Menuju konten utama

"Kala": Pameran 'Seniman Pesantren' Faisal Kamandobat di Italia

Di Scuderie Palazzo Cefalà yang hening, pameran "Kala" Faisal Kamandobat tampil dengan karakter yang bersahaja dan kontemplatif, kaya detail naratif.

Seniman asal Cilacap Faisal Kamandobat mempresentasikan salah karyanya di Scuderie Palazzo Cefalà, Palermo, Italia, Kamis (6/11/2025). Pameran Faisal Kamandobat, “Kala: Le allegorie degli esseri”, menandai dibukanya Festival Morgana ke-50 di Palermo. Dokumentasi: Istimewa
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kamis, 6 November 2025, kawasan bersejarah Kalsa di Palermo, Italia, kembali hidup ketika Scuderie Palazzo Cefalà dibuka untuk publik melalui pameran “Kala: Le allegorie degli esseri” karya seniman Indonesia, Faisal Kamandobat.

Pameran ini secara resmi membuka Festival Morgana ke-50, sebuah festival budaya yang selama setengah abad menjadi ruang pertemuan antara tradisi boneka Sicilia dengan seni pertunjukan dari berbagai belahan dunia.

Tahun ini, festival dimulai dengan fokus pada Indonesia melalui program Pupi Videodrome, rangkaian pameran multimedial yang menyoroti transformasi teater boneka dan seni visual dalam lanskap global yang terus bergerak.

Karya-karya Kamandobat berakar pada tradisi manuskrip iluminasi Pegon, yaitu penggunaan huruf Arab untuk menuliskan bahasa Jawa dan Melayu. Pegon, yang pernah menjadi medium penting penyebaran ilmu agama dan sastra di Nusantara, biasanya hadir melalui naskah kuno.

Dalam “Kala: Le allegorie degli esseri”, tradisi Pegon diolah menjadi bahasa visual yang bebas dan kontemporer. Huruf, warna, dan simbol disusun menjadi komposisi baru yang menawarkan pengalaman estetis sekaligus mengundang refleksi tentang sejarah panjang interaksi budaya di Asia Tenggara.

Sebagai tradisi, Pegon lahir dari pertemuan beragam pengaruh: warisan Hindu–Buddha, jaringan keilmuan Islam, serta hubungan dengan dunia Latin–Eropa. Kamandobat merespons lapisan-lapisan sejarah tersebut dengan pendekatan yang kuat sekaligus bersahaja.

Pameran Kala

Salah satu karya Faisal Kamandobat yang dipamerkan di Scuderie Palazzo Cefalà, Palermo, Italia, Kamis (6/11/2025). Dokumentasi: Istimewa

Peta Simbolik Menuju Dimensi Batin Nusantara

Dalam mengolah Pegon, Kamandobat, perupa asal Pesantren Miftahul Huda, Cigaru, Majenang, Cilacap, tidak menirukan bentuk naskah lama, melainkan memperlakukan unsur-unsurnya sebagai bahasa rupa yang hidup. Dari sinilah karya-karya Faisal Kamandobat mempertemukan teks, gambar, dan peta simbolik yang membuka jalan bagi pengunjung pameran memasuki dimensi batin Nusantara.

"Gagasan utama pameran ini bertumpu pada konsep kala. Dalam bahasa Jawa, kala sering dipahami sebagai “waktu”, tapi sebenarnya merujuk pada ritme kehidupan: bagaimana sesuatu lahir, berubah, melebur, lalu kembali menemukan keseimbangan," ungkap Kamandobat melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto.id, Kamis (20/11).

Pemikiran tersebut tampak pada konstruksi karya-karya Kamandobat, terutama melalui aliran huruf dan gradasi warna yang membentuk pola menyerupai siklus alam. Pengunjung diajak merenungkan bagaimana waktu tidak hanya bergerak ke depan, tetapi juga menautkan pengalaman manusia dengan alam dan sejarah.

Rosario Perricone, Direktur Museo Internazionale delle Marionette Antonio Pasqualino sekaligus kurator festival, melihat pameran ini sebagai pembuka yang ideal untuk edisi ke-50 gelaran Festival Morgana.

“Pameran ini memberi pengunjung ruang tenang untuk memasuki ritme kehidupan yang lebih luas. Pertemuan antara seni Sicilia dan seni Asia mengingatkan kita bahwa keindahan selalu tumbuh dari dialog dan keterbukaan.”

Dilansir dari katalog pameran, Perricone menambahkan, “Karya-karya Faisal membangkitkan semesta manuskrip Arab Pegon—relik cahaya dan kata-kata yang dahulu disimpan di pesantren dan di hati para ulama." Dalam amatan Perricone, teks dalam karya rupa Kamandobat bukan sekadar tulisan, melainkan sungai yang mengalir di antara akar ketuhanan dan suara manusia.

"Tinta emas, biru pekat, dan merah api suci membentuk komposisi yang bernapas seperti makhluk hidup: huruf-huruf yang menjadi bunyi, tanda-tanda yang bergetar mengikuti ritme pena, serta simbol-simbol yang mengungkapkan ekstase mistik,” ungkap Perricone.

Pameran Kala

Kurator pameran, Rosario Perricone (kanan, mengenakan syal) menjelaskan salah satu karya Faisal Kamandobat kepada Wakil Walikota Palermo, Giampiero Cannella, Kamis (6/11/2025). Foto: Istimewa

Percakapan Nusantara-Mediterania

Bagi Kamandobat, memamerkan karya-karyanya di Kalsa memiliki makna khusus, terutama kaitan Kalsa, lokasi pameran, dengan jejak peradaban Islam di selatan Italia.

“Nama Kalsa berasal dari kata Arab khāliṣa, yang berarti ‘murni’ dan ‘tulus’. Tradisi iluminasi Pegon yang saya tampilkan adalah jembatan antara Nusantara dan Mediterania—dua wilayah yang serupa dalam semangat maritim dan sama-sama menyimpan jejak peradaban Islam. Tema kala menekankan aspek ritual sebagai proses penyucian dari irama sejarah kedua tempat ini: Palermo di Mediterania dan Jawa di Nusantara,” papar Kamandobat yang juga pendiri Sanggar Matur Nuwun, Cilacap.

Kamandobat menambahkan, pemilihan Palazzo Cefalà semakin memperkuat narasi di atas. Gedung bersejarah tersebut pernah menjadi tempat percetakan uang pada abad ke-15, kemudian menjadi kediaman bangsawan sebelum mengalami kerusakan parah pada Perang Dunia II. Setelah sempat difungsikan sebagai galeri dan lama dibiarkan kosong, ruang ini kini kembali dihidupkan sebagai pusat kegiatan budaya.

Dengan kata lain, melalui pameran Kamandobat, Palazzo Cefalà memperoleh keberlanjutan baru sebagai titik temu gagasan dari berbagai penjuru dunia.

“Hari ini kami mengembalikan tempat ini kepada kota sebagai ruang budaya dan partisipasi,” ujar Wakil Wali Kota sekaligus Asesor Kebudayaan, Giampiero Cannella, saat pembukaan pameran.

“Di Kalsa, ruang seni bukan sekadar pelengkap—melainkan kebutuhan agar masyarakat dapat tumbuh bersama,” tambah Cannella.

Dalam atmosfer ruang yang hening, karya-karya Kamandobat tampil dengan karakter yang bersahaja dan kontemplatif, kaya detail naratif. Pameran ini menyatukan teks dan visual dalam harmoni yang lembut.

Beberapa karya menampilkan pola menyerupai mandala; yang lain membangun komposisi dari huruf-huruf Pegon yang diperlakukan layaknya garis dan bentuk. Keseluruhan pameran terasa seperti perjalanan singkat menuju cara orang Nusantara memahami dunia: melalui simbol, tulisan, dan hubungan yang intim antara manusia dan ritme alam.

Kehadiran Indonesia dalam festival ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Kebudayaan RI, Kedutaan Besar Italia di Jakarta, dan Istituto Italiano di Cultura Jakarta. Dukungan ini memungkinkan Indonesia tampil sebagai salah satu fokus utama festival, tidak hanya melalui pameran, tetapi juga pertunjukan wayang dan berbagai kegiatan budaya lainnya sepanjang festival.

Pameran “Kala: Alegori Makhluk-Makhluk Indonesia” berlangsung pada 6-12 November silam. Dengan menghadirkan tradisi Pegon dalam konteks Palermo yang kaya sejarah, pameran tersebut bukan hanya membuka festival, tetapi juga membuka percakapan yang lebih luas antara Asia dan Mediterania—sebuah percakapan yang, seperti kala, terus berputar dan memperbarui diri dari waktu ke waktu.

Baca juga artikel terkait PAMERAN SENI RUPA

tirto.id - Sosial Budaya
Sumber: Siaran Pers
Editor: Zulkifli Songyanan