Jack Ma, Dibesarkan Komunis Cina, Pensiun Jadi Filantropis

Pendiri dan ketua eksekutif e-commerce Tiongkok raksasa Alibaba Group Jack Ma. AP / Sakchai Lalit
Oleh: Ahmad Zaenudin - 10 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pada 10 September 2019, Jack Ma akan mundur dari posisi Chairman of the Board Alibaba Group, lalu digantikan Daniel Zhang yang kini sebagai CEO.
tirto.id - “Hari ini, bertepatan dengan peringatan ulang tahun Alibaba ke-19 … jajaran direksi telah menyetujui bahwa satu tahun dari sekarang, yaitu 10 September 2019 … CEO Alibaba Group Daniel Zhang akan menggantikan posisi saya sebagai Chairman of the Board Alibaba Group,” tulis Jack Ma, pendiri Alibaba dalam surat pengumuman pengunduran dirinya yang ia tujukan kepada para pelanggan Alibaba, Aliren—julukan bagi karyawan Alibaba—dan pemangku kepentingan.”

Selepas pensiun, Jack Ma bisa jadi akan lebih terlibat aktif pada yayasan pendidikan yang ia dirikan empat tahun silam, The Jack Ma Foundation. Pada 2017, The Jack Ma Foundation mengucurkan uang senilai $45 juta untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada di daerah-daerah kumuh Cina. Ini seolah mengikuti jejak Bill Gates yang kini fokus sebagai filantropis yang membentuk Bill & Melinda Gates Foundation.

Kesuksesan Jack Ma membangun Alibaba, telah membuatnya jadi salah satu yang terkaya di dunia. Melansir Bloomberg Billionaires Index, Jack Ma berada di posisi ke-19 orang terkaya dunia. Total asetnya, ditaksir mencapai $39,9 miliar, dari kepemilikan 5,6 persen total sahamnya di Alibaba. Jack Ma pun memiliki 8,8 persen saham Ant Financial, anak usaha Alibaba yang bergerak di bidang pembayaran digital seperti layanan Alipay.

Alibaba, secara sederhana, telah membuat guru bahasa Inggris itu jadi salah satu orang paling berpengaruh dunia. Pengunduran dirinya, tak bisa dianggap hal biasa. “Saya melamar ke KFC ketika waralaba itu datang ke kotaku. Dua puluh empat orang melamar. Dua puluh tiga diterima. Iya, saya satu-satunya orang itu,” kata Jack Ma suatu ketika, menceritakan pengalaman hidupnya yang pernah gagal.

Jack Ma lahir pada 10 September 1964 di Huangzhou, Provinsi Zhejiang, Cina. Mengutip The Guardian, Jack Ma lahir tepat dua tahun sebelum Cina melaksanakan revolusi budaya. Ayah Ma, merupakan anggota Partai Nasional. Menurut laporan, atas pilihan politik itu, ayah Ma pernah disiksa oleh rezim Mao Zedong, saat Partai Komunias menguasai Cina.

Jack Ma belia merupakan orang yang sangat tertarik mempelajari bahasa Inggris. Saban hari, Ma mendengarkan Voice of America, siaran internasional yang diperolehnya melalui parabola. Guna meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, saat usianya menginjak 12 tahun, Jack Ma bekerja paruh waktu menjadi penerjemah dan pemandu wisata bagi orang-orang asing, khususnya asal Amerika Serikat, yang mengunjungi Huangzhou.

Ketertarikan pada bahasa Inggris di usia belia itu membuat Jack Ma memutuskan untuk masuk ke jurusan sastra Inggris. Sayangnya, dalam seleksi masuk perguruan tinggi, Jack Ma gagal sampai dua kali. Namun, peruntungan akhirnya datang kepadanya. Di kesempatan ketiga, Ma diterima di Hangzhou Teacher Collage. Pada 1988, ia memperoleh gelar sarjana sastra Inggris. Sejak saat itu, hingga 1993, Jack Ma menjadi pengajar di Hangzhou Institute of Electronics and Engineering sebagai, tentu saja, guru bahasa Inggris.

Pada 1994, Jack Ma lantas mendirikan perusahaan pertamanya, Haibo Translation Agency. Ini dilakukannya karena kerja menerjemahkan, sudah sukar dikerjakannya sendiri. Ma mengatakan perlu memiliki “hired guns” untuk tugas-tugas penerjemahan yang kian menumpuk.

Awal titik balik Jack Ma, dari seorang pengajar bahasa Inggris menjadi penguasa, terjadi pada 1995. Jack Ma berkesempatan mengunjungi Seattle, Amerika Serikat. Di negara adidaya, Jack Ma bertemu dan terpesona dengan “internet.” Menggunakan Yahoo, yang kala itu jadi penguasa dunia maya. Cerita legendaris soal Jack Ma mencari kata kunci “beer” di jagat maya tapi tak menemukan satu pun produk Cina. Di sini lah bermula inspirasi membuat situs internet yang menampilkan produk-produk Cina.



Sekembalinya dari Amerika Serikat, bersama istrinya Cathy dan modal sebesar $20 ribu, Jack Ma mendirikan perusahaan internet pertamanya “China Pages.” Suatu situsweb direktori yang menghubungkan pebisnis-pebisnis kecil di Cina untuk berkembang memanfaatkan internet.

Liu Shiying dan Martha Avery, dalam buku mereka berjudul “The Inside Story Behind Jack Ma and the Creation of the World’s Biggest Online Marketplace,” mengungkap Jack Ma punya sisi sosial. Ia tak mau sukses sendiri, ingin mengajak segenap pengusaha-pengusaha di Cina berkembang dengan memanfaatkan internet.

“Jack Ma percaya, jika ia bisa sukses, orang lain pun bisa,” tulis Shiying dan Avery. “Tapi,” lanjut Shiying dan Avery, “tidak semua orang bisa merestrukturisasi cara bisnis mereka berjalan dengan model baru bernama internet.” Jack Ma, melalui China Pages berupaya menciptakan ekosistem bagi dunia bisnis Cina.

Apa yang diungkap Shiying dan Avery tentang Jack Ma senada dengan ungkapan Sanjay Varma, mantan Vice President Alibaba. “Ma sungguh-sungguh ingin memberdayakan orang-orang kecil, perusahaan kecil, atau UKM.”

China Pages sukses. Dalam tiga tahun berdiri, perusahaan itu untung $800 ribu. Kesuksesan itu, membawa Jack Ma pada langkah berikutnya dengan mendirikan Alibaba pada 1999, di kota kelahirannya Hangzhou, dengan bekal modal sebesar 500.000 yuan yang dikumpulkan dari 17 temannya.

Alibaba merupakan e-commerce, konsep yang sebelumnya belum dikenal di Cina. Alibaba, juga merupakan ekosistem yang memungkinkan pebisnis-pebisnis Cina berjualan secara online. Persis seperti tujuan Jack Ma mendirikan China Page. Konsep bisnis Alibaba, membuat Softbank hingga Yahoo menanamkan investasi ke Alibaba.

Alibaba adalah kesuksesan besar. Pada 2007, Alibaba melakukan penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong Stock Market. E-commerce tersebut, memperoleh dana segar senilai $1,5 miliar. Alibaba pun melakukan IPO di New York Stock Exchange pada 2014, dan sukses meraih pendanaan senilai $21,8 miliar.

Alibaba, merujuk perkataan Jack Ma adalah “perusahaan global, tetapi dimiliki dan dijalankan oleh nasionalisme Cina.” Alibaba lantas menjelma jadi perusahaan multi tentakel, dengan jaringan bisnisnya menciptakan Taobao, Alipay, hingga Alisoft.




Didukung oleh Kekuasaan


Pasca-masuknya internet ke Cina pada Januari 1996, Cina mulai membangun "tembok" untuk melakukan sensor. Pengendalian-pengendalian yang dilakukan pemerintah Cina di dunia maya mencakup pada pembicaraan-pembicaraan yang berseliweran melalui internet, mengendalikan ruang-gerak dan bahkan memblokir situsweb asing, melakukan filterisasi konten-konten, termasuk menurunkan laju lalu lintas internet dari Cina ke luar negeri.

Hal demikian terkait dengan biaya bandwidth internasional yang harus dibayar mahal jika laju lalu lintas menuju situsweb-situsweb luar terlampau banyak. Sebagaimana dikutip dari Business Insider, pada 2010, terdapat 1,3 juta situsweb yang diblokir otoritas Cina.

Kebijakan yang lantas berjuluk “The Great Firewall of China” tersebut, membuat berbagai perusahaan teknologi asing, terkena imbasnya. Para pemain-pemain besar di dunia internet seperti Google sejak 2002, diblokir oleh otoritas internet Cina. Menyusul kemudian Facebook dan Twitter yang diblokir pada 2009.

Aksi keras Pemerintah Cina pada pemain internet dunia tak terjadi pada pelaku bisnis internet lokal, salah satunya Alibaba. Jay Somaney, dalam tulisannya di Forbes, “Alibaba telah didukung Pemerintah Cina, bahkan sejak hari pertama perusahaan tersebut berdiri. Menurut Somaney, Pemerintah Cina memanfaatkan Alibaba untuk bertransaksi di antara beragam agensi pemerintah.

“Dengan undang-undang kepemilikan yang buruk dan fakta bahwa Pemerintah Cina mengendalikan hampir segala hal, Alibaba merupakan ‘anak emas’ Cina,” cetus Somaney.

Somaney tak merinci mengapa Alibaba disebut anak emas Cina. Namun, salah satu indikator yang ia berikan ialah banyaknya barang-barang palsu alias KW dijual di Alibaba tetapi tak mendapatkan teguran dari pemerintah Cina.


Dilansir Fortune, Alibaba disebut sebagai surga barang-barang palsu. Pada 2015, berdasarkan laporan The International Anti-Counterfeiting Coalition, diperkirakan $1,7 triliun barang-barang KW diperjualbelikan di seluruh dunia. Dari angka tersebut, 70 persen berasal dari Cina, dan tak lain, Alibaba turut mempopulerkan dan menjual produk-produk tersebut.

Ihwal Alibaba "anak emas" pemerintah Cina dibenarkan sendiri oleh Jack Ma. Dalam sebuah kesempatan, sebagaimana diberitakan Quartz, Jack Ma sempat memuji-muji rezim Partai Komunis di Cina, karena negaranya punya keuntungan: stabilitas. Dukungan dan stabilitas ini lah yang membuat Alibaba jadi raksasa di Cina membesar dan bersaing dengan Tencent.

“Kerja Pemerintah China yang bersih dan jujur telah menarik perhatian dunia: tidak ada negeri yang seperti ini di bagian dunia manapun,” kata Jack Ma.

Baca juga artikel terkait JACK MA PENSIUN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight