Gundala Versi Joko Anwar & Beda Kisah Sancaka di Komik dan Film

Oleh: Yulaika Ramadhani - 29 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
"Film dan komik saling melengkapi. Kalau baca Gundala asli, dia kan ilmuwan dan insinyur. Tapi kalau di sini, kan security," kata Joko Anwar
tirto.id - Film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot yang disutradarai Joko Anwar mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia hari ini, Kamis 29 Agustus 2019.

Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot merupakan film adaptasi komik Gundala Putra Petir karangan Harya Suraminata. Berdasarkan versi komiknya, sosok di balik Gundala adalah seorang peneliti jenius pencari serum anti-petir yang bernama Sancaka. Beda Gundala versi film dengan koik adalah bagian profesi Sancaka tersebut.

Dalam keadaan koma karena sambaran petir, Sancaka ditarik oleh suatu kekuatan dari planet lain dan diangkat anak oleh Penguasa Kerajaan Petir, Kaisar Kronz, sekaligus diberkahi dengan kekuatan super yaitu bisa memancarkan gledek dari telapak tangannya.

Kekuatan baru Sancaka (diperankan Abimana Aryasatya) inilah awal mula ia menjadi superhero dalam film terbaru Joko Anwar ini. Sejak saat itu, Sancaka tampil sebagai jagoan yang menumpas kejahatan di banyak tempat dengan kostum hitam ketat dan cawat merah.

Cerita superhero Gundala besutan Joko Anwar itu merupakan penggabungan cerita komik asli karya Hasmi dengan kisah baru yang ditulisnya sendiri.

"Kebetulan, kami tidak mendasarkan film dari 1981. Saya nonton filmnya dan suka. Tapi kalau kami bikin superhero dari origin-nya, kami menggabungkan dari komik dan catatan dari Pak Hasmi," ujar Joko Anwar dalam premier Gundala di Jakarta, Rabu (28/8/2019), sebagaimana diwartakan Antara.

Perbedaan Gundala film dengan versi komiknya, menurut Joko Anwar adalah profesi tokoh Sancaka. Joko menjelaskan tokoh Sancaka sebagai sosok di balik pahlawan Gundala bukan merupakan anak angkat yang disekolahkan sampai menjadi ilmuwan, sebagaimana cerita dalam komik.

"Film dan komik saling melengkapi. Kalau baca Gundala asli, dia kan ilmuwan dan insinyur. Tapi kalau di sini, kan security. Jadi, ini tribute dari komiknya," katanya.


Terkait peran superheronya, Abimana Aryasatya mengaku kehadiran stuntman/body double atau pemain peran pengganti sangat membantunya dalam memerankan tokoh Sancaka dalam film Gundala.

"Tiap tiga hingga empat jam gantian sama double. Kelihatan lho, kalau itu lu apa bukan. Jangan dikasih tahu yang mana gue, tapi sih tahu yang mana," ujar Abimana.

Kostum Gundala berwarna hitam, ketat, dengan celana pendek merah. Wajahnya tertutup topeng, hanya tampak mata dan mulut, dengan sisi topeng terdapat hiasan seperti sayap burung. Meskipun banyak adegan menantang yang dilakukannya selama proses syuting, Abimana mengaku sangat nyaman khususnya saat menggunakan kostum Gundala.

"Kostumnya nyaman banget. Saat adegan yang enggak pakai kostum lumayan juga sih. Tapi, enggak luka serius, enggak ada luka serius. Kalau sampai luka, berarti produksi gagal dong karena memang harus safety. Dijaga banget kok safety-nya," ceritanya.

Selama proses syuting, Abimana mengatakan tidak menghadapi kendala saat memerankan tokoh Sancaka yang dapat berubah wujud menjadi Gundala. Hanya saja karena film Gundala tidak menggunakan layar hijau (green screen) dan pengambilan gambar benar-benar dilakukan secara langsung, Abimana sempat mengalami dehidrasi.

"Menyenangkan semua syutingnya. Paling ya, kalau pakai kostum agak panas. Terus udah gitu, lokasinya enggak di tempat ber-AC. Kita di pabrik-pabrik gitu. Terus kalau di tempat terbuka, ya benar-benar di tempat terbuka. Kebanyakan panas sama dehidrasi, keringetan ngocor terus," tutur Abimana.


Sementara itu, Joko Anwar sendiri mengatakan, filmnya tidak menggunakan teknologi kunci kroma (chroma key) untuk memanipulasi tempat kejadian sehingga proses syuting harus berpindah hingga 70 lokasi.

Kunci kroma merupakan teknik penggabungan dua gambar, foto ataupun video, dengan salah satu warna dalam obyek dihilangkan. Teknik itu masih memungkinkan gambar di sisi belakang tetap terlihat. Kunci kroma disebut juga layar hijau (green screen).

Selain membutuhkan berbagai lokasi, Joko juga melibatkan hingga 1.800 pemain dalam film yang diproduksi mulai September 2017 hingga 2018 itu. Joko Anwar mengatakan Gundala punya cerita berbeda dengan versi layar lebar pada 1981.

Selain Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Sancaka, film itu juga dibintangi oleh Tara Basro, Marissa Anita, Rio Dewanto, Muzakki Ramdan, Bront Palarae, Ario Bayu, Kelly Tandiono, dan Lukman Sardi.

Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot juga bakal tayang di Toronto International Film Festival (TIFF) tahun 2019. TIFF merupakan salah satu festival film terbesar dan terkenal ketat dalam seleksi film yang tayang.

Gundala merupakan karya sutradara Joko Anwar. Film berdurasi 123 menit ini berada dalam naungan studio produksi Bumilangit dan Screenplay.


Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Film)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight