tirto.id - Di balik kejamnya peperangan, duka keluarga korban perang di Rusia berlipat ganda karena munculnya fenomena “janda hitam” atau black widow. Mereka disebut orang Rusia sebagai perempuan yang menikahi para tentara rapuh demi uang kompensasi kematian.
Perang antara Rusia dan Ukraina telah berdampak pada memburuknya ekonomi, kekurangan bahan bakar, dan terus bertambahnya nyawa tentara Rusia yang melayang. Namun, di tengah situasi yang serba sulit itu, warga Rusia dibuat makin jengkel dengan adanya skema penipuan “janda hitam”.
Salah satu korban dari skema penipuan ini adalah Maria, seorang perempuan 37 tahun asal St. Petersburg. Kisahnya sebagai korban penipuan janda hitam dilaporkan oleh CNN pada Kamis (6/8/2026).
Maria merupakan anak dari pria 59 tahun bernama Yury yang berprofesi sebagai tentara Rusia. Sekali waktu, Maria menerima pesan pemberitahuan dari militer. Yury sebagai tentara garis depan telah tewas karena luka tembak.
Hal itu mengejutkan Maria. Ia tak pernah tahu ayahnya ikut serta dalam perang.
“Awalnya, rasanya seperti mimpi. Bahkan sekarang, terkadang saya terbangun dan berpikir bahwa saya pasti hanya bermimpi. Tapi ini benar-benar terjadi,” tutur Maria.
Akan tetapi, keterkejutan tak sampai di situ. Dalam pesan resmi militer, disebut pula bahwa Yury meninggalkan seorang istri berusia 37 tahun yang baru dinikahi ayahnya dua hari sebelum terjun berperang.
Maria syok karena perempuan yang disebut sebagai istri Yury itu sama sekali tak ia kenali. Perempuan tersebut bukan ibunya, bahkan Maria mengatakan Yury tak pernah menceritakan hal ini kepadanya.
“Saya tidak tahu harus berkata apa kepadanya karena saya langsung curga itu penipuan,” katanya.
Kecurigaan Maria itu muncul bukan tanpa sebab. Ia bukan satu-satunya keluarga korban perang yang mengalami peristiwa serupa di Rusia.
Kasus Janda Hitam Makin Banyak
Sejak tahun lalu, pemberitaan di Rusia diramaikan dengan maraknya fenomena penipuan janda hitam. Mereka dituduh sebagai penipu yang menikahi tentara rekrutan perang demi mendapatkan santunan kematian negara ketika mati di medan pertempuran.
Selama ini, Rusia telah menerapkan aturan pemberian santunan kematian kepada setiap tentara yang terbunuh di medan perang. Kerabat terdekat tentara yang mati akan diberikan uang kompensasi yang bervariasi, mulai dari 5 juta rubel atau sekitar Rp1.1 miliar.
Seiring penerapan aturan ini, pemerintah Rusia juga belakangan gencar mendorong para prajuritnya untuk menikah. Terdapat kampanye pro-pernikahan yang dilakukan dengan mempermudah proses pernikahan bagi tentara sejak Perang Rusia-Ukraina pecah.
Kremlin tak menjelaskan secara spesifik alasan dibuatnya kampanye tersebut. Namun, hal ini diduga dilakukan agar para prajurit mendapat motivasi lebih saat berada di medan tempur.
Jumlah uang santunan bagi keluarga tentara yang mati dan urgensi Kremlin untuk membuat para tentara memiliki keluarga, justru jadi target para penipu. Dilaporkan, banyak tentara yang telah dijerat untuk menikah secara sah menurut hukum sebelum terjun berperang.
Salah satu kasus yang paling ramai dibicarakan pada tahun lalu adalah seorang janda hitam yang berprofesi sebagai perawat rumah sakit militer. Ia dituduh menikahi lima tentara dengan luka parah yang sedang ia rawat demi mendapatkan tunjangan kematian.
Dalam kasus lainnya, sebuah kasus jamda hitam sampai harus diintervensi oleh pengadilan Rusia. Kasus ini bermuara pada tewasnya seorang tentara Rusia bernama Georgy Kostyrko.
Kostyrko baru saja melangsungkan pernikahan saat sedang menikmati cuti singkat dari garis depan. Dalam beberapa hari libur itu, ia menikah dengan seorang perempuan bernama Angelina Varyukhina.
Anehnya, Varyukhina menikah dengan Kostyrko hanya selang 10 hari setelah perkenalan mereka secara online. Keduanya juga hanya bersama dalam waktu singkat sebelum Kostyrko kembali ke medan pertempuran dan akhirnya tewas.
Tak lama setelahnya, Varyukhina kedapatan mengunggah foto dan video bersama pria lain di media sosial. Sebenarnya, Kostyrko pun sempat menggugat cerai istri yang baru ia nikahi itu. Namun, Kostyrko telah tewas sebelum dokumen perceraiannya sah.
Ibu Kostyrko lalu tak terima dengan tindakan Varyukhina dan menuduhnya sebagai penipu janda hitam. Pengadilan kemudian memenangkan gugatan ibu Kostyrko dan status Varyukhina sebagai pewaris kompensasi korban perang dibatalkan.
Aksi Janda Hitam dari Mandiri Berubah Jadi Sistematis
Semula, para janda hitam dilaporkan sebagai penipu tunggal yang beroperasi secara mandiri. Namun, seiring penyelidikan resmi yang dilakukan kemudian hari, terungkap adanya skema penipuan sistematis terpisah yang melibatkan anggota militer.
Media Rusia telah melaporkan adanya penyelidikan khusus yang dilakukan pada tahun lalu di Primorsky Krai terkait dugaan skema penipuan janda hitam tersistematis. Ada keterlibatan pihak militer di dalam sistem penipuan ini. Seorang petugas surat perintah, sersan, dan akuntan militer diduga telah membuat skema sistematis dalam menjodohkan para tentara lajang.
Para tentara lajang itu dinikahkan dengan rekanan tiga petugas militer itu. Setelahnya, para tentara yang dinikahkan dikirim ke lokasi pertempuran berisiko tinggi yang meningkatkan potensi terbunuh karena pertempuran.
Fenomena ini meresahkan masyarakat Rusia, terutama para keluarga tentara. Hal ini juga turut menjadi perhatian Leonid Slutsky, anggota parlemen Rusia yang terkemuka dan dikenal kritis.
“Keluarga para peserta Operasi Militer Khusus membutuhkan perlindungan dari penjahat yang berani, dari yang disebut 'janda hitam,' dari penipu keuangan dan telepon serta predator yang menargetkan mereka yang telah menerima pembayaran uang,” kata Slutsky.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































