Menuju konten utama

Siasat PKB Gaet Gen Z lewat Pesantren & Kaderisasi ala Gus Dur

Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid membagikan strategi PKB menggaet pemilih Gen Z melalui jaringan pesantren dan kaderisasi ala Gus Dur.

Siasat PKB Gaet Gen Z lewat Pesantren & Kaderisasi ala Gus Dur
Header Wansus Jazilul Fawaid. tirto.id/Tino

tirto.id - Menjadi partai dengan suara nyaris 10 persen di parlemen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengklaim punya siasat tersendiri untuk menggapainya. Salah satunya, melalui regenerasi anak muda baik untuk dijadikan basis suara atau kader politikus.

Tirto berkesempatan mewawancarai Wakil Ketua Umum PKB, Jazilul Fawaid, yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PKB. Dia menjelaskan sejumlah strategi dari warisan ala Gus Dur hingga kini Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum yang melanjutkannya.

PKB juga meyakini basis pemilih mereka yang berasal dari kalangan pesantren juga akan menjaga regenerasi kader muda. Terbukti, suara mereka naik dibanding Pemilu 2009 dan 2014. Melalui hasil perolehan suara dan kaderisasi anak muda, PKB cukup yakin dan percaya diri untuk mengusung Muhaimin Iskandar untuk menjadi capres.

Berikut petikan wawancara redaksi Tirto, Irfan Amin, Fahreza Rizky dan Andhika Krisnuwardhana di ruangan kerja Wakil Ketua MPR RI tersebut pada Selasa (31/6/2023).

Bagaimana PKB mendekati pemilih dengan usia muda atau Gen Z dan milenial yang menurut survei CSIS angkanya mencapai 60 persen?

Kita menyampaikan gagasan kepada publik karena itu yang diharapkan milenial. Apakah misal milenial ini memiliki ketertarikan terhadap politik? Tentu bagi mereka, Gen Z dan milenial, hal ini adalah sesuatu yang baru soal politik.

Namun, karena generasi ke depan ini akan diisi oleh milenial maka sebagai partai memiliki tugas untuk kaderisasi pemimpin dan harus melibatkan milenial dan PKB banyak caleg muda dari Gen Z juga yang mengikuti kompetisi di Pemilu 2024.

Nah, memang milenial yang bergabung dengan PKB sesuai dengan akar PKB karena PKB lebih banyak akar pedesaan daripada akar perkotaan. Ini menjadi tantangan, dan sebagian kota seperti Tarakan yang terpilih itu rata-rata anak muda, sebagai contoh. Oleh karena itu, kalau mengatakan PKB ini hanya di desa-desa tidak juga hari ini.

Sebab, di zaman teknologi saat ini, perbedaan antara pedesaan dan perkotaan hanya ada pada jaringan internet. Kalau wilayah pedesaan internetnya bagus itu sudah masuk kota. Itu sudah mengakses semua kegiatan yang ada di kota. Kalau anak kota tidak terbiasa mengakses teknologi juga bisa menjadi seperti anak desa juga.

Tentu ini bagi PKB menjadi tantangan dan harus terbiasa untuk pamer dan narsis, katanya kalau kita kerja tidak diperlihatkan nanti dianggap tidak bekerja. Nanti yang repot kalau kerjanya sedikit tapi dilihatkan terus-menerus. Jadi action sekali seakan, action berkali-kali.

Dan ciri milenial hari ini adalah well informed dan banyak pengetahuan serta lebih cepat tahu daripada generasi yang lebih tua. Namun, politik adalah sesuatu yang baru. Politikus atau partai politik harus merangkul mereka.

Jazilul Fawaid

Jazilul Fawaid. tirto.id/Andhika Krisnuwardhana

Apa program konkret PKB untuk menggaet para pemilih muda di Pemilu 2024?

Di PKB, dalam setiap kegiatan selalu melibatkan anak muda. Di PKB, ada juga Garda Bangsa, Garda Muda Kebangkitan Bangsa. Itu adalah bagian untuk merekrut anak muda masuk ke PKB dan dengan cara apa, tentu dengan mengikuti cara pikir mereka.

Kita juga mengikuti jalan berpikir mereka, sehingga ada banyak kegiatan anak muda yang semacam Gus Muhaimin Festival yang menjadi salah satu contoh untuk mendekati anak muda.

Kemudian ada kegiatan untuk isu lingkungan, anak muda sangat concern dengan isu kepedulian, kita juga berbagi seperti food bank di Jawa Barat.

Anak muda saat ini juga concern dengan isu lingkungan, PKB juga memiliki kegiatan penanaman pohon, peduli sampah dan tidak menggunakan sampah plastik. Isunya berbeda dengan generasi yang lama. Serta tempatnya untuk mereka yang muda ada di Garda Bangsa.

Anak muda dikenal suka memperhatikan sosial media, tapi sudah jenuh dengan gimik seperti berpenampilan dengan jaket anak muda dan lebih ingin suatu hal yang konkret? Bagaimana PKB menunjukkan bahwa PKB berani beda dan menunjukkan PKB tidak hanya sekedar gimik politik medsos saja?

Apapun nanti namanya, di media sosial itu lebih banyak bumbunya daripada dagingnya. Lama-lama yang milenial itu mulai mencari dagingnya. Oleh karena itu, kita mengemas kegiatan yang banyak dagingnya. Apa itu? Ya, supporting kepada mereka. Seperti Gus Muhaimin kalau nanti ditakdirkan menjadi presiden atau wapres akan mengalokasikan dana khusus untuk anak muda. Untuk enterpreneur, mereka harus diberikan afirmasi dari alokasi anggaran.

Karena anak muda hari ini, meski dimudahkan dengan teknologi tapi kan mereka secara "lebih malas" untuk bergerak karena semuanya bisa dikendalikan dengan aplikasi Google. Ya, harus diberikan semangat, bentuknya dari negara ya alokasi anggaran. Kalau dari partai seperti kita adalah kegiatan konkret yang bisa mendorong mereka di bidang kegiatan dan lainnya. Yang bisa menopang kompetensi dan bakat mereka.

Terkait PKB milenial, dulu kita ada kegiatan parlemen sehari. Seperti kegiatan anak muda berkunjung dan datang ke Gedung DPR dan menjadi parlemen sehari. Mereka atraksi di situ menjadi pimpinan DPR, pimpinan komisi, dan mengetahui bagaimana produk politik dibentuk.

Itu mereka harus tahu apa dinamika seperti apa, nanti di tingkat dua, ada DPRD provinsi dan itu pemula siswa kelas 3 SMA. Itu program fraksi dan diikuti oleh anak muda dari berbagai daerah. Kemudian kita bina. Itu adalah cara mendekatkan politik bagi anak muda yang masih pemula dan apa sih manfaatnya dalam berpolitik. Sehingga mereka tahu apa yang diproduksi, jangan tahunya cuma rapat-rapat saja.

Karena yang dilihat dari DPR cuma rapat, karena kalau petani ya bawa cangkul, kalau wartawan ya bawa pulpen dan tape recorder. Itu jadi tahu apa yang dirapatkan produk mereka. Kalau tidak diberi tahu seperti itu yang diketahui hanya berita negatif soal politik.

Seperti politikus ditangkap [KPK], politikus kena masalah, sedangkan prestasi membuat undang-undang anak-anak tidak paham. Yang dipahami justru gaya politisi, lalu masalah yang dihadapi.

Sebab, politisi itu figur publik, oleh karena itu, yang diviralkan adalah hal negatifnya saja. Yang positif sulit diberitakan. Lalu anak muda untuk tahu hal positif dari DPR harus ada anggaran tersendiri untuk sosialisasi.

Tapi kalau yang negatif tidak perlu sosialisasi bisa berkembang biak sendiri, sehingga politisi nanti mendapat label sebagai pembuat masalah, dan politik itu sumber masalah.

Selain dengan kedekatan anak muda dengan media sosial, saat ini anak muda juga punya masalah tentang kesenjangan sosial dan kesulitan dalam mencari lapangan kerja? Bagaimana PKB memandangnya dan apakah solusi yang ditawarkan?

PKB punya fokus terhadap bonus demografi, dalam konteks besarnya, dan salah satu tantangan bonus demografi adalah lapangan kerja yang terbatas dan hunian yang terbatas untuk anak muda. PKB mendesak dan mendorong untuk membuat program agar anak muda atau Gen Z dan milenial ini memiliki rumah, karena problem rumah ini adalah problem mereka.

Sebab, kreasi pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas pasti akan menyedot padat karya yang banyak. Sekarang sudah banyak yang menggunakan teknologi sehingga kebutuhan akan tenaga kerja berkurang.

Saat ini, PKB menggagas program atau kegiatan yang nantinya anak muda, dibekali dengan kreativitas dan didorong adanya lapangan kerja yang padat karya, dan anak muda milenial memiliki hunian yang cocok dan cukup untuk lingkungan mereka. Yang menjadi pembahasan sebenarnya anak muda itu berasal dari anak-anak atau bayi, sehingga problem stunting ini juga menjadi masalah.

Jadi saya ini orang pesisir di Gresik dan Lamongan yang merupakan sumber ikan. Saya pernah menyampaikan dan tanya kelompok nelayan, orang yang menangkap ikan ternyata anak-anak mereka makannya sosis dan Indomie. Ikannya dijual, karena ibu-ibu sekarang banyak mengikuti media sosial daripada rumit untuk masak ikan, Indomie semuanya suka, sosis mudah dan semua makan praktis dan ini akan menjadi mata rantai yang terus bersambung.

Nanti saat mereka dewasa, atau sudah menjadi milenial dan masuk angkatan kerja karena di usia kehamilan dan di masa anak-anak tidak punya bekal gizi yang cukup, akan menjadi masalah yang terjadi 10 tahun ke depan. Dari dia lahir hingga dia jadi pemimpin.

Oleh karena itu, tidak bisa dipisahkan permasalahan di usia anak-anak hingga milenial ini. Jadi kecukupan gizi bagi anak-anak itu juga buat anak-anak sekolah dan menjadi sarjana itu akan mendapat pendampingan lagi.

Jazilul Fawaid

Jazilul Fawaid. tirto.id/Andhika Krisnuwardhana

Soal isu antikorupsi, saat ini anak muda lebih aware dan memiliki ketertarikan pada isu antikorupsi, tapi bagaimana PKB menjawab hal itu? Dan jejak rekam juga memiliki isu korupsi seperti PKB yang menerima caleg mantan narapidana korupsi? Bagaimana PKB menjawab hal itu?

Yang jelas PKB dari awal tegas kepada kadernya, untuk menghindari praktik korupsi. Yang kedua, PKB dimulai dari reformasi birokrasi dan gagal membuat birokrasi yang clean government. Sebab, menurut saya, kalau mau bagus PKB harus memerintah. Kalau perlu dicatat, reformasi luar biasa adalah yang dilakukan Gus Dur. Dengan tempo pemerintahan yang tidak terlalu lama. Gaji PNS naik, TNI-Polri dipisahkan. Namun, belum masuk pada reformasi birokrasi, dan menurut saya korupsi lahir dari birokrasi yang morat-marit.

Bukan hanya soal politisi saja. Politik, birokrasi dan pengusaha, dulu di zaman Orde Baru, yang pengusaha tidak boleh berpolitik, yang berpolitik ya silakan politik dan pengusaha silakan jadi pengusaha saja. Kalau sekarang ini dicampur. Yang usaha juga berpolitik, yang birokrasi ikut berpolitik padahal itu tidak boleh. Menurut saya, itu tidak boleh.

Untuk mengatur birokrasi harus memerlukan tangan besi dan skema pemberantasan korupsi tidak boleh sepotong demi sepotong. Caleg mantan narapidana, itu juga harus kita cek bahwa ternyata rakyat itu memilih sebagian, karena caleg yang membagikan uang.

Sejak awal kita bahas sebagai wakil ketua umum bidang pemenangan pemilu tidak ingin ada kriminalitas dalam pemilu. Dimulai dari transaksi paling awal. Itu kita libatkan para pemilih dari rakyat kecil, sehingga jangan lihat yang gede-gede yang ketangkap. Karena yang kecil-kecil ada di masyarakat.

Oleh sebab itu, kita mulai dari kampanye, dan mengajak masyarakat dari awal kita ingin Pemilu ini bersih, dan tidak ada black campaign, kampanye fitnah, dan kalau itu terus berkembang, maka sulit menutup celah praktik korupsi.

Bagaimana Gus Dur selaku pendiri PKB bisa mendidik kadernya, sehingga PKB bisa eksis hingga saat ini?

Gus Dur ini punya visi dan beliau merupakan pemimpin yang visioner. Di antara partai politik yang mengalami percepatan generasi ini PKB, enggak tahu bagaimana caranya saat itu. Walaupun ada konflik dan semacamnya, PKB menjadi partai anak muda pada 2009. Sekarang sudah mulai tua-tua lagi, justru menurut saya, PKB saat ini harus mampu dalam konteks melibatkan anak-anak muda.

Saat ini PKB didominasi oleh anak-anak muda. Hari ini kita meminta pada pengurus cabang agar melibatkan anak muda dalam setiap struktur, bisa dicek di Jawa Barat itu semua pengurus 40 tahun ke bawah.

Gus Dur menciptakan dinamika, apakah itu sebuah perencanaan atau tidak, saya tidak tahu, tapi faktanya suksesi dan regenerasi di PKB berlangsung ada percepatan dibandingkan partai yang lainnya.

Kalau yang partai lain sudah tua baru berkonflik, kalau PKB sudah pasca itu. Begitu lah regenerasi di PKB dan itu unik, dan berjalan secara alami. Apakah itu ada perencanaan khusus saya tidak tahu. Sebab, berjalan secara alami.

Hari ini Gus Muhaimin juga akan melakukan hal serupa. Dan terus melakukan rekrutmen dan dia akan memperhatikan Garda Bangsa dan anak muda agar bisa bergabung dengan PKB. Kalau salah kita mengelola generasi maka dia akan mengalami penurunan juga.

Kalau sekarang kita tidak khawatir, karena proses sumber kader di PKB adalah santri. Sedangkan pesantren buka terus tidak pernah tutup.

Mereka yang berkegiatan anak muda dan bersumber di pesantren itu banyak. Ada banyak organisasi meski tidak dari sumber PKB itu sumbernya dari NU tidak akan surut. Yang sekarang ini mulai dirayu oleh banyak partai. Ada banyak partai yang defisit kader sehingga banyak diambil oleh partai lain.

Anak muda banyak yang bilang kita di PKB mengantre lama lebih baik kita pindah ke partai lain. Saking banyaknya jumlah kader kita, dan proses itu berjalan di organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan.

Adakah ada dukungan PKB agar ada afirmasi politik untuk kuota khusus anak muda di parlemen?

Yang jelas bagi caleg muda PKB akan memberikan perhatian khusus berupa pendampingan, konsultasi agar menjadi kader terpilih. Sehingga tidak hanya karena usianya yang muda tapi potensi. Salah satu kelemahan anak muda itu di antaranya adalah pengalaman. Kita mendorong ini dan kita kumpulkan mereka yang muda, dan kita berikan [kuota] khusus.

Kita juga bekerja sama dengan lembaga konsultan agar mereka punya gagasan yang fresh. Sehingga dari sisi jumlah kita enggak, tapi dari sisi kualitas, bagi mereka anak muda yang punya semangat kita dorong dan kita dampingi. Ada banyak anak muda yang ada di tingkat provinsi kita dorong. Agar mereka tahu apa tugas mereka bila masuk ke dalam parlemen.

Baca juga artikel terkait WAWANCARA atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Maya Saputri