4 Juni 1917

Joseph Pulitzer, dari Imigran Hingga Jadi Taipan

Oleh: Aulia Adam - 4 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Mewah ganjaran.
Derma sang taipan di
jagat tulisan.
tirto.id - Sebelum jurnalisme berubah format jadi online dan berlomba-lomba berburu klik alias pengunjung, bisnis media massa sudah lebih dulu hadir dengan dinamika serupa untuk berburu oplah. Setidaknya sudah terjadi pada era 1890-an, di masa hidup Joseph Pulitzer, salah satu jurnalis yang paling dikenal sepanjang masa.

Koran-koran yang liputannya dangkal, lengkap dengan judul-judul berita berlebihan akrab disebut koran kuning. Nama itu berakar dari istilah Jurnalisme Kuning yang digunakan pertama kali oleh editor New York Press Erwin Wardman. Ia mengkritik koran-koran penjual jurnalisme sensasional yang dicetak dengan tinta kuning.

Salah satu yang paling dikritik adalah koran sekaligus perusahaan penerbit New York World, milik taipan media Joseph Pulitzer. Ia membeli koran itu pada 1883 setelah membuat St. Louis Post-Dispatch, koran lain miliknya, jadi raja di New York, Amerika Serikat.

Pulitzer memang punya rencana besar buat New York World. Setelah membeli koran itu dari seorang taipan bernama Jay Gould dengan harga 346.000 dolar AS, ia berniat menjadikannya bacaan yang lebih menghibur, lengkap dengan foto-foto, permainan, dan kontes-kontes yang akan diundi buat pembaca baru. Selain itu, Pulitzer ingin ada pendekatan baru. Koran yang baru dibelinya itu rugi sampai 40 ribu dolar tiap tahunnya. Siasatnya adalah menjual berita-berita sensasional.

Tujuannya demi menarik perhatian pembaca, dan tentu saja menaikkan angka sirkulasi. Dalam Pulitzer (1967), karya WA Swansberg, New York World akhirnya sengaja diisi Pulitzer dengan banyak sekali berita-berita kriminal, dengan kepala judul “Apakah Ia Bunuh Diri?” dan “Menjerit Minta Ampun” dan semacamnya, yang kira-kira akan jadi buah bibir.

Namun, cerita-cerita kriminal bukan satu-satunya yang jadi dagangan New York World. Koran itu juga menjual berita sensasional lain seperti bencana dan skandal, meski tak bisa ditampik kalau cerita-cerita kriminal memang lebih banyak dimakan pembaca. Mereka membaginya jadi 8 halaman, kadang sampai 12 halaman.


Pulitzer tak ingin medianya cuma fokus pada satu genre liputan saja—itu juga yang jadi alasan Pulitzer memasukkan World dalam nama koran barunya. Setelah sukses dengan St. Louis Post-Dispatch, ambisi Pulitzer untuk jaya sebagai taipan media makin besar.

Pulitzer tak akan jadi salah satu taipan media Amerika yang paling dikenal sampai sekarang, kalau tak punya otak pebisnis. Demi menaikkan oplah New York World yang waktu itu masih pendatang baru, ia menjual korannya cuma seharga dua sen. Padahal dengan harga segitu, koran lain cuma mampu hadir dengan empat halaman. Strategi ini cukup berhasil bikin pesaingnya ketar-ketir.

Dalam waktu dua tahun, New York World jadi koran dengan sirkulasi tertinggi di New York. Hingga taipan bisnis lainnya, William Hearst, mengikuti resep Pulitzer untuk bikin media yang laris manis.


Lewat San Francisco Examiner, warisan ayahnya, Hearst juga menjual berita-berita sensasional. Pada 1895, Hearst bahkan membeli koran milik adik Pulitzer, Albert Pulitzer yang bernama New York Journal, untuk merebut pasar New York World di daerah kekuasaannya di New York.

Laga kepala antara World dan Journal dalam berdagang berita sensasional ini yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal populernya istilah "koran kuning" atau jurnalisme kuning.

Kerja Keras Sang Imigran


Pulitzer yang lahir di Mako, Hungaria, memang keturunan orang berada sejak kecil. Ayahnya Fulop Pulitzer adalah seorang saudagar. Sehingga Joseph Pulitzer kecil dan saudara-saudaranya adalah orang terdidik. Namun, bisnis mereka bangkrut saat sang ayah meninggal pada 1858.

Melanjutkan hidup, Pulitzer muda berusaha memperbaiki keadaan dengan mendaftar di sejumlah kedinasan militer seantero Eropa, sebelum akhirnya pada 1864 jadi imigran di Amerika Serikat. Masa itu ia sempat jadi tentara Perang Saudara, selama delapan bulan. Tak cuma tentara, Pulitzer mudah pernah bekerja di industri penangkapan ikan paus, pelayan restoran, dan juru rawat kuda. Bahasa Inggrisnya juga belum begitu lancar.

Tak ada tanda, ia akan jadi jurnalis, apalagi taipan pemilik media—yang bahkan kelak, setelah berabad-abad kematiannya akan dikenal sebagai salah satu jurnalis terbesar. Kisah dirinya yang terpeleset di dunia jurnalisme, bermula ketika ia dijanjikan upah yang lumayan untuk sebuah pekerjaan di perkebunan gula di Louisiana. Ternyata tawaran itu tipuan belaka, yang lantas ditulis Pulitzer dan ia kirim pada Westliche Post, koran berbahasa Jerman di St. Louis.

Pihak bagian legal koran itu terkesan dengannya. Pulitzer kemudian ditawari bekerja dalam sebuah proyek pembangunan rel kereta di daerah Missouri, sebelum akhirnya ditawari jadi reporter di koran tersebut. Pada 6 Maret 1867, nasib beruntung tak berhenti datang pada Pulitzer. Ia akhirnya dinaturalisasi menjadi warga negara AS.


Sebagai reporter, Pulitzer tampil menonjol. Dalam bukunya, Swanberg menulis, Pulitzer bahkan dapat julukan “Joey si Jerman” karena giat bekerja. Ia bekerja selama 16 jam sehari, sejak 10 pagi hingga pukul 02.00 dini hari.

Ia juga sempat bergabung dengan Partai Republik dan menjajaki karier politik. Pulitzer bahkan sempat jadi anggota kongres mewakili Partai Demokrat untuk distrik 9, New York. Ia menjadi anggota DPR selama dua tahun, sebelum kembali ke Westliche Post, dan menjabat sebagai redaktur pelaksana. Hal ini juga yang membuat New York World kelak akan sangat dekat dengan Partai Demokrat.

Karier jurnalistik Putlizer kemudian maju pesat. Ditandai dengan kepemilikan saham di Wesliche Post sebesar 3.000 dolar AS. Setahun kemudian, saham itu kemudian ia jual untuk membeli St.Louis Dispatch dan St.Louis Post, yang akhirnya ia gabungkan jadi St.Louis Post-Dispatch.

Dua koran milik Pulitzer pada masanya jadi koran paling besar dengan angka sirkulasi tinggi. Oplah New York World saja naik dari 15 ribu eksemplar jadi 600 ribu per hari.

Infografik Mozaik Pulitzer




Piala Pulitzer


Terlepas dari kontroversi media yang ia pimpin, kecintaannya pada dunia jurnalisme tak ingin ia tinggalkan begitu saja tanpa tanda berarti. Pada 1892, ia menggagas untuk mendirikan sekolah jurnalistik pertama di Universitas Columbia. Oleh Seth Low, Presiden Universitas Columbia, tawaran Pulitzer itu ditolak. Setelah 10 tahun kemudian, Presiden Nicholas Murray Butler terbuka dengan cita-cita sang taipan.

Sayangnya, kampus itu baru jadi setahun setelah Pulitzer wafat. Lima tahun kemudian, pada 1917, tepat 101 tahun hari ini 4 Juni, untuk menghormati Putlizer, Universitas Columbia menggelar Piala Pulitzer sebagai ajang penghargaan pada jurnalis berprestasi dan berdedikasi.

Kini, ajang itu telah menjelma jadi acara bergengsi yang diperluas di sektor literatur, puisi, sejarah, musik, dan drama. Selain itu, jadi incaran para penulis dan jurnalis, sejumlah musisi bahkan mungkin mengincarnya. Paling anyar, penyanyi rap Kendrick Lamar menerima piala ini 31 Mei kemarin. Ia menjadi penyanyi rap pertama di dunia yang pernah mendapatkan Pulitzer.

Pulitzer sendiri pasti tak pernah menyangka, kalau lebih dari satu abad kemudian, ia masih terus dikenang dalam wujud sebuah piala yang ditunggu sebagian orang.

Baca juga artikel terkait JURNALISME atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Suhendra
DarkLight