas belanja yang meningkat menjadi alasan munculnya penyebutan tersebut.
Versi lain menyebut bahwa pekerja di New York memanfaatkan hari itu untuk mengambil izin sakit. Tujuannya agar mereka mendapatkan libur lebih panjang menjelang penghujung bulan. Perilaku tersebut kemudian dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas belanja pada periode yang sama.
Dalam perkembangannya, Black Friday tidak hanya mencakup transaksi luring, tetapi juga meluas ke sektor e-commerce. Pada awal 2000-an, kontribusi penjualan daring mulai tercatat dan terus mengalami kenaikan. Kondisi ini memunculkan berbagai promo digital yang kini menjadi bagian penting dari perayaan.
Cara Merayakan Black Friday
Di berbagai belahan dunia, Black Friday dirayakan dengan cara yang berbeda-beda. Kanada, Meksiko, dan sejumlah negara Eropa telah menyesuaikan tradisi ini dengan karakter pasar masing-masing. Penyebarannya menunjukkan bahwa konsep diskon besar dalam satu hari memiliki daya tarik global.
Fenomena Black Friday kemudian diikuti oleh hadirnya Cyber Monday. Hari ini difokuskan pada penawaran produk secara online, biasanya pada Senin setelah Black Friday. Kombinasi keduanya membentuk rangkaian belanja akhir tahun yang selalu dinantikan konsumen.
Pembaca yang ingin mengetahui informasi seputar Hari Penting dapat klik tautan di bawah ini.
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Indyra Yasmin
Masuk tirto.id



























