tirto.id - Rivalitas Inggris dan Argentina melampaui 90 menit pertandingan. Setiap pertemuan kedua tim di Piala Dunia seolah membawa kembali memori lama. Ada duel keras, kontroversi, sampai aksi individu yang mengubah jalannya sejarah. Kini, kedua kubu bersiap bentrok di semifinal Piala Dunia 2026 di Stadion Atlanta, AS, pada Kamis, 17 Juli 2026 pukul 02.00 WIB.
Kedua negara pertama kali bertemu di Piala Dunia 1962. Namun, rivalitas Argentina vs Inggris benar-benar mencapai titik didih baru setelah perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko dan babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Prancis.
Dua pertandingan tersebut melahirkan momen abadi. Pada 1986, Diego Maradona mencetak gol kontroversial, sekarang kita mengenalnya sebagai "Hand of God" atau "Gol Tangan Tuhan". Sementara itu, pada 1998, David Beckham keluar dari lapangan lebih awal akibat kartu merah yang jadi salah satu insiden terkondang dalam sejarah Piala Dunia.
Memori Gol Tangan Tuhan Maradona Argentina vs Inggris Piala Dunia 1986
Perempat final Piala Dunia 1986 mempertemukan Inggris dan Argentina di Stadion Azteca, Meksiko, hanya empat tahun selepas berakhirnya Perang Malvinas atau Perang Falkland antara Argentina dan Inggris.
Kekalahan Argentina dalam perang itu meninggalkan luka bagi masyarakatnya. Maka, meski para pemain berulang kali menegaskan ini hanya laga sepak bola, atmosfer di stadion jauh lebih emosional dibanding pertandingan biasa.
Eks kapten Argentina di Piala Dunia 1974, Roberto Perfumo, mengungkap besarnya arti laga itu. Dia bilang, "Pada Piala Dunia 1986, menang lawan Inggris sudah cukup, memenangi Piala Dunia tujuan kedua kami."
Diego Maradona sendiri mencoba meredam tensi sebelum pertandingan. Ia mengatakan tim Argentina datang tanpa membawa senjata ataupun amunisi.
"Kami datang ke sini hanya untuk bermain sepak bola," kata Maradona.
Namun, pertandingan kemudian melahirkan salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah sepak bola.
Pada menit ke-51, Maradona menusuk ke pertahanan Inggris sebelum berusaha melakukan umpan satu-dua dengan Jorge Valdano. Bola justru memantul ke arah Steve Hodge, yang bermaksud membuangnya. Alih-alih menjauh, sapuan Hodge melambung ke kotak penalti Inggris.
Maradona berlari mengejar bola bersama kiper Peter Shilton. Dengan postur lebih pendek, peluang Maradona memenangi duel udara terbilang kecil. Saat itulah ia mengangkat tangan kirinya lalu menyentuh bola lebih dulu sebelum masuk ke gawang.
Wasit Ali Bin Nasser mengesahkan gol tersebut. Protes para pemain Inggris tidak mengubah keputusan sang pengadil. Gol ini kemudian dikenang sebagai "Hand of God".
Menariknya, kontroversi itu hanya menjadi pembuka.
Empat menit kemudian, Maradona kembali mengguncang pertahanan Inggris lewat aksi berbeda. Ia menggiring bola dari area sendiri, melewati sejumlah pemain Inggris satu per satu, lalu menaklukkan Shilton untuk kedua kalinya.
Gol itu kemudian dikenal sebagai "Goal of the Century" atau Gol Abad Ini karena kualitas individunya.
Komentator BBC Barrie Davies saat itu tak kuasa menyebut aksi Maradona sebagai karya seorang "genius murni dalam sepak bola."
Argentina akhirnya menang 2-1 dan melaju ke semifinal. Tim asuhan Carlos Bilardo kemudian menyingkirkan Belgia sebelum mengalahkan Jerman Barat di final untuk merebut gelar juara dunia kedua mereka.
Hingga kini, gol "Hand of God" dan "Goal of the Century" tetap menjadi dua sisi dari satu kisah yang sama: satu memicu perdebatan tanpa akhir, satunya lagi dikenang sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Kartu Merah Beckham Inggris vs Argentina Piala Dunia 1998
Dua belas tahun setelah duel di Meksiko, Inggris dan Argentina kembali bertemu, kali ini pada babak 16 besar Piala Dunia 1998 di Saint-Etienne, Prancis.
Laga berlangsung dramatis sejak awal. Remaja Inggris, Michael Owen, mencetak gol spektakuler setelah berlari dari tengah lapangan dan melewati beberapa pemain Argentina. Pertandingan kemudian berlanjut sengit hingga kedua tim bermain imbang 2-2.
Insiden yang paling dikenang terjadi menjelang turun minum.
Diego Simeone melanggar David Beckham hingga gelandang Inggris itu terjatuh. Saat masih berada di atas rumput, Beckham mengayunkan kakinya ke arah betis Simeone. Tendangannya tidak keras, tetapi cukup membuat Simeone bereaksi.
Wasit asal Denmark, Kim Milton Nielsen, yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian, langsung mengeluarkan kartu merah untuk Beckham.
Bertahun-tahun kemudian, sosok El Cholo yang kini menukangi Atletico Madrid itu mengakui dia memang berusaha memancing reaksi lawannya. "Wasit masuk ke perangkap saya," ujar Simeone.
Bermain dengan 10 orang, Inggris bertahan hingga babak tambahan waktu. Namun, Argentina akhirnya memenangi adu penalti 4-3 dan melaju ke perempat final.
Bagi Beckham, kartu merah itu menjadi titik terendah dalam kariernya bersama tim nasional Tiga Singa.
Wajah Beckham sempat jadi bulan-bulanan surat kabar Inggris The Sun. Ia juga dapat ancaman pembunuhan seusai tim pulang dari Prancis.
Beckham mengenang periode itu sebagai masa paling sulit dalam hidupnya.
"Saya gemetar hampir tidak terkendali. Saya menangis seperti bayi. Itu adalah masa terburuk dalam hidup saya. Saya memang melakukan kesalahan, tetapi reaksi yang muncul sangat brutal," kata Beckham.
Kesempatan menebus kesalahan datang empat tahun kemudian di Piala Dunia 2002 di Korsel-Jepang. Inggris kembali bersua Argentina pada fase grup.
Beckham yang saat itu baru pulih dari cedera tetap dipercaya mengemban ban kapten. Ia kemudian mencetak satu-satunya gol melalui titik penalti untuk membawa Inggris menang 1-0 atas Argentina di Sapporo, Jepang.
Beckham mengaku kemenangan itu akhirnya membebaskan dia dari bayang-bayang insiden 1998. "Banyak hal terjadi dalam hidup saya, tetapi setelah empat tahun saya akhirnya bisa menguburnya," ujar Beckham.
Kemenangan itu sekaligus jadi penebusan atas malam kelam di Saint-Etienne. Meski Inggris dan Argentina kembali beberapa kali bertemu setelahnya, dua momen pada 1986 dan 1998 tetap menjadi bab paling ikonik dalam sejarah rivalitas mereka.
Setiap kali kedua negara berjumpa di Piala Dunia, memori gol "Tangan Tuhan" Maradona dan kartu merah Beckham hampir selalu jadi bagian dari perbincangan.
Kini, dalam semifinal Piala Dunia 2026, saat Inggris yang dipimpin Harry Kane dan Argentina yang ingin trofi untuk tarian terakhir Lionel Messi, akankah muncul momen epik ketiga yang akan dikenang oleh publik sepanjang masa?
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id































