Menuju konten utama

KAI Terima Pinjaman Rp7 T dari Cina untuk Proyek Kereta Whoosh

Total pinjaman yang digelontorkan oleh Cina Development Bank kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) menembus Rp6,99 triliun.

KAI Terima Pinjaman Rp7 T dari Cina untuk Proyek Kereta Whoosh
Rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung melintas di Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (16/10/2023). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom.

tirto.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menandatangani Perjanjian Fasilitas dengan Cina Development Bank untuk melunasi pembiayaan cost overrun atau pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.

Pencairan pinjaman tersebut telah diterima PT Kereta Api Indonesia (Persero) pada 7 Februari 2024 dengan rincian Fasilitas A sebesar 230,9 juta dolar AS atau setara Rp3,6 triliun (asumsi kurs Rp15.649). Kedua, untuk Fasilitas B sebesar 217 juta dolar AS atau setara Rp3,39 triliun pada 5 Februari 2024.

Total pinjaman yang digelontorkan oleh Cina Development Bank itu menembus Rp6,99 triliun.

“Pencairan tersebut langsung diteruskan ke PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) pada 7 Februari 2024,” tulis pada surat keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Jumat (16/2/2024).

Diwartakan sebelumnya, Direktur Utama PT Penjamin Infrastruktur Indonesia (PT PII), Muhammad Wahid Sutopo, membeberkan pihaknya sedang menunggu penugasan dari Kementerian Keuangan untuk membahas skema penjaminan utang Kereta Cepat Whoosh.

Menurut Wahid, aspek skema penjaminan utang tersebut akan melihat pada akses kelayakan atau eligibilitas. Kemudian, risiko yang ditimbulkan dari penjaminan utang kereta cepat dan kemampuan dalam melaksanakan kewajiban akan dievaluasi.

“Nanti dilihat apa saja risiko yang bisa timbul, kemampuan untuk melaksanakan kewajiban pembayarannya, kemudian disiapkan beberapa skema di sisi pihak yang mendapatkan pinjaman, yaitu PT KAI untuk bisa melaksanakan kewajibannya,” kata Wahid saat ditemui media di DJKN, Jakarta, Jumat (8/12/2023).

Lebih lanjut, Wahid juga melihat antusiasme dari masyarakat untuk memanfaatkan kereta cepat sebagai salah satu sarana moda transportasi antarkota. Hal ini ditinjau dalam aspek untuk melihat kemampuan pengembalian penjaminannya.

“Kalau kita bisa jaga kelangsungannya, ini akan membantu, proyek ini untuk penuhi kemampuan pengembalian penjaminannya,” ucapnya.

Baca juga artikel terkait KERETA CEPAT WHOOSH atau tulisan lainnya dari Faesal Mubarok

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Faesal Mubarok
Penulis: Faesal Mubarok
Editor: Anggun P Situmorang