Menuju konten utama

Hasil Pertemuan Iran-AS di Swiss yang Diwarnai Ancaman Trump

Pertemuan Iran-AS di Swiss menghasilkan roadmap 60 hari, inspeksi nuklir IAEA, pembahasan sanksi, dan pengamanan Selat Hormuz.

Hasil Pertemuan Iran-AS di Swiss yang Diwarnai Ancaman Trump
Pertemuan tingkat tinggi AS dan Iran dimediasi Qatar dan Pakistan di kompleks hotel mewah Burgenstock yang menghadap Danau Lucerne, Swiss, pada 21 Juni 2026. (Photo by Fabrice Coffrini / POOL / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss pada Minggu, 21 Juni 2026 menghasilkan sejumlah perkembangan penting sebagai langkah awal penyelesaian konflik, meski sempat diwarnai ancaman dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran. Berikut rincian hasil pertemuan tersebut.

Delegasi AS terdiri dari Wakil Presiden AS JD Vance, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff. Sedangkan delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa salah satu pencapaian terbesar dari pertemuan tersebut adalah kesediaan Iran untuk kembali menerima inspeksi dari International Atomic Energy Agency (Badan Energi Atom Internasional).

“Iran telah setuju untuk mengundang kembali inspektur IAEA ke negara mereka. Itu adalah tonggak penting bagi rakyat Amerika,” kata Vance dikutip Fox News (23/6/2026).

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan tegas bahwa Washington akan mengambil tindakan yang dianggap perlu apabila Iran tidak mematuhi komitmennya dalam roadmap 60 hari tersebut.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki kemampuan untuk mengendalikan situasi di Selat Hormuz dan bahkan mengisyaratkan bahwa blokade terhadap jalur tersebut dapat diberlakukan kembali dalam waktu singkat jika diperlukan.

"Jika Iran tidak memenuhi kesepakatan mereka, atau jika mereka tidak berperilaku baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Hasil Pertemuan Iran-AS di Swiss

Dalam pertemuan yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan itu, para delegasi disebut berhasil menyusun kerangka kerja untuk melanjutkan pembahasan teknis pada pekan-pekan berikutnya.

Hari pertama perundingan di Swiss menghasilkan sebuah peta jalan atau roadmap selama 60 hari yang akan menjadi dasar menuju kesepakatan yang lebih komprehensif.

Berikut poin penting hasil pertemuan Iran-AS di Swiss dikutip Al Jazeera (22/6/2026):

1. Dibentuk Komite Tingkat Tinggi untuk mengawasi proses negosiasi

Kedua negara menyetujui pembentukan sebuah Komite Tingkat Tinggi yang bertugas memberikan pengawasan politik terhadap seluruh proses mediasi. Komite ini akan menerima laporan berkala dari para negosiator utama dan mengawasi berbagai kelompok kerja teknis yang dibentuk untuk membahas isu-isu spesifik.

2. Dibentuk kelompok kerja khusus untuk isu nuklir, sanksi, dan penyelesaian sengketa

Sebagai bagian dari mekanisme implementasi, AS dan Iran menyepakati pembentukan sejumlah kelompok kerja teknis yang fokus pada isu-isu utama. Kelompok pertama akan menangani program nuklir Iran, kelompok kedua membahas pencabutan atau pelonggaran sanksi ekonomi, dan kelompok ketiga bertugas mengawasi implementasi kesepakatan serta menyelesaikan potensi sengketa yang muncul selama proses berlangsung.

3. Dibuka jalur komunikasi langsung untuk menghindari konflik di Selat Hormuz

Salah satu hasil yang dianggap sangat penting bagi stabilitas global adalah pembentukan jalur komunikasi langsung terkait keamanan di Selat Hormuz. Jalur komunikasi ini bertujuan mencegah salah perhitungan militer, insiden maritim, maupun miskomunikasi yang dapat mengancam pelayaran internasional.

4. Dibentuk mekanisme koordinasi untuk pengamanan dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz

Selain jalur komunikasi, kedua pihak juga menyepakati pembentukan mekanisme koordinasi khusus untuk menangani masalah keamanan di Selat Hormuz, termasuk operasi pembersihan ranjau laut (de-mining).

5. Dibentuk "Lebanon De-confliction Cell" untuk mendukung penghentian konflik di Lebanon

Hasil penting lainnya adalah pembentukan sebuah "de-confliction cell" atau pusat koordinasi pencegahan konflik yang difokuskan pada situasi di Lebanon. Mekanisme ini bertujuan memastikan penghentian operasi militer yang sedang berlangsung dan mendorong terciptanya gencatan senjata yang lebih berkelanjutan.

Iran menyebut pembentukan mekanisme ini sebagai kemajuan besar menuju berakhirnya konflik di Lebanon.

6. Iran mengklaim memperoleh konsesi ekonomi dari Amerika Serikat

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa hasil perundingan mencakup sejumlah konsesi ekonomi penting dari Washington. Menurutnya, pembatasan terhadap ekspor minyak dan petrokimia Iran telah dilonggarkan, sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan mulai dibebaskan, serta blokade ekonomi tertentu telah dicabut.

“Mediasi tanpa henti dari Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon. Ekspor minyak dan petrokimia dibebaskan, blokade dicabut, beberapa aset yang dibekukan dilepaskan, dan rencana rekonstruksi & pembangunan besar diluncurkan untuk Iran. Uji coba nyata pertama: Sel dekonflik Lebanon,” tulisnya di X @araghchi pada 22 Juni 2026.

Ia juga menyebut adanya rencana pembangunan dan rekonstruksi ekonomi besar untuk Iran. Namun hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum secara resmi mengonfirmasi seluruh klaim tersebut sehingga detail implementasinya masih belum jelas.

7. Pembahasan pencairan aset Iran yang dibekukan

Salah satu isu yang mendapat perhatian besar adalah kemungkinan pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa apabila aset tersebut benar-benar dicairkan, sebagian dana akan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat.

“Aset tersebut akan digunakan untuk memperkaya petani Amerika dan memberi makan rakyat Iran.” ucap Vance.

8. Iran setuju menerima kembali inspeksi nuklir internasional

Terobosan paling signifikan dalam isu nuklir adalah kesediaan Iran untuk kembali menerima inspeksi dari Badan Energi Atom Internasional. Keputusan ini dianggap sebagai langkah penting untuk membangun kembali kepercayaan internasional terhadap program nuklir Iran.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra