Menuju konten utama

Indeks Dolar Melemah, Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp16.896

Penguatan rupiah didorong prospek membaiknya tensi geopolitik usai pernyataan Presiden AS Donald Trump di World Economic Forum.

Indeks Dolar Melemah, Rupiah Ditutup Perkasa ke Rp16.896
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp16.896 pada perdagangan Kamis (22/1/2026). Rupiah naik 40 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.936 per dolar AS.

Pergerakan mata uang Garuda pada hari ini juga cukup perkasa, dan sempat menyentuh level Rp.16.881 atau menguat 55 poin.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS yang dipicu sentimen global, terutama sikap Presiden AS Donald Trump terkait isu tarif dan geopolitik.

Ibrahim menjelaskan, indeks dolar AS melemah setelah Trump menarik ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa serta menyampaikan bahwa penggunaan kekuatan militer terkait isu Greenland tidak akan dilakukan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos.

“Trump menahan diri untuk tidak menyebutkan tarif maupun tindakan militer atas Greenland. Ini meredakan ketegangan pasar global dan mendorong pelemahan dolar AS,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.

Menurut Ibrahim, laporan Bloomberg juga menyebut Trump akan mundur dari rencana pengenaan tarif terhadap barang-barang Eropa yang menentang upaya AS mengambil alih Greenland. Ia bahkan mengklaim telah terbentuk kerangka kesepakatan masa depan antara AS dan NATO terkait wilayah tersebut, meski detail kesepakatan belum diungkap.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengingatkan agar pasar tidak terlalu cepat bereuforia. Penarikan ancaman tarif dinilai belum sepenuhnya menghilangkan risiko meningkatnya kembali ketegangan antara AS dan Uni Eropa.

Selain sentimen geopolitik, Ibrahim menuturkan pelaku pasar juga mencermati rilis sejumlah data ekonomi AS, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, serta indeks inflasi pilihan bank sentral AS, yakni Core Personal Consumption Expenditures (PCE).

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai optimisme pasar turut didorong keyakinan bahwa pemerintah mampu menekan praktik under invoicing impor dan ekspor yang selama ini membebani penerimaan negara. Praktik ilegal tersebut dinilai sudah berlangsung secara struktural dengan nilai kerugian mencapai ribuan triliun rupiah.

“Jika pemerintah mampu menggaet sekitar 30 persen saja dari potensi kerugian akibat under invoicing ekspor, defisit anggaran negara sebenarnya bisa ditutup,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan, under invoicing ekspor menjadi salah satu penyebab shortfall penerimaan negara pada tahun lalu. Isu ini kembali mencuat seiring defisit APBN 2025 yang mendekati 3 persen, kondisi yang turut memberi tekanan terhadap rupiah.

Seperti diketahui, pemberantasan praktik under invoicing menjadi perhatian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Purbaya menegaskan pengawasan akan diperketat, termasuk melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), guna meningkatkan penerimaan Bea dan Cukai.

Adapun untuk perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif namun berpeluang ditutup menguat.

"Pada perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguatdi rentang Rp16.860-Rp16.900," ucapnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana