Menuju konten utama

Gedung DPRD Kota Tegal, Warisan Budaya Jadi Korban Vandalisme

Vandalisme pada gedung bersejarah mencerminkan krisis lebih dalam: generasi muda kehilangan koneksi dengan sejarahnya.

Gedung DPRD Kota Tegal, Warisan Budaya Jadi Korban Vandalisme
Gedung DPRD Kota Tegal setelah aksi demonstrasi. FOTO/Tegal Terkini

tirto.id - Pada Jumat (29/8/2025) malam, ribuan orang memadati jalanan di depan Gedung DPRD Kota Tegal. Mereka menyalakan lilin, membaca doa, dan menyuarakan solidaritas atas wafatnya seorang pengemudi ojek daring (ojol) bernama Affan Kurniawan yang tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di Jakarta pada Kamis (28/8/2025) malam.

Aksi solidaritas itu semula berlangsing damai. Namun, ia berubah panas selepas pukul 21.00 WIB malam. Teriakan dan tangis beriring dengan lemparan botol, batu, hingga bom molotov.

Tak terhindarkan, Gedung DPRD Kota Tegal jadi sasaran vandalisme dalam kerusuhan tersebut. Gedung tinggalan era kolonial yang berdiri di tengah kota itu porak-poranda, penuh coretan dan pecahan kaca.

Banyak warga Tegal yang awam dan belum menyadari bahwa Gedung DPRD Kota Tegal yang tempo hari menjadi sasaran vandalisme massa bukan sekedar bangunan tua. Ia adalah bangunan bersejerah yang merupakan bekas residenthuis alias rumah dinas Residen Tegal yang dibangun pada awal abad ke-18.

Gedung Bersejarah

Menurut sejarawan dari Komunitas Tegal History, Bijak Cendekia, bangunan Residenthuis Tegal itu dirancang oleh Mathijs de Willem Mans dan dibangun pada rentang 1720–1763. Ia sempat ditempati oleh Residen Tjijdeman pada pertengahan 1800-an.

"Bangunan ini dulu berdiri tak jauh dari Fort Tegal, benteng pertahanan Belanda yang dibangun pada 1706 dengan nama Pagger van Tagal. Dari sini, VOC mengendalikan pelabuhan, mengatur jalannya perdagangan gula, kopi, dan hasil bumi lain. Setelah sistem pemerintahan kolonial berubah, jabatan Residen dihapus dan bangunan ini beralih fungsi. Kini, ia masih tegak, meski berulang kali hampir terbakar dan rusak dimakan waktu," kata Bijak, Minggu (31/8/2025).

Menurut Bijak, Gedung DPRD Kota Tegal menyimpan kisah tentang bagaimana Tegal pernah menjadi simpul penting dalam jaringan pemerintahan kolonial.

"Ia saksi bagaimana rakyat pernah dipaksa bekerja, juga saksi bagaimana perlawanan lokal tumbuh. Maka, saat malam itu coretan vandalisme menodai dindingnya, sebagian warga merasa bukan hanya bangunan yang disakiti, tapi juga memori kolektif kota," tambahnya.

Dari sisi sejarah, Bijak mengatakan bahwa vandalisme pada bangunan bersejarah seperti Gedung DPRD Kota Tegal bukan sekadar menorehkan kerusakan fisik.

“Itu luka simbolik karena bangunan ini bukan sekadar tembok tua. Ia adalah arsip yang hidup. Setiap goresan, setiap atap yang miring, menyimpan jejak perjalanan kota,” katanya.

Bijak mengatakan bahwa vandalisme yang menimpa Gedung DPRD Kota Tegal adalah ironi.

"Dulu orang Tegal melawan kolonialisme dengan darah. Sekarang, kita melukai warisan sejarah kita sendiri. Padahal, kalau dipelihara, bangunan ini bisa jadi ruang belajar, bahkan ruang perlawanan baru yang lebih bermartabat perlawanan atas lupa.”

Gedung lama DPRD Kota Tegal

Bangunan/Gedung lama DPRD Kota Tegal. FOTO/Istimewa

Luapan Kemarahan pada Penguasa

Aksi solidaritas untuk Affan Kurniawan berlangsung sejak Jumat sore. Suasana awalnya sangat khidmat. Para peserta aksi menyalakan lilin sembari memanjatkan doa. Namun, sekitar pukul 21.00 WIB tensi tiba-tiba meninggi.

Polisi mulai menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Massa pun menjadi tak terkendali. Tanpa diketahui muasalnya, api dilemparkan ke arah Gedung DPRD Kota Tegal dan sempat membesar.

Seorang warga Tegal, M. Wibowo, yang menonton kejadian itu dari jauh hanya bisa menggeleng.

Menurutnya, demonstrasi ini didominasi anak muda dan bahkan anak di bawah umur.

"Jelas kelihatan yang demo itu kebanyakan anak muda dan parahnya dilakukan malam hari. Kalau tujuannya ingin menyampaikan aspirasi, mestinya pagi atau siang, saat anggota dewan ada di kantor. Kalau malam seperti ini, jadinya cuma cari momen, ugal-ugalan, ngerusak karena merasa punya massa banyak,” tutur Wibowo.

Seorang demonstran yang ikut turun malam itu, Naufal (21 tahun), punya pandangan berbeda.

Dia merasa marah karena kematian Affan Kurniawan. Dia beralasan bahwa massa mencoret dinding-dinding Gedung DPRD Kota Tegal untuk memperlantang kekecewaan masyarakat. Menurutnya, para pejabat tidak akan mau mendengar suara rakyat jika mereka tidak berdemonstrasi.

"Kami capek ditindas. Coret-coretan itu ekspresi, biar orang tahu kami kecewa,” ujar Naufal.

Ketika ditanya apakah dia tahu bangunan yang dirusak oleh massa adalah peninggalan kolonial, Naufal terdiam sejenak. Dia lantas menjawab tidak mengetahui hal itu sebelumnya.

"Saya enggak tahu soal itu. Yang kami tahu cuma pemerintah harus dengar suara rakyat. Kalau enggak, ya kami bikin gaduh,” katanya.

Terlepas dari hal itu, aksi solidaritas berujung ricuh pada Jumat (29/8/2025) bukan yang pertama kali di Kota Tegal. Seperti halnya di ibu kota, benturan massa dan aparat pun sudah berkali-kali terjadi di Tegal. Titik pemicunya pun beragam, dari mulai isu kenaikan harga kebutuhan, korupsi pemerintah lokal, hingga solidaritas buruh.

Polanya pun serupa: massa berkumpul, orasi mengeras, lalu situasi lepas kendali di malam hari.

Bedanya, luka yang tertoreh kali ini tidak hanya dirasakan oleh aparat dan massa, tapi juga bangunan tua yang membawa memori kolektif kota. Kerusakan bisa diperbaiki, tapi makna yang tergerus lebih sulit dipulihkan.

Momen Reflektif

Pernyataan Naufal menunjukkan bahwa banyak anak muda yang turun ke jalan dengan semangat tinggi, tetapi minim pengetahuan sejarah.

Pengamat sosial asal Tegal, Adam, menilai peristiwa aksi solidaritas yang berakhir rusuh tersebut bukan sekadar letupan spontan. Ada akumulasi ketidakpercayaan publik terhadap institusi negara.

“Ketika orang merasa jalur formal tertutup, demo jadi pilihan. Tapi, tanpa kesadaran sejarah, demo bisa kehilangan arah, lalu berubah jadi destruksi,” kata Adam.

Menurut Adam, aksi vandalisme terhadap gedung bersejarah pun mencerminkan krisis yang lebih dalam. Itu menunjukkan bahwa generasi muda mulai kehilangan koneksi dengan masa lalu sehingga tidak merasakan kehilangan ketika tengara sejarah rusak.

“Generasi muda tidak merasa memiliki bangunan tua. Mereka melihatnya cuma dinding kosong, bukan bagian dari identitas. Maka wajar kalau gampang dirusak.” tambahnya.

Lebih lanjut, Adam menyarankan agar pemerintah daerah dan komunitas lokal lebih aktif mengedukasi publik tentang sejarah kota.

"Demo itu sah, vandalisme tidak. Jika masyarakat paham makna bangunan tua, mereka mungkin akan memilih cara lain untuk melawan.” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN POLISI TANGANI DEMO atau tulisan lainnya dari Tegalterkini.id

tirto.id - News Plus
Kontributor: Tegalterkini.id
Penulis: Tegalterkini.id
Editor: Fadrik Aziz Firdausi