Menuju konten utama

Festival Rumah Kaca Dorong Kesadaran Krisis Iklim Pada Anak Muda

Kegiatan ini melibatkan berbagai kolaborator dari komunitas pemerhati lingkungan, iklim, dan transportasi publik berkelanjutan.

Festival Rumah Kaca Dorong Kesadaran Krisis Iklim Pada Anak Muda
Festival Rumah Kaca. Foto/ Tirto Creative Lab
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Komunitas Kawula 17 menyelenggarakan Festival Rumah Kaca yang berlangsung di M Bloc Live House, Jakarta, pada Sabtu (13/12). Festival Rumah Kaca digelar sebagai ruang edukasi sekaligus refleksi bagi anak muda untuk memahami krisis iklim dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Kawula 17 merupakan komunitas yang bergerak pada empat isu utama, yakni gender, lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan anti-korupsi. Dalam praktiknya, Kawula menyesuaikan fokus gerakan dengan isu-isu yang dinilai paling mendesak. Pada periode ini, persoalan lingkungan menjadi perhatian utama, seiring meningkatnya frekuensi bencana banjir dan menguatnya dampak krisis iklim, khususnya di wilayah Sumatra.

Festival Rumah Kaca lahir dari inisiatif kampanye peduli lingkungan yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik terhadap krisis iklim sekaligus mendorong upaya penurunan emisi. Kegiatan ini melibatkan berbagai kolaborator dari komunitas pemerhati lingkungan, iklim, dan transportasi publik berkelanjutan. Sejumlah diskusi publik digelar dengan tema-tema relevan, seperti “Eco Anxiety”, “Krisis Pasca Conference of The Parties”, “Climate and Investment”, hingga “Green Jobs”.

Dalam salah satu sesi diskusi, Yuris Wutun dari Global Young Influencer Group, PLAN Indonesia, menegaskan bahwa tanggung jawab utama dalam penanganan krisis iklim berada di tangan pemerintah, mengingat masyarakat telah berkontribusi melalui pajak. Meski demikian, ia menilai masyarakat tetap memiliki peran moral untuk terlibat, mulai dari memberikan dukungan, melakukan kampanye kritis terhadap kebijakan, hingga meningkatkan kesadaran lingkungan di lingkup masing-masing.

Pandangan serupa disampaikan Aulia Amanda Santoso dari Mindworks Lab. Ia menekankan pentingnya mendorong masyarakat agar memahami agensi atau peran dirinya sebagai warga yang terdampak langsung oleh krisis lingkungan. Kesadaran tersebut, menurutnya, menjadi fondasi bagi masyarakat untuk menuntut keadilan sekaligus mendorong perubahan kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan.

Sementara itu, Novita Indri dari Komunitas Trend Asia menyoroti bahwa bencana lingkungan di Sumatra tidak dapat dilepaskan dari akumulasi kebijakan politik dan praktik ekonomi yang tidak berkelanjutan. Ia menilai banyak kebijakan masih lebih berpihak pada kepentingan pemilik modal, sementara aspek keselamatan masyarakat, daya dukung lingkungan, serta tatanan sosial kerap terabaikan dalam proses pengambilan keputusan.

Selain diskusi, Festival Rumah Kaca juga menghadirkan partisipasi berbagai komunitas peduli lingkungan, iklim, dan transportasi publik, seperti Climate Rangers Jakarta, Trend Asia, Lapor Iklim, serta Institute for Transportation and Development Policy. Setiap komunitas membuka stan presentasi yang dikemas secara kreatif dan interaktif, mengajak pengunjung untuk terlibat langsung dalam isu-isu lingkungan.

Beragam aktivitas turut dihadirkan untuk memperluas wawasan sekaligus memperkuat jejaring anak muda. Melalui sesi Diskusi Tanggap Krisis, pengunjung diajak membedah komitmen iklim Indonesia pasca-COP30. Selain itu, pengunjung dapat berinteraksi dengan organisasi dan komunitas yang telah dikurasi berdasarkan tingkat aktivisme, membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Festival Rumah Kaca diharapkan dapat memperkuat kapasitas anak muda agar tidak hanya memahami urgensi krisis iklim, tetapi juga berperan aktif dalam mengawal kebijakan iklim pemerintah secara berkelanjutan.

Baca juga artikel terkait EVENT atau tulisan lainnya dari Tirto Creative Lab

tirto.id - Sosial Budaya
Penulis: Tirto Creative Lab
Editor: Tirto Creative Lab