Menyelami Bisnis Warung Makan yang Masuk Daftar Pesan Antar Go-Food

infografik mari makan
Ilustrasi Go-Food. FOTO/go-jek.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 8 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Lokasi resto atau warung pesan antar makanan secara online sudah semakin menjamur terutama di perkotaan. Apa yang terjadi saat bisnis mereka terkoneksi secara online?

tirto.id - Dedi, 43 tahun, pemilik warung “Mie Ayam Engko A Hin” keheranan, tiba-tiba lapak dagangannya masuk ke aplikasi Go-Food dengan nama "Mie Ayam Engko". Ia heran karena tak melakukan pendaftaran apapun soal gerobak mie ayamnya.

“Saya tahunya dari customer,” tutur Dedi kepada Tirto.

Keganjilan lain yang ia rasakan soal lokasi alamat lapak gerobak mie ayamnya yang keliru. Alamat yang tampil di aplikasi Go-Food tertulis “Jalan Pertanian 3 No 88” di Pasar Minggu Jakarta Selatan. Padahal itu alamat pemilik rumah tempat lokasinya berjualan, bukan lokasi warungnya.


Ia termasuk beruntung, karena tak usah pusing-pusing mempromosikan menu makanan jualannya lewat aplikasi pesan antar online seperti Go-Food atau sejenisnya. Pengalaman berbeda dirasakan oleh Bude, wanita paruh baya pemilik warung “Bude Margonda” sebuah warung nasi yang berlokasi di Jalan Margonda Raya, Depok, juga sudah masuk dalam aplikasi Go-Food dengan nama "Warung Bude, Margonda".

Namun, Bude harus mendaftar langsung secara online untuk bisa bergabung di aplikasi. Ia tak butuh waktu lama, pihak Go-Jek langsung meloloskan lapak warung nasinya dalam aplikasi. Berdasarkan pengakuannya, pihak manajemen Go-Jek yang melakukan survei pada di warung makan ala Yogya ini.

Layanan pesan antar makanan secara online beberapa tahun terakhir. Perusahaan ride sharing seperti Go-Food, GrabFood, UberEats, dan lainnya menyediakan layanan sejenis bagi siapa saja yang ingin bergabung.

Warung makan atau Restoran yang hendak bergabung dengan aplikasi layanan pesan antar bisa melakukan pendaftaran via online. Semuanya, dilakukan oleh si empunya restoran. Pada Go-Food atau Go-Resto misalnya, pemilik restoran perlu menyiapkan scan kartu identitas, buku tabungan, dan NPWP. Layanan ini memungkinkan kasir dapat mengaktifkan atau menonaktifkan pilihan menu, mengubah jam buka restoran di GO-Food, menerima pembayaran dengan Go-Pay.


Kurang lebih tak jauh berbeda dengan GrabFood, pendaftar harus mencantumkan nama restoran, nama pendaftar, lokasi, alamat, nomor telepon, dan email. Pada Uber Eats, calon pendaftar harus dahulu mengisi formulir minat, dengan memasukan nama dan detail restoran Anda, jumlah lokasi, dan perkiraan jumlah pesanan bawa-pulang per minggu.

"Jika operasi Anda tampaknya cocok dengan aplikasi kami, kami mungkin menghubungi Anda untuk mengatur kemitraan." demikian penjelasan Uber Eats dalam laman resminya.

Namun, Uber Eats menegaskan tidak dapat bermitra dengan setiap restoran yang mengajukan permohonan. "Jadi, jika kami menganggap restoran Anda benar-benar cocok, kami akan menghubungi untuk memberi tahu Anda." demikian penjelasan tambahan Uber Eats.

Pilihan bergabung dalam aplikasi pesan antar makanan secara online secara cuma-cuma tentu menguntungkan bagi pemilik warung atau resto. Ini pun dirasakan oleh Bude pemilik "Warung Bude, Margonda"

Selepas bergabung dengan aplikasi pesan antar makanan secara online, Bude mengaku keuntungan yang diraihnya meningkat. Ini karena omzet dari pemesanan aplikasi saja bisa menyumbang pendapatan Rp7 juta per bulan. Jumlah ini belum termasuk omzet dari pemesanan dengan cara konvensional.

Pada bulan pertama, transaksi antar pembeli via Go-Food dengannya masih dilakukan secara tunai. Namun, melihat perkembangan transaksi yang meningkat, kini driver Go-Food tak perlu mengeluarkan uang tunai lagi. Semuanya dilakukan secara otomatis dengan Go-Pay. Bude mengaku menerima transferan uang tiap pukul 12 malam setiap hari.

Cerita berbeda dirasakan oleh Dedi pemilik “Mie Ayam Engko A Hin” mengatakan bahwa tak ada pengaruh berarti saat lapaknya masuk aplikasi pesan antar makanan secara online. Ia mengaku omzetnya biasa-biasa saja tak ada perubahan signifikan.

Bude dan Dedi hanya potret kecil dari geliat bisnis pesan antar makanan secara online yang berkembang di Indonesia beberapa tahun terakhir. Perkembangan di dalam negeri juga sejalan apa yang terjadi di dunia.


Transformasi Pesan Antar Makanan

McKinsey & Company menyebut bahwa pasar pesan antar makanan berada di angka €83 miliar di seluruh dunia. Meskipun terlihat besar, angka tersebut hanya 1 persen dari keseluruhan pasar makanan di dunia. Namun, dalam beberapa tahun mendatang angkanya diperkirakan akan semakin meningkat.

Dalam laporan Fortune, Panera Bread, gerai restoran yang beroperasi di Amerika Serikat dan Kanada, telah menambah 10 ribu pekerja yang khusus disiapkan untuk layanan antar makanan pada 2017. Langkah itu menurut mereka akan menambah sekitar 10 persen pendapatan di tiap gerai.

Layanan pesan antara makanan, secara konvensional, disediakan oleh pihak restoran, dengan memanfaatkan sambungan pesawat telepon atau website restoran. Namun, layanan pesan antar makanan kian berkembang. Aplikasi berbasis smartphone seperti Go-Food, GrabFood, UberEats jadi contoh nyata dalam konteks Indonesia.

Patrick Doyle, Chief Executive Officer Domino, pada Fortune, menyatakan bahwa “teknologi jelas merupakan bagian besar dari apa yang telah mendorong bisnis selama lima tahun terakhir ini.”



Aplikasi berbasis smartphone tentang layanan pesan antar makanan, dalam laporan McKinsey & Company, disediakan dalam dua layanan sebagai aggregators dan new delivery. Kedua tipe ini memungkinkan konsumen untuk membandingkan menu, memilih, memberikan ulasan, dan memesan makanan pada restoran.

Namun, jika tipe aggregators hanya sampai pada tahap pemesanan dan pengantaran dilakukan oleh restoran, tipe new delivery memungkinkan restoran yang tak memiliki jasa pengantaran, dibantu oleh sebuah aplikasi seperti Go-Food, GrabFood, UberEats atau lainnya. Secara sederhana, restoran hanya perlu fokus soal urusan makanan yang dijualnya. Segala proses order dan pengantaran, disediakan oleh tipe aggregators.

Salah satu pemain besar di bidang aplikasi pengantar makanan ialah Delivery Hero. Perusahaan yang berasal dari Jerman dan didirikan oleh Claude Ritter, David Bailey, dan kawan-kawannya itu pada 2011, mengklaim telah bekerjasama dengan 150 ribu restoran di dunia. Pada 2016, mereka memproses lebih dari 170 juta order.

Keperkasaan Delivery Hero, tak berhenti sampai di situ. Mereka paling tidak mengakuisisi dua startup di bidang yang sama. Foodora pada 2015 dan Foodpanda pada 2016. Foodora mengklaim telah beroperasi di 60 kota di 10 negara.

Selain itu, ada lebih dari 9 ribu restoran yang telah bekerjasama dengan mereka. Sementara Foodpanda, yang dibeli senilai $500 juta itu, telah beroperasi di 190 kota di 12 negara. Ada 27 ribu restoran yang telah bekerjasama dengan mereka.


Hingga pertengahan 2017, Delivery Hero mengklaim memperoleh pendapatan €246,5 juta. Selain Delivery Hero, layanan pesan antar makanan berbasis aplikasi juga disediakan oleh startup yang awalnya fokus pada transportasi online. Uber, Grab, dan Go-Jek.

Pada 2014, Uber memperkenalkan UberEats, layanan pesan antar makanan. Setelah hampir 3 tahun beroperasi, tepatnya pada April 2017, layanan itu mengklaim telah beroperasi di 71 kota pada 24 negara. UberEats juga telah bekerjasama dengan 46,1 ribu restoran.

Go-Jek memperkenalkan Go-Food pada 1 April 2015. Pada Maret 2017, layanan itu mengklaim telah “menerima pengiriman makanan melebihi jumlah pesanan yang diterima seluruh startup makanan di Indonesia.” tercatat, ada 100 ribu partner yang telah bekerjasama dengan Go-Food.

Baca juga artikel terkait E-COMMERCE atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight