tirto.id - Jerman buka peluang pengiriman kapal pembersih ranjau ke Selat Hormuz. Rencana ini merupakan dilaporkan jadi salah satu tawaran konkret yang dibawa Kanselir Friedrich Merz dalam pembicaraan di Paris pada Jumat (17/4/2026).
Seturut Euronews, rencana Jerman mengirim kapal pembersih ranjau pertama kali diungkap dalam laporan surat kabar Süddeutsche Zeitung. Laporan itu menyebut bahwa pangkalan logistik Jerman di Djibouti berkemungkinan digunakan dalam misi tersebut.
Usulan Merz terkait keterlibatan militer mereka di Hormuz itu disebut berisi kesediaan untuk mengirimkan kapal pemburu ranjau, kapal pengawal, dan kapal pengintai setelah berakhirnya permusuhan antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel. Hal ini disebut dapat dilakukan dengan sejumlah syarat khusus.
Jika disetujui, seorang sumber anonim Kantor Berita Jerman (DPA) menyebut bahwa misi tersebut akan dilakukan untuk membersihkan ranjau laut di Hormuz dan melakukan pengintaian maritim dan pengawasan jarak jauh di wilayah laut.
Militer Jerman, Bundeswehr, kini memiliki 8 kapal pemburu ranjau dan dua kapal penyelaman ranjau. Namun, berapa banyak kapal yang akan dikerahkan untuk misi ini belum dapat diverifikasi.
Kapal pemburu ranjau milik Jerman memiliki panjang lebih dari 50 meter. Kapal ini biasanya diawaki oleh 42 tentara dan dapat diperkuat oleh penyelam ranjau jika diperlukan.
Pembicaraan di Paris pada Jumat merupakan agenda Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk mengumpulkan sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer dan PM Italia Giorgia Meloni. Agenda ini diperkirakan akan membahas kerja sama Eropa untuk merespons konflik di Selat Hormuz.
Syarat Jerman Bisa Kirim Kapal Pembersih Ranjau ke Selat Hormuz
Menukil Politico, Merz sebelumnya membuat pernyataan berisi penegasan posisi pemerintahannya dalam konflik di Selat Hormuz pada hari Kamis (16/4).
Setelah bertemu dengan PM Irlandia Micheál Martin di Berlin, Kanselir Jerman itu menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk membantu mengamankan rute pelayaran dalam syarat dan kondisi yang ketat.
Merz menjelaskan bahwa syarat minimal bagi operasi militer Jerman di Hormuz adalah dilakukan setelah "setidaknya gencatan senjata sementara" serta adanya persetujuan dari pemerintah di Berlin dan parlemen.
"Kita masih jauh dari itu," katanya.
Selain gencatan senjata yang stabil, Merz juga menjelaskan bahwa Jerman akan turut ambil bagian dalam operasi militer di Hormuz jika ada mandat dari sistem keamanan kolektif. Kanselir Jerman itu juga menyatakan sistem keamanan kolektif itu "sebaiknya" berupa PBB.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyatakan kekecewaannya kepada mitra NATO di Eropa selama Perang Iran-AS berkecamuk sejak 28 Februari lalu. Trump kemudian menuntut komitmen negara Eropa untuk membantu "dalam beberapa hari" pasca pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal Nato Mark Rutte pada awal April lalu.
Akan tetapi, sekutu NATO AS di Eropa masih ragu untuk terlibat dalam aksi tempur apa pun dalam perang. Mereka dilaporkan sangsi untuk membantu karena Perang Iran adalah pertempuran yang dimulai Trump tanpa berkonsultasi dengan mereka terlebih dahulu.
Sementara itu, pembukaan kembali Selat Hormuz kini jadi harapan banyak negara setelah penutupan jalur vital energi itu oleh Iran telah menyebabkan kenaikan harga energi di banyak negara.
Badan Energi Internasional membuat pernyataan pada Kamis bahwa Eropa kini hanya memiliki pasokan bahan bakar jet yang terbatas. Jika pasokan via Hormuz tetap terblokir, kata mereka, Eropa hanya memiliki cadangan bahan bakar jet sebanyak "mungkin sekitar enam minggu".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id




























