tirto.id - Bulan September 2026 akan menghadirkan deretan fenomena astronomi yang menarik untuk diamati dari Bumi. Sepanjang September, Bulan bakal tampak berdekatan dengan beberapa planet terang, mulai dari Mars, Jupiter, Venus, sampai Saturnus.
Selain itu ada fase Bulan Baru, ekuinoks September, Bulan Purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon, serta rasi Cassiopeia yang kian mudah dikenali di langit malam.
Akan tetapi waktu terjadinya fenomena astronomi tidak selalu sama dengan waktu terbaik untuk pengamatan dari Indonesia. Posisi objek terhadap horizon, waktu terbit dan terbenam, serta polusi cahaya juga turut menentukan kualitas pengamatan.
Berikut daftar fenomena astronomi yang bisa jadi tontonan langit selama September 2026, merujuk kalender astronomi NASA dan Timeanddate.
1. Konjungsi Bulan dan Mars - 6 September 2026
Fenomena pertama terjadi pada 6 September 2026, ketika Bulan dan Mars tampak berdekatan di langit. NASA mencatat konjungsi Bulan-Mars berlangsung pukul 18.24 UTC atau sekitar 01.24 WIB, pada 7 September 2026.
Meski waktu konjungsi berlangsung setelah tengah malam waktu Indonesia, pengamatan tidak harus berpatokan pada detik terjadinya konjungsi. Menarik untuk diamati kedekatan kedua benda langit tersebut dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Pada periode ini, Bulan berada dalam fase sabit tua atau waning crescent. Bulan hanya menyisakan sebagian kecil permukaan bercahaya, membuat Mars lebih mudah jadi titik pembanding di dekatnya.
2. Konjungsi Bulan dan Jupiter - 8 September 2026
Dua hari usai bertemu Mars, Bulan kembali mendekati planet lain. Kali ini Jupiter jadi pasangan Bulan pada 8 September 2026. NASA mencatat konjungsi Bulan-Jupiter berlangsung pukul 18.13 UTC, atau sekitar 01.13 WIB, pada 9 September 2026. Timeanddate menyebut peristiwa ini sebagai salah satu close approach penting pada awal September.
Dari Bumi, Bulan dan Jupiter bakal tampak berdekatan di langit sebelum Matahari terbit. Bulan saat itu sudah menjadi bentuk sabit yang sangat tipis, karena semakin mendekati fase Bulan Baru.
Sebaliknya, Planet Jupiter merupakan salah satu objek paling terang di langit malam, sehingga bisa jadi titik yang relatif mudah ditemukan.
Hal menarik dari peristiwa ini adalah okultasi Jupiter dari beberapa wilayah tertentu. Okultasi terjadi ketika Bulan tampak melintas di depan Jupiter dari sudut pandang pengamat di Bumi.
Fenomena tersebut bukan berarti Bulan benar-benar mendekati Jupiter secara fisik. Jarak kedua benda langit tetap sangat jauh karena Bulan mengorbit Bumi, sedangkan Jupiter mengorbit Matahari.
Karena Bulan makin tipis jelang fase Baru, cahaya Bulan tidak terlalu mendominasi langit. Kondisi tersebut juga membuat Jupiter lebih mudah dibedakan. Pengamatan dengan mata telanjang sudah memadai untuk melihat keduanya sebagai dua titik terang yang tampak berdekatan.
3. Bulan Baru - 11 September 2026
Fase Bulan Baru menjadi salah satu peristiwa astronomi pada September 2026. Berdasar kalender NASA, Bulan Baru mencapai fase tersebut pada 11 September pukul 03.27 UTC. Jika dikonversi ke waktu Indonesia bagian barat, berlangsung pada 11 September 2026 sekitar pukul 10.27 WIB.
Ada satu hal penting dalam memahami fenomena ini. Fase ini merupakan periode ketika sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapat penerangan Matahari yang cukup, hingga terlihat sebagai piringan bercahaya.
Meski tidak bisa jadi tontonan langsung, Bulan Baru memiliki arti penting bagi pengamatan langit. Ketika cahaya Bulan sangat minim, maka langit malam menjadi lebih gelap, sehingga objek-objek redup bisa terlihat lebih jelas. Kondisi ini membuat pengamat bisa melihat bintang, gugus bintang, atau bagian tertentu dari Bima Sakti lebih jelas.
4. Konjungsi Bulan dan Venus - 14 September 2026
Bulan kembali bertemu planet lain pada 14 September 2026. Kali ini Bulan akan tampak berdekatan dengan Venus. NASA mencatat konjungsi berlangsung pukul 11.10 UTC, atau sekitar 18.10 WIB. Timeanddate menempatkannya sebagai salah satu peristiwa langit yang bisa diamati setelah Matahari terbenam.
Fenomena ini menarik, karena Venus merupakan salah satu benda langit paling terang setelah Matahari dan Bulan. Bahkan ketika langit belum sepenuhnya gelap, Venus bisa terlihat dengan mata telanjang. Pada saat bersamaan, Bulan berada dalam bentuk sabit tipis setelah melewati fase Bulan Baru beberapa hari sebelumnya.
Di Indonesia, waktu pengamatan perlu disesuaikan dengan waktu Matahari terbenam di lokasi masing-masing. Setelah Matahari berada di bawah horizon, Anda bisa mencari pasangan Bulan dan Venus di langit barat, selama tidak tertutup mendung.
5. Ekuinoks September - 23 September 2026
Ekuinoks September jadi peristiwa astronomi penting pada 23 September 2026. NASA mencatat ekuinoks berlangsung pada 23 September pukul 00.05 UTC, sedangkan kalender astronomi NASA mencatat waktunya sekitar 00.06 UTC. Dalam waktu Indonesia bagian barat, peristiwa terjadi sekitar pukul 07.05-07.06 WIB.
Ekuinoks terjadi ketika pusat Matahari melintasi bidang ekuator Bumi. Secara astronomis peristiwa ini menandai adanya pergantian musim. Di belahan Bumi utara, ekuinoks September menandai awal musim gugur, sementara di belahan Bumi selatan menandai awal musim semi. Indonesia di sekitar wilayah ekuator atau garis khatulistiwa tidak mengalami pergantian musim seperti wilayah empat musim.
6. Harvest Moon atau Bulan Purnama - 26 September 2026
Bulan Purnama September mencapai iluminasi maksimum pada 26 September 2026 pukul 16.49 UTC. Jika dikonversi ke waktu Indonesia bagian barat, puncak fase tersebut berlangsung pada 26 September pukul 23.49 WIB.
Bulan Purnama September disebut sebagai Harvest Moon, karena merupakan Bulan Purnama yang paling dekat dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
Bagi pengamat di Indonesia, Bulan Purnama bisa dilihat dengan mata telanjang tanpa peralatan khusus. Tidak seperti fenomena yang hanya berlangsung pada beberapa menit ketika dua objek berada pada posisi tertentu, Bulan Purnama bisa diamati sepanjang malam.
7. Konjungsi Bulan dan Saturnus - 27 September 2026
Setelah mencapai fase Purnama, Bulan akan tampak berdekatan dengan Saturnus di penghujung September. Konjungsi Bulan-Saturnus pada 27 September 2026 termasuk salah satu peristiwa langit utama. Fenomena ini menarik karena Saturnus termasuk planet yang bisa diamati dengan mata telanjang.
Berbeda dengan Bulan yang memiliki bentuk dan ukuran yang tampak sangat jelas, Saturnus akan terlihat seperti titik cahaya. Tanpa alat bantu, pengamat belum bisa melihat cincin Saturnus. Namun keberadaan Saturnus bisa dikenali dengan cara menilik posisinya di antara bintang-bintang dan pergerakannya dari waktu ke waktu.
Timeanddate mencatat bahwa Saturnus semakin terang sepanjang September, karena planet ini mendekati oposisi yang berlangsung pada 4 Oktober 2026.
Oposisi merupakan kondisi ketika sebuah planet luar berada berlawanan arah dengan Matahari, jika dilihat dari Bumi. Ini menjadi waktu yang baik untuk mengamati planet tersebut.
8. Rasi Cassiopeia - Terlihat Sepanjang September 2026
Selain fenomena pada tanggal tertentu, September juga menjadi waktu yang baik untuk mengenali rasi Cassiopeia. Rasi bintang ini dikenal dengan susunan 5 bintangnya membentuk pola huruf W atau M, bergantung pada orientasi di langit.
Cassiopeia berada di langit bagian utara, menjadi salah satu penanda langit yang mudah dikenali. Di wilayah lintang utara, rasi ini bisa bersifat sirkumpolar alias tidak pernah benar-benar terbenam. Kondisinya berbeda bagi Indonesia yang berlokasi lebih dekat dengan ekuator.
Karena posisi Cassiopeia cukup jauh di utara, rasi tersebut akan tampak lebih rendah di arah utara, tidak selalu tampak sepanjang malam dari seluruh Indonesia. Meski demikian, Cassiopeia tetap bisa menjadi objek pengamatan dari Indonesia ketika posisinya berada cukup tinggi di atas horizon utara.
Pengamatan paling baik dilakukan dari lokasi minim polusi cahaya dengan pandangan terbuka ke arah utara.
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id





































