Bisnis di Tengah Pandemi

Industri Maskapai Penerbangan Terancam Bangkrut karena COVID-19?

Penumpang memasuki bilik disinfektan yang terpasang di pintu keberangkatan Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (27/3/2020). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 31 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Siasat apa yang diambil industri penerbangan di tengah COVID-19.
“Jika kita harus beroperasi selama tiga, enam, sembilan, bahkan mungkin 12 bulan, tanpa penerbangan dan tanpa pendapatan, bagaimana kita bertahan hidup,” ucap Michael O’Leary, CEO Ryanair, maskapai penerbangan berbasis Dublin, Irlandia, melansir Reuters.

Dalam tiga bulan sejak COVID-19 merebak, penerbangan menjadi salah satu industri pertama yang terdampak. Pukulan yang diterima industri ini masuk dalam kategori berat. Sebab, penundaan penerbangan menjadi kebijakan yang jamak diambil pemerintah di hampir seluruh negara terkena wabah COVID-19.

Sejak 5 Februari lalu, pemerintah Indonesia memberlakukan penundaan penerbangan dari dan menuju Cina. Penundaan penerbangan juga dilakukan di banyak negara. National Emergency Crisis and Disasters Management Authority (NCEMA) dan General Civil Aviation Authority (GCAA) Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan mengurangi jumlah operasional penerbangan. Emirates mengoperasikan 13 destinasi, dari yang sebelumnya sebanyak 159 destinasi.

Bisnis penerbangan komersil maskapai Amerika Serikat (AS) juga tersengat COVID-19. United Airlines Holdings Inc dan JetBlue Airways Corp mulai memangkas penerbangan serta menerapkan kontrol biaya untuk mengatasi penurunan permintaan perjalanan. Jajaran eksekutif perusahaan tersebut mengumumkan pemotongan 10 persen penerbangan AS dan Kanada, serta memangkas 20 persen penerbangan internasional di bulan April.

Total kapasitas kursi di Eropa juga telah turun 59,1 persen secara tahunan, dihitung per 23 Maret 2020. Kapasitas domestik juga berkurang 48,3 persen dan kapasitas kursi penerbangan internasional telah dipangkas 62,9 persen. Dari 20 grup maskapai penerbangan teratas di Eropa, 18 di antaranya menunjukkan pemangkasan. Bahkan pada titik tertentu, kapasitas nol bisa jadi kenyataan untuk penerbangan Eropa.


Bisnis Maskapai Terancam Bangkrut?

Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau The International Air Transport Association (IATA) memperkirakan maskapai penerbangan dapat menderita kerugian hingga $113 miliar akibat pandemi COVID-19. IATA telah memperkirakan hilangnya pendapatan penumpang global terkait Cina sebesar $29,3 miliar tahun ini.

Menurut Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal dan CEO IATA, dalam kurun waktu dua bulan, prospek industri penerbangan di sebagian besar di dunia telah mengalami perubahan dramatis. “Tidak jelas bagaimana virus akan berkembang. Tetapi dampak yang terkandung di beberapa pasar dan hilangnya pendapatan mengarah hingga $113 miliar. Ini adalah krisis,” ucap Juniac sebagaimana dikutip IATA.

Center of Aviation (CAPA) bahkan memperkirakan sebagian besar maskapai di dunia mengalami kebangkrutan pada akhir Mei 2020. Ini karena cadangan kas perusahaan maskapai penerbangan berkurang dengan cepat sedangkan ratusan unit pesawat parkir di hangar. Jumlah penerbangan operasional yang berkurang jauh--bahkan tidak sampai setengah dari frekuensi penerbangan semula--telah membuat pendapatan perusahaan penerbangan terpangkas tajam.

Di sisi lain, biaya operasional seperti sewa pesawat dan utang perusahaan tetap harus dibayarkan. Menurut catatan CAPA, banyak maskapai penerbangan yang sedang menuju kebangkrutan teknis karena masalah keuangan tersebut.

Biaya sewa pesawat juga menghantui maskapai nasional Garuda Indonesia. Menurut Irfan Setiaputra, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, biaya sewa pesawat menjadi komponen biaya operasional yang terus berjalan. Belum lagi fakta bahwa biaya tersebut dihitung dengan menggunakan nilai tukar mata uang asing.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak ayal membuat nilai sewa pesawat menjadi lebih tinggi. Beban perseroan terasa semakin berat dengan berkurangnya frekuensi penerbangan serta jumlah penumpang pesawat. Irfan menyatakan bisnis maskapai sedikit terbantu dengan melemahnya harga minyak dunia.

Tapi kondisi plus-minus tersebut menurut Irfan tidak berdampak signifikan terhadap arus kas perusahaan. “Yang paling mendasar, kita harus mengerti bahwa jika masyarakat membutuhkan transportasi untuk bepergian. Karena itu kami berkomitmen untuk menjalankan fungsi kami sebagai airlines nasional. Kami kesampingkan dulu plus minus kerugian, karena sudah pasti merugi,” ucap Irfan kepada Tirto.



Menurut Irfan, kondisi yang terjadi di industri penerbangan saat ini merupakan efek domino dari situasi sebab-akibat. Pandemi menyebabkan masyarakat enggan berpergian dan mengakibatkan anjloknya bisnis industri penerbangan.

“Masyarakat tidak mau bepergian bukan karena mereka tidak bepergian, melainkan karena ada rasa khawatir atau ada sentimen. Kami menyebut ini sebagai kondisi demand is still there, but sentiment is the issue,” imbuh Irfan.

Berbagai kondisi yang menghimpit bisnis maskapai, tidak serta merta membuat Garuda menaikkan harga tiket pesawat. Perusahaan yang terdaftar di papan bursa dengan kode GIAA ini pun tidak menghapus rute-rute penerbangan yang sudah ada meski dengan frekuensi penerbangan yang sudah berkurang hingga nyaris 50 persen, termasuk rute penerbangan dari dan ke Amsterdam dan Australia.

Jika kondisi dan situasi memburuk ke depan, Irfan mengaku Garuda Indonesia melayani penerbangan satu kali dalam seminggu untuk tujuan tertentu. “Paling buruk adalah kami melayani penerbangan satu minggu sekali. Memang jadi tidak pas dengan situasi umum. Tapi dengan situasi saat ini kalau ada penumpang yang ingin pergi, kami memberikan kesempatan itu, meski hanya satu kali dalam seminggu,” tutur Irfan.

Sebagai catatan, Garuda Indonesia setidaknya memiliki jadwal penerbangan hingga 40 penerbangan ke minggu untuk tujuan Cina saja. Rute penerbangan ini telah mengalami penangguhan. Padahal, rute Indonesia-Cina menyumbang 35 hingga 40 persen terhadap total penerbangan internasional Indonesia. Selain Garuda, Lion Air Group pun memiliki jadwal 44 penerbangan per minggu dengan rute Indonesia-Cina.

Dengan adanya pembatasan, Lion Air akan terus memantau perkembangan per harian. Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Lion Air Group mengatakan hingga saat ini operasional perusahaan masih berjalan normal. Menurutnya, fokus Lion Air Group saat ini adalah memastikan seluruh awak pesawat, staf dan penumpang yang menggunakan jasa Lion Air Group aman, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan penerbangan.

“Mengenai kerugian, jumlah penumpang, saya belum bisa memberikan keterangan,” tutur Danang kepada Tirto.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiratmadja mengungkapkan seluruh penerbangan sudah mengurangi jumlah rute dan frekuensi penerbangan sampai dengan 50 persen sejak awal Maret 2020. “Apabila penuntasan pandemi COVID-19 semakin tidak pasti, hal ini akan membuat industri penerbangan semakin terpuruk bahkan sebagiannya akan tidak beroperasi karena bangkrut,” tutur Denon melalui pernyataan tertulis seperti dikutip dari pemberitaan Tirto sebelumnya.

Untuk mengurangi kerugian selama satu bulan terakhir, sejumlah maskapai penerbangan melakukan langkah antisipasi. Misalnya dengan menghentikan operasional dan merumahkan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) baik kepada pilot, awak kabin, teknisi, dan karyawan pendukung lainnya.

INACA pun meminta pemerintah untuk memberikan insentif kepada para pengusaha di sektor penerbangan yang bisnisnya tengah tertekan. Misalnya dengan penundaan pembayaran PPh, penangguhan bea masuk impor suku cadang, penangguhan biaya bandara dan navigasi yang dikelola BUMN, pemberlakuan diskon biaya bandara yang dikelola Kementerian Perhubungan, dan perpanjangan jangka waktu berlakunya pelatihan simulator maupun pemeriksaan kesehatan bagi awak pesawat.

Baca juga artikel terkait PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Windu Jusuf
DarkLight