tirto.id - Di berbagai sudut mal, di etalase-etalase supermarket, juga di layar video promosi para pemengaruh, Anda bisa menemukan satu hal: produk detoks. Mulai dari teh, jus, sampai resep ramuan racikan sendiri, semuanya diklaim bisa membuat organ tubuh tertentu bersih dari racun yang selama ini Anda kumpulkan akibat gaya hidup serampangan. Rayuan pemasaran itu membuat Anda kemudian mengonsumsi semuanya, kemudian berpikir, "Ah, akhirnya aku bisa hidup sehat juga."
Detoks, dalam tren gaya hidup sehat modern, telah menjadi buzzword yang sakral. Berbagai jenama, pemengaruh, sampai kreator konten, biasa menggaungkan kata tersebut. Seakan-akan, tanpa mengonsumsi makanan dan minuman detoks yang mereka tawarkan, tubuh kita akan berhenti berfungsi seketika. Seakan-akan, racun yang menumpuk di dalam tubuh sudah menyerupai timbunan sampah di Bantar Gebang.
Apa yang disuarakan para pelaku industri detoks itu pun sukses besar. Per 2023 lalu, nilai industri detoks global mencapai 56,23 miliar dolar AS.
Artinya, produk-produk detoks yang ditawarkan memang laku keras. Selain itu, bisa dibilang, banyak orang tidak yakin dengan kemampuan tubuhnya, atau tidak tahu cara lebih efektif untuk mengoptimalkan fungsi detoks yang secara alami dimiliki oleh tubuh.
Asal Mula Budaya Detoks
Sebenarnya, anjuran untuk melakukan detoks tidak dimulai oleh para pemengaruh di Instagram. Jauh sebelum itu, ajaran Ayurveda dari India serta pengobatan tradisional Tiongkok juga sudah mengenal detoks untuk "menyeimbangkan energi dalam tubuh" dan "mengenyahkan hal-hal yang tidak murni".
Sementara itu, di Barat, tren detoks mulai marak pada dekade 1970-an, ketika gerakan untuk makan makanan sehat mulai jamak digencarkan. Pada akhirnya, tren ini pun berlangsung sampai sekarang dengan dukungan para selebritas, macam Elizabeth Hurley, Nicole Kidman, Zinedine Zidane, Tom Cruise, hingga Mick Jagger. Para pesohor itu tidak cuma mengonsumsi makanan dan minuman, tetapi juga menjalani terapi khusus detoks di spa-spa mewah di berbagai belahan dunia.
Namun, memang, tren detoks benar-benar sampai ke akar rumput berkat media sosial. Lewat Instagram dan TikTok, detoks menjadi tren. Buzzword tersebut dengan mudah mewujud tagar yang digunakan dan diklik oleh jutaan, bahkan puluhan juta manusia di seluruh dunia. Tentunya, tagar-tagar tersebut merupakan pelengkap bagi unggahan-unggahan yang menunjukkan betapa primanya kondisi tubuh para pemengaruh setelah melakukan detoks.

Detoks sebagai Proses Alamiah
Dalam konteks medis, detoksifikasi merujuk pada proses alami tubuh menyingkirkan kotoran dan zat-zat berbahaya lainnya. Proses tersebut terjadi setiap hari tanpa perlu bantuan green smoothie, cleanse juice, atau teh detoks.
Hati atau liver adalah pusat dari segala aktivitas detoksifikasi. Di sanalah racun-racun yang berasal dari obat-obatan, alkohol, sisa metabolisme, bahkan dari lingkungan sekitar, dibersihkan. Darah dibersihkan secara alami dan zat-zat berbahaya di dalamnya diubah menjadi substansi yang bisa disekresi.
Tak hanya liver, berbagai organ tubuh lainnya juga punya fungsi detoksifikasi. Ginjal bertugas menyingkirkan kotoran melalui urin. Paru-paru bekerja mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh. Kulit juga berperan dalam proses ini dengan melakukan sekresi toksin melalui keringat. Dan yang tak boleh dilupakan, ada sistem pencernaan yang mengeluarkan kotoran dalam wujud feses.
Singkat kata, detoks adalah proses natural yang dilakukan oleh tubuh manusia setiap hari. Detoks bukanlah tren media sosial, buzzword industri, atau komoditas yang dijual dengan iming-iming tak masuk akal. Seorang profesor dari University of Exeter, dr. Edzard Ernst, pernah mencak-mencak ketika berbicara soal tren detoks.
"Ada dua jenis detoks. Yang satu adalah jenis yang terhormat dan yang satu lagi tidak. Jenis detoks yang terhormat adalah pengobatan medis kepada orang-orang yang mengalami kecanduan obat terlarang sampai nyawanya terancam. Sementara itu, detoks satunya adalah sebuah kata yang dibajak oleh para penipu untuk menjual pengobatan omong kosong yang katanya bisa mendetoksifikasi tubuh dari toksin-toksin yang katanya ada dalam tubuh kita," terang dr. Ernst ketika diwawancarai oleh The Guardian pada 2014.
"Di dalam tubuh yang sehat ada ginjal, liver, kulit, bahkan paru-paru, yang melakukan detoksifikasi. Tidak ada sama sekali metode yang bisa dilakukan untuk membuat apa yang sudah bekerja dengan baik, bekerja lebih baik lagi," tambahnya.
Memang, ada orang-orang yang mengalami kegagalan organ seperti ginjal, paru-paru, dan liver. Akan tetapi, bila itu terjadi, tentu saja solusinya bukan dengan meminum smoothie dari daun kale, melainkan dengan pengobatan medis. Selama tubuh masih berfungsi dengan baik, sama sekali tidak ada urgensi untuk mengonsumsi produk-produk "detoks" yang biasanya berharga mahal itu.
Saking sebalnya dengan industri detoks, dr. Ernst pernah mengolok-olok Raja Charles (kala itu masih Pangeran Charles) dengan sebutan "tukang obat". Hal itu dikarenakan, Charles, pada 2011 silam, pernah mempromosikan sebuah metode detoks dengan bunga dandelion dan articok.
Mengapa Detoks Masih Populer?
Apabila dari sisi sains sudah jelas bahwa produk detoks apa pun tidak akan berpengaruh pada tubuh, mengapa industri detoks tumbuh demikian pesatnya?
Bisa dibilang, alasan orang masih percaya detoks adalah kombinasi dari beberapa faktor yang umumnya bersifat psikologis dan sosiologis.
Pertama, detoks membuat seseorang merasakan placebo effect yang membuatnya bersemangat menjalani gaya hidup sehat. Bisa saja, berawal dari detoks, dia akan jadi lebih rajin berolahraga, mengonsumsi lebih banyak air putih, dan makan makanan bergizi. Hal-hal yang mengikuti proses "detoks" itulah yang membuatnya jadi lebih sehat.

Kedua, adanya persepsi akan toksin. Sejak dulu manusia sudah terobsesi dengan proses pembersihan. Saat ini, dengan makin banyaknya zat-zat berbahaya yang beredar di lingkungan sekitar, seperti karbon dioksida, karbon monoksida, merkuri, dan berbagai polutan lainnya, menjadi wajar apabila manusia melakukan detoks untuk setidaknya memberi kontrol pada diri sendiri.
Ketiga, pengaruh iklan dan tekanan sosial. Setelah menyaksikan seseorang bertransformasi "berkat detoks" di sebuah iklan, bukan hal aneh apabila ada orang lain yang tergiur, kemudian mencoba metode yang sama. Dari situ, mereka akan mengajak sejawatnya untuk ikut serta. Ini sebenarnya fenomena sosial lumrah. Akan tetapi, jika aktivitas yang dijalani sebenarnya tidak bermanfaat dan hanya membuang-buang uang, masih layakkah aktivitas itu dipertahankan?
Cara Detoks yang Benar
Cara melakukan detoksifikasi yang benar sebenarnya merupakan cara untuk memastikan agar tubuh senantiasa sehat supaya fungsi-fungsi organ tetap terjaga.
Pertama, tentu saja, meminum air putih yang cukup untuk menjaga fungsi ginjal serta sistem pencernaan agar tetap optimal. Kedua, mengonsumsi makanan kaya fiber atau serat supaya pencernaan lancar dan kotoran-kotoran dalam tubuh bisa dikeluarkan secara rutin. Ketiga, tidur yang cukup dan teratur agar tubuh dapat melakukan regenerasi sel-sel yang rusak atau mati secara optimal. Keempat, rutin berolahraga. Sebab, bergerak secara rutin akan membuat sistem pernapasan, sirkulasi darah, dan pencernaan menjadi lebih sehat. Keringat yang dikeluarkan saat olahraga juga termasuk dalam proses detoksifikasi.
Untuk memperlancar detoksifikasi alami tubuh, hal yang tak kalah penting mesti dilakukan adalah membatasi konsumsi alkohol serta makanan yang diproses. Konsumsi alkohol dan processed foods secara berlebihan akan mengurangi kemampuan liver dan ginjal dalam memproses racun.
Cara-cara "detoks" tersebut sama sekali tidak revolusioner, juga tidak membutuhkan biaya besar.
"Banyak orang berpikir bahwa kita perlu membatasi atau memperbanyak konsumsi makanan tertentu. Namun, yang benar bukan seperti ini. Cara 'detoks' paling efektif adalah dengan tidak merokok, rajin berolahraga, dan mengonsumsi menu makanan dengan gizi seimbang seperti diet Mediterania," tutur ahli gizi National Health Service, Catherine Collins, dikutip dari The Guardian.
Detoks bukanlah sesuatu yang bisa dibeli. Detoks adalah sesuatu yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan tubuh. Selama tubuh sehat, detoks akan terjadi dengan sendirinya tanpa suplemen apa pun, tanpa smoothie apa pun, dan tanpa biaya sepeser pun.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































