tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai tukar petani (NTP) April 2025 sebesar 121,06, turun 2,15 persen dari bulan sebelumnya (month to month/mtm) yang sebesar 123,05. Penurunan ini terjadi karena harga komoditas perkebunan yang tercermin dari NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) anjlok 4,07 persen dari di Maret yang masih sebesar 165,66 menjadi 158,91 di April 2025.
“Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani atau It turun sebesar 1,35 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani atau Ib naik sebesar 0,82 persen,” papar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam rilis BPS, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Jumat (2/5/2025).
Sementara komoditas yang dominan mempengaruhi It adalah kelapa sawit, gabah, karet dan cabai rawit. Sedangkan, komoditas yang berkontribusi terhadap kenaikan Ib antara lain, tarif listrik, bawang merah, cabai merah, dan kelapa tua.
“Kemudian, jika kita lihat berdasarkan subsektornya, sub sektor yang mengalami penurunan NTP terdalam adalah tanaman perkebunan rakyat. Sedangkan, subsektor yang masih meningkat adalah holtikultura,” sambung Pudji.
Sebagai informasi, anjloknya NTP subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat disebabkan oleh turunnya It subsektor ini sebesar 3,13 persen, sementara Ib mengalami kenaikan 0,98 persen. Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan It adalah kelapa sawit, karet, kakao atau coklat biji, dan kopi.
Sebaliknya, NTP untuk subsektor hortikultura per April tercatat naik 2,72 persen menjadi 128,25, dari di bulan sebelumnya yang masih sebesar 124,86. Ini terjadi karena adanya kenaikan It pada subsektor hortikultura yang sebesar 3,45 persen, lebih tinggi dari kenaikan Ib yang hanya sebesar 0,71 persen.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan It pada subsektor hortikultura ini adalah bawang merah, cabai merah, tomat, dan petai,” tutupnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































