Jihad Santri sebagai Agen Perubahan dan Pembawa Pesan Perdamaian

Penulis: K.H. Nurul Badruttamam, S.Ag, M.A - Jumat, 20 Oktober 2023 06:30 WIB
Dibaca Normal 3 menit
tirto.id - Barangkali, jika 78 tahun silam dalam rapat PBNU yang dipimpin KH. Abdul Wahab Chasbullah tidak menetapkan satu keputusan resolusi yang kita kenal dengan nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”, maka kita hari ini tak dapat sepenuhnya merasakan kenikmatan sebagai bangsa merdeka yang diakui secara de facto maupun de jure.

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)”

Begitulah salah satu petikan dari Resolusi Jihad yang membuat Surabaya bergejolak dalam sekejap. Seruan jihad tersiar dari masjid, musala ke musala, hingga setiap inci pelosok Kota Surabaya. Arek-arek Suroboyo bersama para santri menyambutnya dengan sepenuh hati, seolah tak takut mati. Mereka membawa apa saja, bambu runcing, batu di tangan, hingga doa dalam genggaman untuk mengusir tentara sekutu dari tanah air Indonesia.




Demikianlah gambaran resolusi jihad, yang di kemudian hari setiap tanggal 22 Oktober kita peringati sebagai Hari Santri Nasional. Berdasarkan Keppres No 22 Tahun 2015, Presiden Joko Widodo telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Oleh karena itu, Hari Santri adalah hari penting sekaligus sakral bagi mayoritas warga Indonesia. Momentum ini digunakan untuk mengingat peran santri dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman dan peran mereka dalam mengusir sekutu demi kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, Resolusi Jihad–yang didasarkan pada amanat Rais Akbar Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari–mencakup prinsip-prinsip tentang kewajiban umat Islam dalam jihad. Jihad di sini bertujuan untuk mempertahankan tanah air dan mendorong para santri untuk berjuang dengan penuh semangat demi mencapai tujuan-tujuan luhur kemanusiaan.

Lalu, akankah kita yang mengaku santri hari ini hanya akan menikmati hasil para pendahulu saat mengangkat senjata mengorbankan jiwa raga untuk memastikan pengakuan Indonesia Merdeka? Ataukah kita dapat memilih mengambil peran, menghormati peran santri terdahulu melanjutkan nilai-nilai keislaman dan Keindonesiaan untuk mengisi kemerdekaan?

Peran Santri Membawa Pesan Perdamaian


Santri hari ini memiliki peran kunci untuk membawa pesan perdamaian, toleransi, dan keadilan terutama menjelang pemilu 2024 di Indonesia. Pemilu yang kita sebut sebagai pesta demokrasi di Indonesia seringkali memunculkan polarisasi dan konflik politik. Karenanya, peran santri menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas dan kerukunan sosial selama masa kampanye hingga setelah pemilu berlangsung.

Para santri yang mengenyam pendidikan di pesantren sebagai Lembaga Pendidikan Islam tidak hanya mempelajari ajaran agama. Para santri juga mendalami nilai-nilai moral dan etika yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Islam. Pendidikan agama yang dimiliki para santri ini satu napas dengan tujuan mewujudkan perdamaian, toleransi, dan keadilan sebagai prinsip hidup mereka.


Di pesantren, para santri dipersiapkan untuk menjadi pemimpin masyarakat di masa depan. Para santri ini diajarkan untuk berpikir kritis, memiliki visi, dan berwawasan luas. Dalam proses ini, mereka mendapatkan pendidikan tentang pentingnya perdamaian dan keadilan dalam memajukan masyarakat.



Islam mengajarkan bahwa perdamaian memiliki nilai sangat tinggi, sehingga santri diajarkan agar memiliki prinsip perdamaian dan kesetaraan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Selain itu, mereka juga diberdayakan dengan prinsip keadilan dan moralitas, serta mereka memahami tanggung jawab untuk menjaga perdamaian dalam masyarakat.

Hal tersebut amat penting di tengah keragaman agama, suku, dan budaya di Indonesia. Santri dengan pemahaman agama yang kuat memiliki peran penting dalam mempromosikan toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Pendidikan yang diajarkan pada santri hari ini sangat memungkinkan mereka untuk berperan sebagai pembawa perdamaian di tengah perbedaan.

Dengan potensi yang dimiliki santri hari ini, mereka dapat memainkan peran sebagai agen perubahan untuk memastikan bahwa Pemilu 2024 di Indonesia berlangsung dalam suasana damai dan tidak terjadi konflik yang berpotensi memecah belah bangsa.

Jihad Santri, Jayakan Negeri


DOA BERSAMA SAMBUT HARLAH NU
Sejumlah tokoh ulama dan santri berdoa dan berselawat bersama saat acara Istighotsah Kubro Menyambut Harlah NU di Serang, Banten, Selasa (31/1/2023). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/tom.


“Jihad Santri, Jayakan Negeri” menjadi tema yang dipilih pada momentum gelaran Hari Santri 2023. Pemilihan tema ini tak lepas dari empat pilar kebangsaan negara Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Santri senantiasa harus siaga menjaga empat pilar ini, sebagai bentuk komitmen dan jiwa nasionalisme yang wajib dimiliki.

Jihad Santri menunjukkan semangat perjuangan, pengabdian, dan komitmen santri untuk mendukung dan memperkuat fondasi negara ini. Mereka diharapkan senantiasa siap untuk melaksanakan tugasnya dalam memelihara keutuhan negara dan nilai-nilai yang mengikat bangsa Indonesia.

Dalam hal ini, Pancasila berfungsi sebagai dasar ideologi negara yang mencakup prinsip-prinsip dasar seperti persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Sementara konstitusi UUD 1945 membentuk landasan hukum negara NKRI sebagai kesatuan wilayah Indonesia. Lalu, Bhineka Tunggal Ika yang menjadi semangat persatuan dalam keragaman budaya dan agama.

Pilihan tema ini mencerminkan peran penting yang dimainkan oleh para santri dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan dan kesatuan Indonesia serta menjunjung tinggi rasa nasionalisme. Diharapkan bahwa santri dapat berkontribusi dalam membangun negara yang kuat dan berkelanjutan dan menjadi agen perubahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada gelaran pesta demokrasi nanti, jihad santri dapat dimulai dalam keikutsertaannya menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan keadilan kepada masyarakat luas. Mereka dapat menjadi pembawa pesan positif yang memotivasi masyarakat untuk berkontribusi dalam memelihara perdamaian dan keharmonisan selama proses pemilu. Ini dapat dilakukan melalui forum-forum ceramah secara langsung maupun forum digital yang disebarkan melalui media sosial.



Peran santri sekaligus dapat menyampaikan edukasi politik kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya partisipasi politik yang beretika, tak terbawa arus kegaduhan, memilih pemimpin berdasarkan program kerja dan track record masing-masing calon, serta mengharamkan politik uang.

Mereka juga dapat mengawasi kampanye masing-masing pasangan calon dan mendorong isu-isu penting yang diusung oleh para paslon agar tidak menebar fitnah dan kebencian. Untuk itu, santri juga dapat terlibat dalam pengawasan pemilu untuk memastikan integritas proses pemilu. Mereka dapat mengawasi segala bentuk pelanggaran etika selama kampanye dan hari pemungutan suara.

Untuk menciptakan masyarakat yang lebih terinformasi dan bertanggung jawab, santri dapat mengajarkan pemilih tentang hak-hak mereka, proses pemilihan, dan pentingnya berpartisipasi aktif dalam pemilu.

Santri dapat menginisiasi program dialog antaragama yang mempromosikan toleransi dan pemahaman yang lebih baik antarumat beragama. Ini dapat membantu meredakan ketegangan antaragama yang berpotensi timbul selama proses pemilu. Jika terjadi konflik politik di tingkat lokal, santri dapat berperan sebagai mediator. Mereka dapat membantu berbagai pihak untuk mencapai kesepakatan yang adil dan damai.

Melalui langkah ini, santri dapat berkontribusi pada pemilu yang adil, damai, dan beretika. Mengambil peran sebagai agen perubahan dan pembawa pesan perdamaian, yang keduanya sangat penting untuk menjaga stabilitas dan kerukunan selama periode politik ini. Akhirnya, santri dapat menjadi lentera, penerang jalan wujudkan Indonesia maju. Maka, saatnya jihad santri, rayakan negeri!

*) Isi artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Santri harus menjadi pembawa pesan perdamaian dan keadilan, terutama di tengah situasi pemilu yang memanas.
DarkLight