Geliat Bisnis Pesan Antar Makanan di Tengah Sebaran Virus Corona

Ilustrasi Go-Food. FOTO/go-jek.com
Oleh: Dea Chadiza Syafina - 16 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Saat novel coronavirus dan wabah COVID-19 merebak di Cina, bisnis layanan pesan-antar daring seolah menjadi penyelamat.
Kendati usianya masih seumur jagung, aplikasi pesan antar makanan besutan Gojek di Thailand, GET-FOOD, berhasil mengukuhkan posisi sebagai salah satu layanan pesan-antar makanan dengan jumlah transaksi terbesar di negara itu. Bayangkan saja, jumlah transaksi mereka dalam kurun waktu delapan bulan saja mampu mencapai 10 juta transaksi.

CEO GET Pinya Nittayakasetwat mengaku capaian tersebut merupakan perjalanan yang luar biasa bagi GET di Thailand. "Kami memiliki peluang luar biasa untuk pertumbuhan ke depan,” tulis Pinya dalam keterangan tertulis yang diterima Tirto.

Group Head Gojek Andrew Lee mengungkapkan, GET telah memainkan peran penting dalam memacu pertumbuhan eksponensial bisnis pesan-antar makanan Gojek di Asia Tenggara. Bahkan sekarang, GET menjadi layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi terbesar di kawasan Asia Tenggara berdasarkan volume pesanan.

"Ada potensi besar untuk pertumbuhan yang jauh lebih tinggi di industri ini," ungkap Andrew masih melansir keterangan tertulis yang sama. Mengutip data Statista periode Januari 2020, Gojek mengatakan bahwa industri pesan-antar makanan daring di Thailand diperkirakan tumbuh 31 persen mencapai $413 juta di 2024 mendatang.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data perseroan, sejak hadir sebagai layanan pesan-antar makanan pertama di Asia Tenggara pada 2015, jumlah pemesanan makanan atau completed orders GoFood meningkat sebanyak 30 kali lipat. Rata-rata jumlah pesanan mencapai 50 juta per bulan di akhir 2019 dengan ragam pilihan makanan sampai dengan 16 juta item menu kepada pelanggan.


Perkembangan Pesat

Apa yang disampaikan Gojek dan GET sepertinya tidak berlebihan. Industri pengiriman makanan selama 5-7 tahun terakhir memang tumbuh dengan pesat di seluruh dunia. Statista memperkirakan pendapatan di segmen layanan pesan-antar makanan daring mencapai $122,74 miliar secara global tahun ini.

Tingkat pertumbuhan pendapatan industri pesan-antar makanan secara tahunan diperkirakan sebesar 7,5 persen. Volume pasar di industri ini pun diprediksi mencapai $164 miliar pada 2024 mendatang. Masih dari Statista, segmen pasar terbesar adalah pengiriman platform daring kepada konsumen dengan volume pasar diperkirakan mencapai $62,8 miliar di 2020 ini.

Berdasarkan wilayah, Amerika Utara menjadi rumah bagi lebih dari 10 perusahaan pengiriman makanan daring, dengan Grubhub memimpin sebagai jawara menurut hitungan Sarwant Singh senior partner Frost & Sullivan dilansir Forbes. Perusahaan tersebut menyumbang lebih dari sepertiga dari total pangsa pasar layanan pesan-antar makanan.

Eropa juga memiliki lebih dari 10 perusahaan pengiriman makanan, dengan perusahaan Just Eat asal Belanda melayani delapan negara di wilayah tersebut. Pangsa pasar Just Eat mencapai lebih dari 83 persen dari total pangsa pasar layanan pengiriman makanan di Inggris.

Wilayah Asia-Pasifik menjadi jawara dalam hal jumlah pesanan dan pengiriman makanan di dunia. Pangsa pasarnya setara 55 persen dari pangsa pasar pengiriman makanan daring secara global. Cina menjadi menjadi negara dengan angka penetrasi pasar bisnis pesan-antar makanan terbesar di dunia dengan angka mencapai $45,91 miliar.

Masih menurut Singh, pendapatan industri pengiriman makanan daring di Cina sepanjang 2018 mencapai lebih dari $34 miliar. Dua pemain besar industri pesan-antar makanan di Cina adalah Ele.me atau ELEME Inc yang merupakan anak usaha Alibaba Group dan juga Meituan Dianping. Angka pengiriman yang dilakoni Meituan Dianping mencapai 10 miliar sepanjang 2018.


Serbuan Wabah novel coronavirus

Di Cina, layanan pesan-antar makanan memainkan peranan penting dalam membantu masyarakat mengatasi krisis pangan saat wabah novel coronavirus tengah melanda. Dalam rangka memitigasi sebaran virus corona, para pengusaha industri layanan makanan mengembangkan metode baru untuk mengirimkan makanan kepada masyarakat berupa layanan pengiriman makanan tanpa harus berinteraksi dengan kurir pengantar (contacless delivery).

Mengutip South Cina Morning Post (SCMP), Meituan Dianping pada 26 Januari 2020 memulai layanan ini di kota Wuhan yang menjadi pusat penyebaran wabah virus corona. Dalam kurun waktu satu minggu setelahnya, Meituan memperluas layanan tersebut hingga mencapai seluruh daratan Cina.

Langkah itu kemudian diikuti oleh para penyedia jasa pengiriman makanan lainnya seperti Ele.me maupun restoran waralaba asing seperti KFC, McDonald dan Pizza Hut. Layanan pesan-antar makanan siap saji tanpa kontak selanjutnya meluas hingga memberikan layanan pengiriman bahan makanan bagi masyarakat yang terisolir lantaran sebaran wabah virus corona.

Dalam pelaksanaan layanan pesan-antar tanpa kontak, kurir akan mengantar pesanan di lokasi yang telah ditentukan sebelumnya oleh pembeli. Selanjutnya, kurir akan memberitahukan kepada pelanggan untuk mengambil pesanan tersebut. Ini dilakukan untuk menghindari kontak secara langsung yang dapat menambah penyebaran virus corona dan jumlah korban penderita.



Tak hanya itu, pada setiap pesanan pengiriman tanpa kontak oleh Meituan pelanggan menerima kartu fisik yang menyatakan suhu tubuh semua orang yang terlibat dalam proses memasak dan pengiriman. Konsumen juga menerima keterangan apakah kurir telah mendesinfeksi peralatan mereka hari itu.

Dengan jumlah 700 ribu kurir yang aktif setiap hari ditambah 5,9 juta pengecer mitra termasuk waralaba seperti McDonald dan Pizza Hut, layanan pesan-antar makanan Meituan menjadi penolong utama bagi masyarakat.

“Para kurir pengantar [makanan] telah menjadi pahlawan di Cina bersama dengan para profesional medis. Mereka telah membuat [masyarakat] Cina tenang lebih dari siapa pun bahkan pemerintah karena mereka menunjukkan kepada khalayak bahwa mereka dapat membeli makanan dengan harga wajar," ucap Shaun Rein, Direktur Pelaksana Riset Pasar Cina, dikutip dari Financial Times.

Berdasarkan data pemerintah Cina, biaya makanan telah melonjak lebih dari 20 persen di Cina sejak wabah COVID-19 menyebar. Kenaikan terutama terjadi pada harga daging babi, mengingat warga Cina merupakan konsumen daging babi terbesar di dunia.

Bagi Meituan Dianping, manuver bisnis ini berdampak positif. Pengiriman bahan makanan mereka melonjak hingga empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.


Baca juga artikel terkait BISNIS atau tulisan menarik lainnya Dea Chadiza Syafina
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Dea Chadiza Syafina
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight