tirto.id - Jarak rumahnya yang tak lebih dari 2 km dari mal bikin Zee mudah untuk melanglang ke pusat perbelanjaan itu. Bukan untuk memborong barang-barang, melainkan hanya berjalan-jalan dan membandingkan harga antara produk di toko dan loka pasar. Bila harga di loka pasar justru lebih murah, Zee bakal lebih memilih check out di platform itu.
Sebulan sekali setiap barang kebutuhannya habis, Zee akan pergi ke suatu mal di Jember sendirian untuk mengecek harga. Dari mulai produk perawatan sampai deterjen pun akan dia cari mana yang paling cocok di kantong.
“Itu aku bener-bener bandingin. Belinya di Hypermart atau enggak, Watson, Guardian, gitu. Karena, Watson sama Guardian yang di Lazada, itu jauh banget. Apalagi akunnya wangi ya. Kalau Wangi tuh, bisa setengah harga atau 60 persen dari harga aslinya,” cerita Zee kepada Tirto, Kamis (31/7/2025).
Perempuan berusia 30 tahun itu selalu membuat daftar barang yang akan dibelinya untuk menghindari kalap belanja di mal. Dengan mengantongi daftar, dia merasa bisa tetap berpegang pada prioritas.
“Kalau emang mau ke mal buat makan, ya makan. Kalau mau beli-beli, ya udah beli. Kalau misal enggak ada [produk yang ingin dibeli], ya udah. Atau harganya kemahalan, ya udah jadi langsung pulang,” lanjut Zee.
Meski berujung tak berbelanja, dia kadang tetap mampir membeli roti atau minuman.
Hal serupa juga dilakukan Sani (29). Untuk urusan berbelanja, dia memilih melakukannya di toko daring lantaran dinilai lebih terjangkau. Sani biasanya pergi ke mal hanya untuk menemani anaknya bermain atau sekadar makan. Sani biasa menyiapkan sekitar Rp200 ribu-Rp300 ribu untuk anaknya bermain mandi bola dan makan.
“Kalau bandingin harga, paling lebih ke sandal aja atau sepatu. Kalau baju, hampir udah gak pernah beli brand di mal, kecuali pas lebaran aja. Misal mau beli sandal atau sepatu di mal, terus lihat dulu harga di online-nya berapa. Kalau lebih murah, ya beli di online,” kata Sani saat dihubungi Tirto, Kamis (31/7/2025).

Mal andalan Sani adalah Festival Citylink dan Miko Mall di Bandung dekat dengan rumah dan memiliki tempat mandi bola yang murah meriah. Faktor lokasi rupanya memang banyak menjadi pertimbangan masyarakat untuk pergi mal.
Seperti Sani dan Zee, Nadia (26) juga mengaku pergi ke mal sepekan sekali karena jaraknya dekat. Mal bagi Nadia adalah tempat berjalan-jalan, meski sesekali menjadi tujuan untuk belanja barang kebutuhan.
Sembari membeli barang yang dibutuhkan, Nadia sering kali melakukan window shopping atau sekadar melihat-lihat produk—bahkan produk yang dia yakin tak akan mampu dibeli.
“Banyak sih yang suka aku lihat. Paling suka keliling lihat per-skincare-an, kayak serum yang mahal-mahal dan gak bisa dibeli, fashion essential kayak atasan, bawahan, kacamata, topi, terus bodycare, scrub, terus parfum, buku-buku, komik. Kadang, alat rumah tangga juga kayak vacuum cleaner, blender, humidifier, kompor, gitu-gitu deh,” cerita Nadia yang kini berdomisili di Bekasi, Jawa Barat.
Dia bilang, melakukan window shopping sudah cukup membuatnya puas. Kegiatan itu tak merugikan lantaran Nadia bukan orang yang mudah tergoda atau sering belanja secara impulsif. Jika harus membeli sesuatu, Nadia pasti akan merencanakannya terlebih dulu.
“Sebenarnya, kadang kebanyakan jajannya sih. Kalau lagi gak ada makanan atau males masak di rumah, ya aku sama mamaku ke mal makan malem atau makan siang. Kadang, kalau makanan lagi banyak di rumah, kita ya jajan-jajan minum aja,” kata Nadia.
Apa yang dilakukan Sani, Zee, dan Nadia kini tengah jadi perbincangan publik. Itu menggambarkan fenomena yang disebut “rojali” atau “rombongan jarang beli”. Namun, jauh sebelum kata rojali mengemuka, kita sebenarnya sudah familiar dengan istilah window shopping. Dan, rojali atau window shopping pun sebenarnya bukan fenomena baru.
Low Season yang Terlalu Panjang
Fenomena rojali kini mengemuka lagi dan disebut menggambarkan daya beli masyarakat yang melemah. Ia dianggap sebagai salah satu biang menurunnya omzet pusat perbelanjaan.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyatakan bahwa pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini ditaksir hanya mencapai 10 persen, jauh dari target awal di kisaran 20 persen-30 persen.
“APPBI memprediksi 2025 ini tetap tumbuh dibandingkan tahun lalu, tapi tidak signifikan. Paling single digit, artinya kurang dari 10 persen, tapi tetap tumbuh,” terang Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, di sebuah pusat perbelanjaan di Cililitan, Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Menurut Alphonzus, daya beli masyarakat tertekan gara-gara kondisi perekonomian global yang tak menentu. Itu diperparah dengan low season di tahun ini yang lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah Idulfitri yang menjadi peak season jatuh di awal tahun.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, sepakat dengan pendapat Alphonzus. Dia bilang, setelah lebaran, masyarakat lalu harus bersiap memasuki musim anak masuk sekolah. Akibatnya, para orang tua lebih memilih mendahulukan kebutuhannya yang benar-benar prioritas.
“Dalam keadaan bagaimanapun, manusia secara umum, termasuk kita semua di sini, kan perlu hiburan. Nah, tinggal cari bagaimana hiburan itu efektif, tapi juga efisien. Saat ini, sasarannya emang ke sana [window shopping]. Begitu kira-kira adanya Rojali,” kata Solihin kepada Tirto lewat sambungan telepon, Kamis (31/7/2025).

Meski ke mal hanya untuk window shopping sebagai hiburan gratis, masyarakat setidaknya tetap menggunakan uangnya untuk kulineran.
Aktivitas belanja sebenarnya tidak benar-benar menurun drastis. Hanya “lapak” transaksinya saja yang kini bergeser, yakni ke toko-toko daring. Itu dibuktikan dengan volume penjualan daring yang meningkat.
Meski begitu, menurut Solihin, peningkatan penjualan di toko daring memang belum bisa melebihi penjualan luring.
“Memang sekarang ini menunjukkan ada peningkatan di penjualan online. Tapi, tidak melebihi dari offline yang selama ini ada. Bahwa [penjualan daring] itu akan meningkat, iya,” terang Solihin.
Dulu, masyarakat masih dihinggapi keraguan karena khawatir barang yang dia beli secara daring tidak sesuai ekspektasinya. Namun, kini, kepercayaan masyarakat pada toko daring telah tumbuh subur.
Merujuk pada laporan Outlook Ekonomi Digital 2025 yang dirilis CELIOS, transaksi perdagangan daring pada 2024 diprediksi sebesar Rp468,6 triliun, naik sebesar 3 persen ketimbang tahun sebelumnya yang di level Rp453,7 triliun. Sementara untuk 2025 ini, transaksi perdagangan daring diproyeksi merangkak naik ke kisaran Rp471 triliun.
Mal sebagai Tempat Jalan-Jalan dan Berkumpul
Fenomena rojali sebenarnya bisa dilihat lebih dari sekadar persoalan ekonomi. Itu adalah juga menunjukkan bagaimana warga memanfaatkan ruang sosial. Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, mengatakan bahwa kita barangkali harus kembali ke konsep awal mal sendiri.
Sebelum ada mal, masyarakat mengenal istilah plaza yang berasal dari bahasa Italia dan berarti “tempat berkumpul”. Jadi, menurut Rissalwan, konsep utama mal memang bukan sekadar tempat berjualan.
“Konsep mal yang saya pahami, kalau di Australia, itu adalah tempat berjalan kaki, tapi orang akhirnya berjualan di situ. Jadi, konsep dasar mal itu sebetulnya bukan tempat jualan. Ada orang berjualan, tapi itu kan untuk memenuhi kebutuhan orang yang jalan. Sama kayak car free day, karena ada orang jualan kan, tapi yang berjualan adalah orang jalan kaki. Jadi, kalau saya kira harusnya kembali ke situ,” kata Rissalwan kepada jurnalis Tirto, Kamis (31/7/2025).
Bagi orang Indonesia, pergi ke mal, melihat-lihat dan mendinginkan diri barangkali sama fungsinya dengan datang ke Kebun Binatang Ragunan. Dengan kata lain, mendatangi mal sama dengan berwisata.
“Datang ke satu tempat, terus hanya sightseeing ya, jalan kaki, lihat-lihat. Tapi, kalau haus, ada tempat jual minum. Kalau dia mau beli kaus, ada yang jual kaus, souvenir, dan sebagainya. Jadi, untuk belanja kebutuhan itu mungkin sudah tidak ke situ lagi kayaknya,” lanjut Rissalwan.
Dia juga berpendapat bahwa para rojali mungkin memang tak ada niatan untuk berbelanja, tapi mungkin juga mereka ke mal untuk maksud lain. Misalnya, untuk kulineran. Dengan begitu, setelah makan, mereka akan keliling-keliling.
“Ini psikologis pembeli ya. Sebetulnya lihat, tertarik, harga masuk, pasti dia beli gitu. Jadi, rojali ini tidak masuk ke dalam urutan tadi tuh. Dia mungkin tertarik, tapi harga enggak cocok, enggak jadi beli gitu. Jadi, karena mal-mal tadi tuh tidak jelas segmentasinya,” kata Rissalwan.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































